Warisan, Hadiah proses Dan Hadiah tertinggi

Nggak dimana-mana namanya warisan yang berupa materi, entah itu tanah, rumah, uang, dll pasti membuat kisruh para rawuh  alias ribut. Mulai dari kisah-kisah di sinetron seantero indonesia yang isinya adalah perebutan warisan, hingga ke buku-buku novel juga. Bahkan akhir-akhir ini saya mengalami sendiri lho dimana keluarga dari mbah mama saya berebutan tanah warisan sampai-sampai nyewa pengacara. Ck..ck..ck..ck…

Apa hebatnya sih warisan itu ? gimana nggak hebat, warisan mampu membuat orang kaya mendadak, dalam hitungan jam, hari atau minggu langsung menjadi jutawan bahkan milyarder tanpa harus bekerja keras. Siapa coba yang nggak mau kaya mendadak?? Hehehhe.. makanya nggak jarang perebutan warisan akan mengakibatkan kebencian mendalam bahkan dengan saudara kandung sendiri., ngeriii sobbb…

Ada sebuah buku bagus yang baru selesai saya baca, “The ultimate gif” judulnya, memang sudah agak lama keluaran tahun 2009, makanya diobral murah Cuma dengan harga 7.500. mmm… harga yang terlalu murah untuk buku yang saya anggap cukup bagus. Well, di buku ini diceritakanlah seorang pengusaha minyak dan ladang yang membagikan warisannya setelah dia meninggal. Beliau merupakan salah satu teladan pekerja keras yang berusaha dari nol untuk merintis kariernya. Sayangnya di akhir hidupnya beliau sedikit menyesal karena tidak membiarkan anak, cucu dan cicitnya merasakan kerja keras yang membuatnya menjadi teladan itu. Dia menyesal karena hanya membagikan apa yang disebut denga warisan materi.

Namun uniknya ia memilih cicit yang paling muda untuk mendapatkan apa yang disebutnya “warisan tertinggi”, akan tetapi ada proses untuk warisan itu, dimana setiap bulan si cicit harus melakukan setiap proses yang “dibungkus” dengan kata “hadiah” dimana akan dinilai keberhasilannya oleh sang pengacara yang dipercaya oleh kakek buyutnya itu selama setahun. Setiap bulan si cicit akan menerima “hadiah proses” yang berbeda.

Dimulai dengan apa yang disebut “hadiah kerja keras”, si cicit disuruh untuk bekerja di texas menancapkan tiang pancang selama seminggu. Mengeluh ? sudah pasti, si cicit yang terbiasa menikmati hidup santai dan menghamburkan uang itu tentu saja sangat-sangat protes. Tetapi ia ingat akan pesan kakek buyutnya jika sekali saja ia gagal menjalankan tugas itu, maka “warisan tertinggi” tidak akan ia dapatkan.

“hadiah-hadiah” proses setiap bulan ia terima, mulai dari hadiah kerja keras, hadiah uabg, hadiah teman-teman, hadiah pembelajaran, hadiah keliarga, hadiah tawa, hadiah mimpi, hadiah memberi, hadiah bersyukur, hadiah satu hari, hingga hadiah cinta sukses dilalui oleh si cicit tersebut.

Ada saat dimana dia hampir putus asa, ada saat dimana dia hampir menyerah, ada saat dimana ia sangat marah kepada kakek buyutnya, ada saatnya dimana ia berniat untuk undur dari semuanya itu. Tapi satu hal yang dia sadari bahwa hadiah proses yang diterimanya setiap bulan mampu mengubahkan seorang anak manja yang tidak punya masa depan dan tidak menghargai waktu menjadi seorang anak muda yang memiliki tujuan hidup, masa depan dan karakter yang luar biasa.

Si cicit pikir bahwa hadiah proses itulah yang menjadi hadiah proses, sehingga ia tak lagi meminta ataupun memikirkan hadiah tertinggi yang kakek buyutnya sebutkan sejak awal. Tanpa dia sadarm sang pengacara meminta dia kembali ke tempat duduknya untuk mendengarkan hadiah tertinggi yang akan diberikan kakek buyutnya.

Yah, pada akhirnya, si cicit mendapatkan warisan materi yang jauh melebihi warisan siapapun yang disebutkan si  kakek buyutnya dalam surat wasiat. Ia mendapatkan kepercayaan untuk mengelola segala yayasan dan peninggalan materi kakek buyutnya. Amazing,,,,,

Satu hal yang aku dapatkan dari buku ini adalah, keyakinan bahwa Allah meninggalkan surga untuk datang menebus dan menyelamatkan kita dengan jalan calvari adalah untuk memberikan kita warisan tertinggi yaitu kebersamaan kita dengan Dirinya di dalam surgaNya. Hanya saja sebelum Dia memberikan warisan tertinggi itu, dia meminta kita untuk membuka setiap “hadiah proses” yang diberikan kepada kita dalam setiap perjalanan hidup kita.

Entah itu hadiah kesedihan, atau hadiah kesenangan, hadiah kehilangan atau hadiah menemukan, hadiah air mata atau hadiah tawa, yang jelas setiap proses dalam hidup kita pasti selalu Tuhan bungkus dengan kertas kado indah berwarna-warni dan pita di atasnya.

Tujuan utamaNya bukan untuk menguji kita, bukan untuk mempermainkan kita, melainkan untuk mempersiapkan kita untu menerima warisan tertingginya. Mempersiapkan kita untuk menjadi bagian dari kerajaanNya, mempersiapkan kita untuk layak disebut sebagai anakNya. Dan yang jelas mempersiapkan kita untuk siap menyandang status anak Raja.

Jadi siapkah kita dengan semua “hadiah proses” yang Tuhan berikan sampai tiba waktunya kita menikmati hadiah tertinggi??

 

 

 

Be ready and be blessed.

©ksw_050112

LUMPUH TOTAL

Suatu ketika ada seorang mapan yang memang sudah sukses dalam hidupnya mengeluhkan sakit di punggungnya.  Sakit itu sering kambuh dan sekalinya sakit bisa membuat dirinya tidak dapat melakukan apa-apa. Ketika berobat ke dokter, sang pria tersebut mendapat nasihat supaya harus beristirahat  2 hari untuk memulihkan punggungnya.

 Saran dokter itu dituruti, ia mengambil cuti sehari untuk dapat beristirahat, tidur seharian tepat seperti yang dokter itu anjurkan. Dirasa masih sakit punggungnya, ia mengambil cuti lagi sehari karena dipikirnya toh masih sakit ini, biarlah beristirahat sejenak badannya. Dirasanya masih sakit, ia mengambil cuti lagi sehari hingga tidak terasa sudah seminggu penuh dia cuti dan tidur seharian.

Merasa nikmat untuk beristirahat daripada harus bekerja keras, akhirnya ia putuskan untuk keluar dari pekerjaannya dengan alasan sakit dipunggungnya itu.

Seminggu berlalu, sebulan berlalu, bahkan setahun berlalu, sang pria hanya mengeluhkan sakit di punggungnya sembari rebahan di tempat tidurnya. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya sakit punggungnya sudah hilang sejak ia beristirahat pada hari kedua.

Setelah setahun tiga bulan hanya rebahan di tempat tidur dan tidak melakukan apapun, tiba-tiba ia merasa sakit sekali, bukan hanya di punggungnya, tetapi di sekujur tubuhnya, dan saat ia mencoba menggerakan tangan dan kakinya, yang ada adalah sakit yang lebih lagi, saat mencoba untuk bangkit, yang ada adalah rasa sakit yang tidak kalah hebatnya. Frusatasi sembari menahan sakit, ia menelepon dokter yang dahulu pernah memberikan nasihat mengenai punggungnya.

Ketika dokter datang, dan tau bahwa sudah setahun tiga bulan si pria ini hanya tidur di tempat tidurnya saja kerjaannya, maka sembari menggelengkan kepala dan sedikit sedih ia berkata kepada pria ini, “ Pak, kan saya bilang hanya istirahat 2 hari saja, kenapa jadi setahun begini. Dan tahukah bapak bahwa tubuh bapak saat ini jauh lebih lemah daripada saat saya suruh bapak untuk beristirahat. Saat ini, dengan berat hati saya katakan bahwa bapak mengalami gejala KELUMPUHAN TOTAL…”

….

Guys, tahukan bahwa istirahat itu memang penting, tetapi istirahat yang berkepanjangan itu berbahaya, dapat melumpuhkan, dapat membuat mandul, dapat membuat malas, dan dapat menghilangkan potensi diri kita. Bukan saja mengenai badan yang capek lho, tetapi tanpa kita sadari, kita juga sering merasa lelah dengan semua yang Tuhan anugrahkan kepada kita, contohnya talenta. Seringnya dan padatnya pelayanan membuat kita mengeluhkan kepada Tuhan bahwa kita lelah, butuh istirahat sesekali, butuh waktu luang terbebas dari pelayanan, butuh waktu sendiri, dan butuh bla..bla..bla.. lainnya.

Sehari istirahat, dua hari istirahat, tanpa kita sadari akhirnya kita “resign” dari pelayanan kita, dan memilih melayani nafsu dan egoisme kita sendiri. Kita berhenti menjadi WL untuk Tuhan, berhenti bermain musik di greja, berhenti menulis hal-hal yang memberkati, berhenti datang ke rumah Tuhan, berhenti bersaat teduh, berhenti berdoa, dan hanya sibuk mengejar apa yang menjadi daya tarik dunia. Well, isitrahat nampanknya di salahartikan.

Semua orang pasti punya alasan untuk beristirahat dari apapun, tetapi jarang sekali orang yang mau kembali dari “istirahatnya” itu untuk kembali beraktifitas, kembali menjadi berkat dan kembali melayani. Why ?? karena istirahat itu nyaman guys, karena istirahat itu nggak perlu melakukan apapun, karena istirahat itu ueeenakk tenan…

But rest is dangereous, why ??  Karena saat kita terlena dengan isitirahat kita bisa-bisa kita menjadi LUMPUH….. Lumpuh badan kita, lumpuh semangat kita, lumpuh potensi kita, Lumpuh jiwa kita, Lumpuh talenta kita, Lumpuh hati kita, dan bahkan lumpu rohani kita.

Klo sudah LUMPUH semuanya, berbahaya… karena kita hanya akan meratapi kelumpuhan kita dan berharap untuk cepat-cepat Rest in peace…. Ngeri sobb…

Jadi sebelum kelumpuhan total menghinggapi kita, yuk kita bangunkan diri kita dari istirahat yang merusak, bangunkan jiwa kita, bangunkan semangat untuk pulih dari dalam diri kita, kembali latih dan lakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita, kembali aktif ke dalam pelayanan dan persekutuan, dan minta Tuhan untuk membangkitkan kerohanian kita yang sudah keburu loyo.

Nggak ada salahnya di awal tahun 2012 ini kita jadikan sebagai titik awal dari semangat yang baru untuk tidak lagi “membenarkan” istirahat yang berkepanjangan apalagi istirahat untuk ikut Tuhan.

Mari bangkit dan kembali bersinar, menyinari hati-hati yang hampir lumpuh karena kegelapan…

Be Blessed and God Bless

©ksw _040112

 

NB: penulis juga sedang berusaha bangkit dari “istirahat yang berkepanjangan” lho.. hehehe…

Wow, banyak banget lauknya…

Ada yang pernah mencicipi hidangan nikmat ala angkringan ?? yap, namanya nasi kucing, makanan favoritku dan tempat nongkrong favorit juga. Tempat makan ala kadarnya yang hanya beratapkan tenda sederhana yang setia hadir setiap malam.

Penasaran dengan menu andalannya dan namanya ?? hehehhhe… kebanyakan orang pasti bingung kok namanya nasi kucing, tapi jangan salah sangka, nasi kucing itu bukan nasi plus daging kucing (weeewww….), tapi nasi yang porsinya biasa untuk kucing. Lha kok disamain sama kucing, kan kita orang ?? nah disitulah uniknya, nasi yang hanya segenggam tangan orang dewasa, ditambah sambal plus ikan asin/banding secukupnya, persis kalo kita memberi makan kucing. Dijamin mantabb deh…

Tapi nggak cukup nasi aja, di angkringan itu disediakan berbagai lauk mulai dari goreng-gorengan, bihun goren, tahu/tempe bacem, telor dadar, sate-satean aneka rasa, kepala ayam, dan lain-lainnya. Harga lauknya juga bervariasi juga dari yang paling murah hingga termahal. Enaknya lagi kita bebas mengambil lauk mana yang mau kita pilih untuk menemani nasi kucing yang tersedia untuk kita.

Nasi kucing relatif murah kok, tapi ada “tapinya”….hehhehehhe… maksudnya akan murah klo kita memilih. Mengambil menunya yang murah-murah dan sewajarnya. Misalnya nasi kucing satu plus bakwan satu, yah tentu aja murah. Tapi klo kita makan nasi kucing 3 ditambah gorengan 5 ditambah tahu bacem 10, sate atinya 5, sate parunya 3, sate kikilnya 5, bihun goreng 2, sate usunya 10, dan pala ayamnya 5, owww pastinya bisa dipastikan harganya sama dengan paket komplit ala KFC bahkan bisa lebih mahal. Lho kok bisa ?? ya iya donk, masa kita ngambil lauk nggak pake bayar sih. Ngambilnya mank boleh sepuasnya, tapi jangan lupa bayarnya donk klo udah puas. Jadi setiap lauk atau nasi kucing yang kita ambil, masing-masing ada harga yang harus dibayar, klo udah kenyang jangan lupa bayar….hehehhehehhe….

Lagi-lagi tentang pilihan deh, kali ini secara sederhana aku belajar dari warung angkringan itu. Ada harga yang harus dibayar saat kita membuat sebuah pilihan, ada resiko yang harus ditanggung, ada akibat yang akan dan pasti terjadi. Dan harusnya sebagai manusia yang bijaksana dan tentunya sebagai anak Tuhan, kita harus sadar akan hal itu.

Sama seperti saat kita duduk diperhadapkan dengan berbagai pilihan lauk yang tersedia di depan kita, maka dalam hidup ini, kita ibarat diperhadapkan dengan “menu-menu” dan “lauk-lauk” yang harus kita pilih untuk segera kita nikmati. Setiap pilihan akan menentukan masa depan, setiap “lauk” akan menentukan kenyang tidaknya kita. Pilih kuliah dimana dan jurusan apa, pilih mau ngelamar kerja dimana, pilih mau resign atau melanjutkan kerja di tempat yang sekarang, memilih untuk menjadi fulltimer melayani Tuhan atau menjadi seorang professional, memilih mau berkarir atau mau menjadi wirausahawan, memilih jauh dari keluarga atau dekat dengan keluarga, memilih untuk berkeluarga atau untuk hidup selibat, memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita, dan masih banyak hal lain yang menjadi “menu-menu” dan “lauk-lauk” dalam hidup ini. Kita bebas untuk memilih, sepuas-puasnya untuk menentukan jalan hidup kita, untuk menentukan masa depan kita. It’s a freewill.

Tapi ada yang perlu diingat, bahwa setiap “menu” itu memiliki harga masing-masing yang harus dibayar. Ada akibat yang harus ditangung, ada konsekuensi yang mengikuti kebebasan kita untuk memilih. Dan harga itu HARUS dibayar, entah kita “menghabiskan” nya atau menyisakannya. Yang jelas saat “lauk” itu sudah berada ditangan kita, saat itulah harga itu mulai diperhitungkan.

Inilah yang harus dipertimbangkan, bahwa saat kita siap untuk memilih “lauk”itu, harusnya kita juga siap untuk membayar harganya. Saat kita siap untuk sepuas-puasnya mengambil “lauk’ ini itu, harusnya kita juga siap untuk puas dengan harga yang harus kita bayar. Masalahnya adalah banyak yang seringkali “kaget” melihat harga yang harus dibayar. Banyak yang tidak puas akan kepuasan yang telah dia lakukan di awal, banyak yang merasa tercekik dengan kebebasan yang dilakukan di awal, dan ada aja yang kecewa dengan keputusan yang telah diambilnya. Pilihan harusnya mendatangkan sukacita bukan kekecewaan.

Kegagalan bukanlah sekumpulan pilihan yang salah kita ambil, tetapi sekumpulan penyesalan atas pilihan yang kita buat. Kadang harga yang dibayar terlalu mahal dari apa yang kita lakukan. Karena itu, harusnya kita bisa bijak dalam memilih dan selalu libatkan Tuhan dalam setiap pilihan kita. Karena Dia yang paling mengerti apa yang kita butuhkan, dan apa yang terbaik untuk hidup kita. Bawa dalam doa setiap pilihan-pilihan dan keputusan yang akan kita ambil, bawa dalam doa juga setiap hal-hal yang membuat kita bingung dan ragu untuk memilih.

Satu hal lagi, jangan takut untuk membuat pilihan, dan jangan mudah menyesali pilihan. Karena hidup terdiri dari serangkaian pilihan, seandainya kita tidak memilih, bagaimana kita bisa dikatakan hidup, iya kan ??

Oh iya ada satu pesan lagi, PENTING UNTUK DIINGAT !!! :

“ Kalau lagi stress, emosi atau sedih, diusahakan jangan mampir ke angkringan nasi kucing, karena bisa dipastikan kita akan menggila mengambil segala hal, dan ITU MAHAL !!!!”

Be blessed,

Oleh KSW_foscommunity

Saya akan membacanya BESOK !!!

Jadi ingat ketika seorang temanku memamerkan buku terbarunya, yang dihadiahkan oleh seseorang kepada dirinya. “Saya akan membacanya besok”, itu dia judul bukunya. Ditambah gambar cover depannya adalah orang yang sedang bermalas-malasan sambil memandangi sebuah buku. Unik banget kan !!

Lucunya lagi, waktu aku tanya ke dia apakah bukunya udah di baca atau belum, ternyata jawabannya adalah BELUM !!! Alasannya sederhana, dari judulnya, hahahahhahha…. Ada-ada aja deh…

Karena penasaran nggak dapet pinjaman tuh buku dari dia, aku berusaha mencari di toko buku terdekat, dibeli ?? tentu saja tidak, hanya untuk baca sekilas alias baca gratis..hehehhe… Begitu aku baca buku itu sekilas, ternyata memang isinya mengenai penundaan dan bagaimana cara orang yang malas supaya tidak malas lagi. Tetapi sepertinya yang lebih banyak baca buku itu orang-orang yang rajin dan suka baca buku deh, soalnya jarang orang yang malas suka baca buku, sukanya mah tidur kan, hehhhehehe…

Jangan merasa tersinggung dulu, aku rasa kemalasan hampir pernah dirasakan semua orang deh, bahkan mungkin orang nomor satunya U.S.A Barrack Obama pastinya pernah merasa malas dan memiliki sifat ini. Jadi kayaknya nggak ada yang luput atau kebal dengan yang namanya kemalasan.

Ibarat surat dengan perangko, atau yang lebih modern ibarat HP dengan pulsa, kemalasan nggak bisa dipisahkan dengan karakter yang satu ini, yaitu suka menunda-nunda. Kalo udah males, pasti bawaannya ingin menunda-nunda semua hal. Dan kalo udah menunda suatu hal, pasti rasanya males melakukan hal yang lain. Semakin sering kita menunda suatu hal, semakin besar rasa males melekat di diri kita. Dan semakin besar rasa males itu, maka semakin sering kita akan menunda-nunda segalanya. Akhirnya hidup kita hanya berakhir di kamar tidur, tidur terus tanpa tujuan, atau berakhir di rumah sakit dengan kadar gula yang sangat tinggi.

Males dan penundaan itu bersifat permanent dan berlipat ganda, artinya saat kita melakukan suatu penundaan yang berujung pada kemalasan, sifat itu akan terus melekat dan dapat berulang terus menerus di hari-hari kita. Mungkin hari ini hanya menunda satu pekerjaan, tapi aku yakinkan seminggu ke depan, ada lebih dari 100.000 pekerjaan yang kita tunda-tunda, dan akibatnya males udah jadi bagian dari hidup kita.

Jujur aja, sebagai seorang salesman (bahasa kerennya sih marketing eksekutif…hehehe) yang memiliki waktu di luar kantor lebih banyak daripada di kantor, pernah tergoda untuk mencoba mencuri-curi waktu, yah itung-itung istirahat sejenak di rumah sambil menyantap makan siang. Toh kan masih ada banyak waktu setelah makan siang, dan masih ada hari esok. Akhirnya suatu hari, bulat keputusanku untuk mencoba “trik” ini, mampir ke rumah sebentar menikmati empuknya kasur dan nikmatnya makan siang. Ternyata “sebentarnya” itu bukan semenit dua menit, melainkan berjam-jam, yah sampai tinggal bersisa waktu beberapa jam untuk mengakhiri tugas kantor. Dan tebak, hari berikutnya aku melakukan hal yang sama dengan waktu yang lebih lama. Dan dalam seminggu, kemalasan sukses merebut waktu-waktu kerjaku. Hasilnya omset menurun drastis.

Contoh lain, ada sebuah tugas untuk mengirimkan sebuah hadiah. Seperti biasa, namanya alasan untuk malas, selalu ada aja. Padahal kantor pos cukup dekat dari rumahku, paling sekitar 50 langkah dari kamar tidurku, tapi ternyata hadiah itu masih “stand bye” di kamarku. Wahhhh, alhasil seorang sahabatku mengingatkan untuk segera mengirimkan hadiah itu. Lagi-lagi penundaan berakibat pada kemalasan. Akhirnya aku harus mengeluarkan kocek lebih untuk mengirimkan hadiah tersebut seupaya cepat sampai, ditambah dengan surat permohonan maaf setulus-tulusnya, karena mungkin telah mengecewakan seseorang bahkan lebih (maaf yah…..).

Aku yakinkan, bahwa kemalasan itu bukan hal yang asyik. Terlihat asyik tapi nggak asyik, dan ada resiko yang harus ditanggung akibat hal itu. Yang jelas kemalasan dan sifat menunda adalah karakter yang buruk dan bisa menjadi sebuah batu sandungan bagi orang lain. Kemalasan tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Dan rasanya dunia terlalu penuh untuk ditempati oleh orang-orang yang hanya bermalas-malasan saja.

Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak (amsal 6:6)

JLeeebbbb…. Kena deh sama kata-kata sendiri, yah memang akhir-akhir ini kemalasan sedang berkuasa dengan bebas di diriku dan di waktu-waktuku, tetapi saat kutulis artikel ini, ada sebuah komitmen untuk berubah yang menyeruak masuk ke dalam telinga, pikiran dan hati. Yah aku tau, sekali lagi Tuhan mengingatkanku dan membantuku untuk keluar dari karakter buruk ini. Dan aku mau ajak siapapun juga, yang mungkin masih terikat dengan karakter yang satu ini, yang masih suka menunda-nunda sesuatu, yuk kita buat sebuah komitmen pribadi, bahwa kita mau bangkit dan menghancurkan karakter ini. Kemalasan bukanlah karakter Ilahi, kemalasan bukanlah ciri anak Tuhan, kemalasan seharusnya nggak pernah punya tempat di dalam kehidupan para anak-anak Tuhan.

Bagiku, Tuhan menciptakan dan menempatkan aku di dunia ini bukan untuk bermalas-malasan, karena Tuhan juga tidak menciptakan aku dengan bermalas-malasan.

Jadi kapan saat yang tepat untuk kita buat komitmen dan bangkit dari karakter buruk ini ???

SAYA AKAN MELAKUKANNYA SEKARANG JUGA !!!!

Be blessed,

KSW_Foscommunity

Diisi apa yah ??

Sebuah mobil avanza hitam pekat terlihat menepi dan berhenti di depan sebuah warung kecil. Pemilik kendaraan itu turun dari mobil dan mendekati pemilik warung kecil itu.

“ Bang, teh botolnya !!” Suruhnya.

Dibukanya tutup teh botol, diambilnya sedotan dan dikasihkan kepada pemilik kendaraan tadi.

“ Masukin ke situ bang, semuanya. Kalo kurang tambahin aja satu dua botol lagi !!”

Bukannya melalukan yang disuruh, tetapi si pemilik warung malahan melototin mata si pemilik mobil penuh ketidakpercayaan.

“Ahh gila kali nii orang !!” pikir pemilik warung itu.

“Yeeee… malah bengong, cepetan masukin, tenang aja gw bayar smua kok. BURUAN !!!” teriak si pemilik mobil.

Yah, apa daya, si pemilik warung cuma bisa pasrah menuruti perintah si pemilik mobil, sambil geleng-geleng kepala. Si pemilik mobil membayar satu krat teh botol yang dibelinya, masuk ke mobil, dengan tangki mobil yang penuh dengan teh botol.  (manis…manis deh tuh mesin…wkwkwkkwkwkwk).

Apa yang terlintas di kepala kalian, dua kata GILEEEE BENERRRR !!! baru kali ini ada orang gila punya mobil bagus, atau jangan-jangan tuh orang stress di kejar-kejar KPK kali yah… hahhahha…..

Aneh bin ajaib emang, baru kali ini ada mobil diisiin BBT alias Bahan Bakar Teh, bisa keset deh tuh mesin. Jelas-jelas yah yang namanya bahan bakar untuk mobil itu yah bensin, bukannya teh. Yang membuat mobil itu jalan dan berfungsi sebagai alat transportasi yah bensinlah bukannya teh. Lain soal kalau telah ditemukan teknologi baru, mesin berbahan bakar teh manis.

Dijamin, beberapa meter kemudian tuh mobil pastinya berhenti total, karena mesinnya kena “diabetes”, saking kemanisan karena teh. Dan alhasil, rusak deh itu mobil. Walaupun secara tampak depan, samping, atas dan belakang bodinya masih mulus, tapi takkan berguna dengan mesin yang mati karena “diabetes” itu. GILEEE BENERRR !!!

Tapi friends, sadar nggak sadar, ternyata diri kita bisa diumpamakan dengan mobil itu. Mobil yang secara standar SNI-nya harus diisi dengan bahan bakar yang seharusnya, tetapi karena kita berpikir mobil itu milik kita, jadinya dengan seenaknya kita mengisi apapun juga ke tangki bahan bakarnya. Kita merasa (yah kita hanya “merasa”) bahwa hidup ini adalah sepenuhnya “milik gue”, hidup ini kan “hidup gue”, badan ini dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki kan “milik gue”, jadinya mau gue apa-apain yah terserah donk !!!!

Weitttsss, tunggu dulu. Diri kita adalah milik Tuhan, siapa yang sepakat dengan kalimat itu? Ingat bahwa Tuhanlah yang membuat kita ada di dunia ini melalui papa dan mama kita. Dia yang men-design kita serupa dan segambar dengan Dia, Dia yang menaruhkan nafas ke dalam tubuh kita, Dia yang merancangkan masa depan yang luar biasa, Dia yang menempatkan kita di tengah orang-orang yang menyayangi kita dan menempatkan orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita. Dia yang berkuasa menumbuhkan sehelai rambut, memutihkan sehelai rambut, merontok-kan berhelai-helai rambut. Bahkan Dia-lah yang mengambil kita kembali saat kita secara sadar menyerahkan diri kita kepada iblis.  Dia yang menciptakan kita, merancangkan masa depan kita, dan menebus kita.  Dia berkuasa atas kita dan dia menciptakan kita, sepertinya nggak ada alasan untuk menyangkali hal ini.

Hidup kita adalah milik Tuhan, berarti kita harus hidup dan mengisi diri kita dengan standar Tuhan donk. Kalau Tuhan mengharuskan kita mengisi tangki “bahan bakar kita” dengan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan, berarti kita harus menurut. Karena rancangan dan kehendak Tuhan adalah yang paling baik dan paling sempurna di hidup kita.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Yeremia 29:11

Jadi apa yang harus diisi dalam “tangki” kita ?? pastinya sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk diisi di “tangki” kita. Semangat, optimisme, kata-kata positif, pikiran positif, karakter yang senantiasa diperbaharui, belas kasihan, pengampunan dan kasih, aku rasa semua itu terangkum dengan 2 kata yaitu FIRMAN TUHAN. Giat mengisi diri kita dari hari ke hari dengan FIRMAN TUHAN, caranya yah baca kitab suci….. doa tiap hari. Isilah diri kita dengan Firman Selalu karena Semakin banyak hal-hal itu kita isi di “tangki” kita, maka semakin kita dapat menjadi pribadi yang maksimal di dalam Tuhan.

Mimpi tidak akan terwujud dalam satu malam. Karakter tidak akan terbentuk hanya dalam satu hari. Kehidupan tidak hanya untuk satu tahun saja, tetapi terdiri dari tahun-tahun, bulan-bulan, hari-hari, dan detik-detik yang kita jalani di dalamnya. Kehidupan yang positif hanya bisa dicapai kalau kita menjalani detik-detik dengan memasukan hal-hal positif ke dalam diri kita. Kehidupan yang luar biasa, hanya bisa dicapai apabila kita menyadari bahwa “hidupku bukannya aku lagi tetapi Yesus dalamku”.

Kalau Yesus dalamku, masihkah aku akan menuruti nafsu kedaginganku ?

Kalau Yesus dalamku, masihkah aku menuruti ego-ku ?

Kalau Yesus dalamku, masihkah aku menyimpan dendamku ?

Kalau Yesus dalamku harusnya Yesus dimuliakan melalui perkataanku, perbuatanku, pikiranku, dan hidupku.


“so that it is no longer I who live, but it is Christ who lives in me………” Galatians 2:20

KSW_foscommunity

Headline News !!!

Siang ini aku terkejut dengan sebuah berita di salah satu stasiun tivi swasta. Rasa haru langsung mengalir di sekujur tubuhku, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Betapa tidak, baru saja kunyalakan televisi, ternyata ada berita mengenai pengorbanan seorang ibu untuk anak yang dikasihinya. Ibu ini memberikan hatinya untuk anaknya yang sedang sakit. Yah, hati dalam arti sesungguhnya, organ hati milik si ibu akan ditransplasikan supaya anaknya dapat hidup. Sungguh mengharukan.

Kisah pengorbanan seorang ibu terhadap anak yang dikasihinya sering sekali aku baca baik melalui media cetak maupun melalui media elektronik, tapi seringnya itu terjadi di luar sana, di luar negeri, bukan di negeri ini. Dan kali ini, aku melihat dan mendengar, bahkan melihat wajah si ibu dan anakna melalui tayangan televisi. Ketegaran seorang ibu yang bersedia mendonorkan hatinya, apapun resikonya, untuk kelangsungan hidup anaknya. Bukan hanya memberikan hati secara kiasan, tetapi sesungguhnya mendonorkan organ hatinya untuk anaknya.

Sepertinya Indonesia yang kita kenal melalui wajah Koran kriminal ibukota yang terbit setiap pagi sedikit mendapatkan sentuhan kasih. Dimana ada sedikit kasih dan kisah yang menyentuh, bukan lagi berita mengenai kekerasan rumah tangga tetapi kisah mengenai kelembutan hati sayng ibu untuk memberikan hatinya. Ternyata masih ada kasih seperti, kasih yang nyata, kasih yang berkorban, sebuah hati untuk buah hati.

Inilah kasih storge itu, kasih yang terjadi karena ikatan yang sangat kuat antara ibu dan anak. Ketimbang menyelamatkan dirinya sendiri, sang ibu lebih memilih untuk membahayaka dirinya sendiri untuk menyelamatkan buah hatinya. Secercah hati untuk sebuah pengharapan. Kasih yang mau berkorban untuk buah hatinya.

Tetapi akankah hal serupa akan dilakukan seorang ibu/ayah, saat menyadari bahwa yang hendak ditolongnya adalah seorang anak angkat, yang lahir bukan dari perut sang ibu, yang sama sekali tidak ada kemiripan di wajah anak itu. Entah anak siapa, yang pasti anak itu ada dalam pelukannya dan harus segera ditolong. Mungkinkah Koran besok akan tercetak headline berita mengenai seorang ibu yang memberikan hatinya untuk anak yang bukan anaknya ??

Kadang ungkapan kasih harus sejalan dengan pembuktian kasih. Satu hal yang kupelajari dari kasih yang lebih tinggi tingkatannya dari kasih Storge, adalah alasan mengasihi karena ingin mengasihi. Tanpa ada alasan lain, kenal atau tidak kenal, suka atau tidak suka, siapapun dan bagaimanapun itu, kasih itu tetap dinyatakan. Inilah kasih agape. Kasih dari Yesus yang adalah kasih itu sendiri.

Aku bukanlah anakNya, hanyalah anak angkatNya. Karena anakNya yang sesungguhnya telah aku salibkan, yah, Yesus yang aku salibkan. AnakNya yang sesungguhnya telah dikorbankan untuk menyelamatkan aku, manusia yang seringkali membuat dia kecewa, seringkali jatuh dalam dosa, seringkali membuat dia menangis, dan seringkali meragukan kasihNya. Anaknya yang sesungguhnya telah menderita dihina, disiksa, diludahi, dibuat sedemikian hina, dan akhir dari drama penyiksaan itu adalah berujung pada penyaliban. Tetapi kasih tetaplah kasih, dan Yesus menyatakan kasih itu, supaya setiap orang yang percaya diselamatkan, supaya aku menjadi anakNya, supaya aku tersadar akan kekuatan kasih itu. Kekuatan pengorbanan itu.

Mungkin di Indonesia, atau bahkan di dunia ini nggak ada headline Koran yang berjudul “seorang orang tua rela mati untuk anak angkatnya”, tapi aku rasa headline itu selalu muncul di Koran surga setiap hari dan setiap waktu. Karena alasan Dia mengasihi kita adalah karena Dia mengasihi kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

-Itulah tulisan Headline Koran sorga pagi ini –

Be Blessed,

Oleh KSW_Foscommunity

Keluarga..oh…keluarga…

“ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati.

“Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak bisa lari dari kenyataan ini, dan aku nggak bisa membuat papa dan mama berhenti berkelahi !!! “ Kataku dalam hati

Dan tidak berapa lama kemudian, aku bersimpuh penuh air mata, memejamkan mata, berlutut di tepi kasurku, dan hanya mengucapkan sepatah kata “ Tuhan……”

….

“Klik..”

Kutekan tombol berwarna merah pada remote tv-ku, dan berakhirlah cerita di atas. Yah, walaupun hanya sebatas sebuah cerita singkat di sebuah stasiun tv swasta, tapi cerita itu cukup membuat hatiku merinding. Antara bersyukur dan sedih, betapa tidak, agaknya cerita itu sangat nyata, bahkan di dalam dunia ini, terjadi pada sahabatku, temanku, dan tetangga-tetanggaku.

Harta yang paling berharga, adalah keluarga. Masih ingatkan dengan lagu itu, atau mungkin sinetron itu. Dulu aku paling suka dengan sinetron ini, keluarga cemara, karena bagiku inilah sinetron yang bermakna dan memberikan pesan yang dalam, bahwa dalam kekurangan merekapun, mereka tetap memiliki kelebihan, yaitu sebuah keluarga.

Bagaimana dengan kalian, mampukah berkata bahwa memiliki keluarga adalah harta yang paling bermakna, mampukah berkata bahwa keluarga adalah sebuah kelebihan yang kita miliki, mampukah kita berkata keluarga kita adalah sebuah mukjizat ??

Bagaimana mungkin papaku yang suka memaki dan memukuli mamaku bahkan memaksa kakakku menyerahkan gajinya adalah harta yang bermakna, bagaimana mungkin mama yang sering memarahiku tanpa alasan dan sangat cerewet itu dapat dibilang sebuah mukjizat, bagaimana mungkin keluargaku adalah sebuah kelebihan dimana aku merasa tidak ingin dilahirkan di dalam keluarga ini ?? apakah ini yang namanya harta yang paling berharga ??

Aku sangat tau bahwa keluarga cemara itu tidak selalu ada di dalam keluarga kita. Sosok abah yang begitu sabar dan bijaksana ditambah sangat sayang terhadap emak dan anak-anaknya seringkali tidak kita jumpai dalam figur papa kita yang selalu bermuka muram durjana, atau sosok emak yang selalu mensuport abah dan selalu ada untuk anak-anaknya tidak ada dalam figure mamaku yang sangat cerewet itu. Tapi paling tidak kita bisa mengetahui bahwa kita menginginkan keluarga yang seperti itu.

Terkadang saat aku menulis atau bercerita mengenai keluarga, aku sedih, karena ada begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat aku jawab. Bukan karena aku tidak tau jawabannya, tetapi karena aku tidak mengetahui bagaimana rasanya dalam posisi mereka. Pertanyaan atau masalah mereka selalu seputar keluarga yang rusak, yang papa mamanya selalu berantem, selalu terdengar piring pecah atau makian dari balik dapur atau kamar tidur, tidak ada doa-doa kecil dalam keluarga, tidak ada duduk melingkar di ruang keluarga untuk berbagi cerita seharian ini, tidak ada jamuan makan malam bersama atau bersama-sama menikmati makan siang di luar bersama-sama. Aku tidak bisa memberikan jawaban itu kepada mereka, aku tidak bisa berpura-pura merasakan apa yang mereka rasakan padahal sama sekali tidak kurasakan.

Tetapi aku sangat mengerti hal itu, walaupun tidak mengerti bagaimana sakitnya di dalam keadaan itu, tapi aku mengerti bagaimana hancurnya hidup dan hati itu.  Aku tau mungkin ini akan terdengar aneh bagi kalian yang sedang merasakan keluarga yang hampir hancur, tapi percayalah sebobrok apapun keluarga itu, masih lebih baik daripada tidak punya keluarga. Segalak-galaknya papa itu, masih lebih baik daripada tidak punya papa atau kehilangan papa yang galak itu. Secerewetnya mama kalian, masih lebih baik daripada tidak punya mama atau kehilangan mama secara tiba-tiba. Kadang kita akan merasa memiliki saat sudah kehilangan, jadi jangan pernah menghilang atau menghilangkan apa yang telah kita miliki. Pertahankan itu dan tetaplah bertahan, karena aku percaya, bahwa Yesus turut bekerja dan peduli dalam permasalahan keluarga kita.

Bagi kalian yang sedang berjuang untuk keutuhan keluarga kalian, bagi kalian yang sedang berdoa untuk papa dan mama kalian, tetaplah berjuang dan tetaplah berdoa. Akan ada saatnya mutiara indah itu muncul dari balik pekatnya laut, akan ada saatnya mukjizat itu menampakan dirinya di tengah keluarga kalian, dan akan ada saatnya kalian akan dipakai untuk menjadi jalan dan jembatan untuk keluarga kalian.

Dan bagi kalian yang telah memiliki keluarga terindah, telah mendapatkan harta dan mukjizat itu, janganlah lelah untuk mengucap syukur, karena masih banyak yang belum merasakan itu, dan jadilah keluarga bagi yang memerlukan sebuah keluarga.

Satu hal yang aku yakin dari sebuah keluarga, bahwa keluarga bukanlah bagian dari hidup, tetapi itulah hidupmu.

Pesanku,selagi kita bis mendoakan papa, mama, kakak, adik, papa angkat, ama angkat, opa, oma, siapapun itu yang ada dalam keluarga kita, selagi kita bisa, yuk kita berdoa untuk mereka. Sambil kita meresapi sepenggal lagu dari keluarga cemara ini :

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga


Be blessed….

Oleh KSW_Foscommunity

Sindrom ban kempes

Sejenak kuberhentikan motor ke pinggir jalan, sembari menundukan kepala sekuat tenaga untuk sekedar melongok apa yang terjadi dengan ban belakangku. Alasannya sederhana karena sepertinya banku bocor lagi.

Ternyata tidak, ternyata hanya perasaanku, ternyata hanya kecemasan berlebihan dari diriku. Yah, akhirnya kembali aku melanjutkan perjalanan dengan perasaan tenang.

Tetapi tidak beberapa lama kemudian, kegiatan yang sama aku lakukan lagi, hanya saja bukan di pinggir jalan, tetapi di tengah jalan !! Tenang saja, kali ini lampu sedang menyala merah. Kembali ku menunduk sekuat tenaga, melongokan kepalaku sedapat-dapatnya, untuk melihat keadaan ban motorku, kempes atau tidak. Alasanya sederhana, karena aku melihat dua orang pengendara motor di sampingku melakukan hal serupa.

Lagi-lagi itu hanya perasaan cemasku yang berlebihan. Setelah lampu menyala hijau, kulanjutkan perjalanan kembali dengan perasaan tenang.

Kali ini tak dapat kutolak kegiatan yang pertama lagi. Yah, lagi, karena ada dua pengendara motor tanpak kelelahan “menggeret” motornya di pinggir jalan, dengan ban yang bocor. Tapi ternyata lagi-lagi itu hanya perasaan semata dan itu telah membuang waktuku yang berharga selama beberapa menit.

Pengalaman pribadi ?? hehehhehhe… pastinya donk. Yang pernah atau sering mengendarai motor pasti kenal dengan gejala yang nggak biasa ini, yap….. sindrom ban bocor. Kenapa aku namakan sebuah sindrom, karena hampir semua pengendara bertingkah yang sama pada situasi yang sama, dan hampir terjadi dimanapun kapanpun.

Penyebab sindrom ini tidak lain dan tidak bukan adalah ketakutan yang melanda akibat keadaan sekitar dan pengalaman tertentu. Wah, formal amat yah bahasanya…hehhhe… maksudnya gini, kenapa bisa disebut sindrom, karena kebanyakan orang tanpa sadar ataupun dengan sadar akan melakukan hal serupa saat melihat keadaan sekitarnya melakukan hal yang sama (mengecek ban), atau saat kembali teringat pengalaman pahit dengan ban motor.

Ketakutanlah akar dari sindrom ini. Salahkah ketakutan itu ?? oww, aku bisa bilang dengan yakin NGAK SALAH. Karena bukan ketakutannya yang salah, tetapi apa yang dilakukan dengan ketakutan itulah yang akan membedakan. Nah aku menyebutnya ketakutan positif dan ketakutan negatif.

Apa itu ketakutan positif, ketakutan yang nantinya berbuah atau terwujud menjadi tindakan penuh kewaspadaan. Ketakutan berubah jadi kewaspadaan. Nah dengan kewaspadaan ini lambat laun akan timbul kepekaan untuk mengambil tindakan yang tepat. Kewaspadaan inilah yang akan menolong untuk mengalahkan rasa takut itu sendiri.

Trus, klo yang namanya ketakutan negatif itu sangat bertolak belakang dengan ketakutan positif, oh… pasti donk, kan negatif lawannya positif..hehhehe…. Yap, ketakutan negatif ini aku kasih nama kecemasan/kekuatiran. Kenapa dikatakan negatif, karena dampak yang ditimbulkan dari ketakutan ini akan senantiasa membuat kita merasakan ketakutan ini selama mungkin, dan seringnya kita akan bertindak ceroboh, gegabah atau bahkan tidak bertindak sama sekali karena ketakutan ini. Yang berbahaya adalah ketakutan ini bersifat mengikat dan sangat mengendalikan kita. Dari kekuatiran/kecemasan akan timbul yang namanya trauma yang bersifat permanen. Dan dari trauma itulah akan sangat terlihat bahwa bukannya kita yang mengalahkan ketakutan itu tapi ketakutan yang mengalahkan kita.

Dari penjelasan itu, kira-kira klo berhenti sampai 3 kali di jalan raya, sampai membuang waktu bermenit-menit bahkan berjam-jam hanya untuk menyempatkan diri melihat ban yang ternyata tidak apa-apa, ketakutan jenis yang mana yah ???

Klo disuruh milih, pastinya maunya yang positif-lah, biar terlihat dan terproses bahwa kita adalah lebih dari pemenang, setuju ???

Bangkit dan menang setiap hari, karena kita adalah lebih dari pemenang !!!

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

(Filipi 4:6)

Be blessed,

Ditulis oleh KSW

“ciitttttttttttttttttttttt………….”

“ciitttttttttttttttttttttt………….”

Hampir saja aku menabrak mobil yang ada di depanku, yang tiba-tiba berhenti. Rasanya ingin langsung segera turun dan memarahi pengendara mobil itu. Kalau saja tidak ada sebuah bisikan di telinga, mungkin hampir-hampir aku memarahi pak sopir itu.

“Salah kamu lho….”

Bisikan yang lembut tapi benar-benar menyadarkan diriku. Yah memang kesalahanku sehingga terjadi pengereman mendadak itu. Alasan sesungguhnya bukan karena mobil yang sembarangan berhenti di tengah jalan, tetapi karena AKU MELENG. Yah meleng, tidak fokus ke depan, tidak fokus ke jalanan saat sedang menyetir, karena ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku, ada sesuatu yang menarik perhatianku di tepi jalan, dan hampir saja berakibat fatal.

FOKUS !!! itu adalah hal yang sangat penting di jalan raya, mengingat bahwa kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal di jalanan. Fokus liat ke depan, sesekali melihat spion, sesekali membunyikan klakson dan sesekali menginjak rem. Fokus, fokus dan fokus…

Para pengendara motor yang sudah sering mengendarai motornya pasti sangat tau hal ini, bahwa susah sekali untuk bisa fokus, tetap memandang ke jalanan meskipun mata berair, meskipun hati menolak dan meskipun jalanan terlihat selalu sama. Apalagi kalau jalanan itu sudah dilewati berjuta-juta kali. Dan yang lebih susah untuk fokus adalah kalau ada kejadian yang luar biasa yang sedang atau telah terjadi, contohnya ada yang berantem karena senggolan motor, atau ada kecelakaan, atau ada topeng monyet sedang beraksi, atau ada seorang malaikat tak bersayap sedang berjalan di pinggir jalan (hehehehhe..). Yang jelas sungguh sangat susah menetapkan diri untuk tetap fokus.

Fokus dalam Tuhan apalagi, sungguh susah, sungguh berat, makanya nggak heran banyak para anak-anak Tuhan berulangkali jatuh ke dalam dosa yang sama, dan bukan hanya anak-anak Tuhan saja, bahkan para hamba Tuhan-pun ada yang jatuh. Bukan untuk sekali dua kali, dan bukan hanya seorang- dua orang, tapi BANYAK !!!

Dari sekian banyak alasan yang mungkin dibuat, mungkin bisa ditarik sebuah kesimpulan yaitu TIDAK FOKUS. Jadi dapet istilah “meleng rohani” deh. Karena tanpa kita sadar nih, ternyata kehidupan kita di dalam Tuhan itu bisa diibaratkan saat sedang naik motor di jalanan raya. Butuh mata yang tetap memandang ke depan dan sesekali memandang ke spion, butuh tangan yang selalu siaga di stir dan selalu sigap untuk menekan rem, butuh kaki yang selalu siap untuk melakukan pengereman mendadak atau jika perlu turun untuk menjaga keseimbangan, dan butuh pikiran yang jernih. Tujuannya Cuma satu, supaya kita selamat ke tempat yang kita tuju, bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menyelamatkan orang lain juga.

Saat pandangan kita teralihkan, saat pikiran kita menjadi buyar, dan saat kita nggak lagi siaga dan waspada, jadilah kita mendapati diri kita terkapar di jalan raya karena menabarak sesuatu atau seseorang. Dan akibatnya, bukan hanya kita yang cidera, tetapi ada yang turut merasakannya juga. Dan bisa menyebabkan kematian juga lho, bahaya banget deh.

Tempat yang kita tuju adalah kekekalan bersama Yesus, dan saat kita lahir baru adalah saat pertama kali kita bersiap untuk mengendarai motor di jalan raya. Perlengkapanpun sudah terpasang rapi, mulai dari helm, sarung tangan, penutup hidung, jaket kulit bahkan mungkin sepatu boot dan jangan lupa sudah memiliki kelengkapan surat-surat motor dan SIM donk..Nah setelah siap dengan semuanya itu, siaplah kita untuk berkendara di jalan raya. Tapi ingat bahwa “arena” sesungguhnya dari kesiapan itu adalah di jalan raya. Dan saat itulah kita dituntut untuk fokus. Arena sesungguhnya adalah kehidupan kita, godaan akan selalu ada untuk mengalihkan fokus kita. Apapun itu, seandainya sedetik saja kita memandangnya, berbahaya. Fatal akibatnya.

Kadang bukan halangan besar yang ada di hadapan kita yang membuat kita celaka, justru hal-hal sederhana yang tanpa sengaja ada di sekitar kita yang seringkali mengalihkan pandangan kita. Dan hal-hal sederhana ini yang dipakai oleh iblis sebagai musuh utama kita untuk menjatuhkan dan menjauhkan kita dari fokus kita kepada Tuhan. Berapa banyak pria sejati milik Tuhan yang jatuh ke dalam dosa pornografi karena tidak sengaja melihat/mengintip gambar-gambar yang tidak layak dilihat. Berapa banyak wanita bijaksana milik Tuhan jatuh ke dalam dosa karena tidak sengaja mendengar gossip spektakuler mengenai seseorang atau sesuatu. Banyak celah-celah kecil yang mampu menghembuskan angin yang mampu mengalihkan fokus kita. Dan dengan sadar atau tanpa sadar, kita kembali digiring ke dosa-dosa lama yang sebenarnya sudah bisa kita tinggalkan.

Inilah letak kelemahannya, saat kita nggak fokus akan satu hal, maka saat itulah kita sedang fokus dengan hal yang lain.

Jadi apa donk yang harus kita lakukan supaya nggak jatuh lagi ke dalam dosa yang sama ??

FOKUS adalah jawabannya. Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, kunci untuk bebas dari dosa-dosa yang seringkali membelenggu adalah FOKUS, bukan fokus kepada dosanya tetapi fokus kepada kasih karuniaNya yang diberikan kepada kita. Bukan hanya fokus kepada salib, mahkota duri atau paku-paku tajam saja tetapi fokus kepada Siapa yang ada di salib itu. Saat fokus kepada dosanya, maka yang ada kita hanya akan semakin terpuruk dan merasa tidak layak dihadapan Allah, tetapi saat kita fokus kepada kasih karunia itu, makan kita akan mampu dan dimampukan untuk bangkit dan meminta untuk dibangkitkan.

Buatlah diri kita selalu memandang kepada Dia, yang telah mengorbankan diriNya yang mulia supaya kita dijadikan mulia.

Dan jangan sungkan untuk bangkit dari kejatuhanmu, ajukan sebuah doa sederhana, dan jangan pernah “meleng” lagi. Ingat bahwa godaan semenarik apapun harusnya nggak membuat kita tertarik karena kita telah melihat Yesus yang sangat menarik, kuncinya adalah FOKUS kepada kasihNya, FOKUS kepada diriNya !!

Hidupmu sungguh berharga di mataNya…

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;”

(Matius 6:22)

Be blessed..

Ditulis oleh KSW

Cabe atau garam ???

“Jadilah garam dunia”

Itu adalah salah satu pesan Yesus kepada kita semua yang sering kita dengar, sering dikhotbahkan, atau mungkin sering menjadi inspirasi berbagai tulisan. Tujuannya adalah supaya kita menjadi teladan dan memberikan “rasa” dimanapun kita ditempatkan.

Istilah “bagai sayur tanpa garam” membuat fungsi garam terlihat sangat penting. Walaupun harganya terbilang cukup terjangkau atau bahkan ada beberapa yang murah, tetap saja dianggap penting untuk menciptakan atau memperkuat rasa. Begitu pentingnya garam, sampai-sampai seorang ibu akan rela berlari ke toko terdekat untuk membeli garam pada saat dia sedang asyik memasak jikalau garamnya habis.

Rasanya sih memang asin, tapi kalau sudah dipadu dengan berbagai bumbu racikan dan isi yang ada di dalamnya, maka bisa menjadi makanan mewah ala hotel berbintang 5 atau makanan sederhana yang dibuat dengan cinta kasih oleh seorang ibu. Bahkan ada juga lho yang suka “gadoin” garam sebagai camilan di saat iseng,hehehehhhe…

Nah sekarang coba bayangkan seandainya seorang ibu berinisiatif untuk menggantikan kedudukan garam sebagai penyedap dan penguat rasa dengan ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas. Sekadar untuk berinprovisasi, maka garam itu diganti dengan ulekan cabe yang sangat merah merona, dimasukan ke dalam panci sesuai selera (kebetulan selera ibu ini doyan pedas..). Sayur tanpa garam, dan ekstra ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas, apa jadinya yah ? Aku yakin suami beserta anak-anaknya akan segera bergegas untuk pergi ke restoran terdekat tanpa bersuara, hehehhehe…

Dimana-mana kita semua udah tau pastinya bedanya rasa garam sama cabe rawit, sipp…betul sekali, klo garam kana asin, tapi klo cabe rawit pedesnya bukan main. Malahan bisa bikin kita meringis sambil nangis dan sama sekali nggak bikin manis muka kita..hehhehehe… Makanya nggak heran, saat berhadapan dengan makanan ekstra pedas, seringkali kita mengelus-elus perut sambil bilang “Dalam Nama Tuhan Yesus..”

Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan Yesus tidak menyuruh kita menjadi “cabe dunia” tetapi menjadi “garam dunia”. Bukannya untuk “memedeskan” dunia tapi untuk “menggarami” dunia.

“Kok bukannya menjadi garam malah menjadi cabe rawit yang bikin sakit perut yah ?”

Pertanyaan ini terlontar saat aku sedang YM-an dengan salah satu penulis (yang mungkin anda kenal) yang suka “berjualan bakmi di pinggiran jalan” (hehehhe..). Beliau menceritakan mengenai kisah, atau bisa dibilang kesaksian, mengenai seorang yang mendapat siksaan sejak kecil oleh orang-orang yang mengakui dirinya “Kristen”, sampai-sampai dia tidak mau menjadi seorang Kristen dan trauma dengan kekristenan.

Jadi teringat juga dengan cerita Mahatma Gandhi, orang paling berpengaruh di India dan dikalangan penganut hindu di sana, yang kecewa dengan perlakuan orang-orang yang mengaku “Kristen” tetapi sama sekali nggak mencerminkan sikap seperti kristus. Pada akhirnya Mahatma Gandhi kagum kepada Kristus, tetapi kecewa kepada orang-orang Kristen.

Friends, apakah hidup kita lebih pantas disebut sebagai garam atau cabe rawit. Apakah dengan keberadaan kita justru “menyedapkan” lingkungan sekitar kita, atau malah membuat lingkungan kita jadi meringis karena “kepedesan” ?

Berbicara mengenai dampak, itu juga berbicara mengenai karakter kita. Karena karakter itu akan timbul menjadi sikap yang natural saat kita berada di lingkungan kita. Lalu bagaimana dengan karakter kita, apakah itu bisa diteladani ?

Aku seringkali berpikir dan merenung setelah menjalani sebuah hari, pertanyaannya sederhana, “Bagaimana kehadiranku hari ini, apakah menjadi berkat atau kutuk, apakah menjadi teladan atau menjadi sindiran? “

Apakah dengan kemarahanku, orang lain merasa terberkati, atau justru dengan bercandaanku orang lain merasa tersindir dan marah. Selalu ingat, bahwa kita akan selalu disorot oleh dunia, karena kita bukan berasal dari dunia ini. Dan apa yang berasal tidak dari dunia ini akan selalu dilihat oleh dunia ini, entah itu untuk mencari kesalahan atau mencari keteladanan. Berhati-hatilah dalam bertindak, berkata, berpikir, bahkan saat bercanda.

………..Karena kita ini adalah “garam dunia” bukannya “cabe dunia”

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Matius 5:16

Be blessed everyday…

Ditulis oleh KSW

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.