Image

Sebuah pelajaran berharga yang aku dapatkan pagi ini. Diawali dengan membaca bukunya Joel Osteen “Become a Better you” sampai di bab bagaimana kita bisa dan harus menginvestasikan kebaikan dalam menjalin hubungan. Sederhana saja ilustrasinya, sama seperti kita menabung di bank, sudah tentu saat kita akan mengambil sejumlah uang yang kita butuhkan di atm, kita harus memiliki saldo yang cukup untuk pengambilan itu, jika tidak yah tentu saja atm akan menolaknya dan nggak bakalan ada sepeserpun uang yang keluar dari mesin tersebut.

Ternyata yang bisa ditabung ituh bukan hanya uang saja. Menabung perbuatan-perbuatan baik tentu saja sangat perlu. Investasi kebaikan namanya. Namun tentunya prinsip-prinsip yang diterapkan dalam investasi kebaikan jauh beda dengan investasi uang. Dalam menginvestasikan kebaikan, sebisa mungkin kita tidak mengharapkan yang namanya “imbal jasa” atau “bunga”. Dalam investasi kebaikan kita juga nggak bisa menuntut kebaikan dari orang yang telah kita bantu. Dalam investasi kebaikan kita harus tulus dan tanpa pamrih ketika berbuat kebaikan kepada orang lain. Sederhananya adalah dalam investasi kebaikan, sebisa mungkin kita sedikit menuntut tapi banyak memberi. Karena kunci utama dalam investasi kebaikan adalah kerelaan hati.

Trus apa donk yang kita dapatkan dari investasi kebaikan yang menguntungkan kita? Nah ini dia nih pertanyaan yang bakalan sering terlontar, karena kalau mendengar kata investasi sudah tentu berkaitan erat dengan keuntungan, klo nggak untung ngapain investasi kan..hahahha… Bagaimana klo kita mengganti kata keuntungan menjadi berkat. Berkat yang ada di dalam hal-hal yang tak terduga. Contohnya sedikit senyuman dan sapaan untuk tukang parkir selain sekedar memberikan uang dengan muka masam, di lain kesempatan, saat kita mencoba parkir di tempat yang sama dengan kondisi penuh sesak, dengan cekatan tukang parkir yang telah merasakan sapaan hangat dan senyuman tulus dari kita pasti akan mencarikan tempat parkir untuk kita, sesulit apapun itu. Nah berkat sederhana kan dari hal-hal yang tak terduga. Atau ketika mbok-mbok yang suka datang ke rumah untuk pijat sedang kesusahan uang dan meminjam kepada kita sejumlah uang dengan janji akan dikembalikan, pada suatu saat ketika penghuni rumah sedang kelaparan krna nggak ada makanan di tudung saji, tiba-tiba saja si mbok itu datang ke rumah dengan tujuan mengembalikan uang ditambah membawa makanan dan lauk yang cukup untuk dimakan, berkat tidak terduga juga kan.

Nah intinya adalah ketika kita tulus berbuat baik kepada seseorang tanpa mengharapkan si orang tersebut membalas perbuatan baik kita secepatnya atau sesuai kehendak kita, Maka Tuhan yang Maha Kasih sudah tentu melihat dan tersenyum melihat ketulusan hati kita, dan seringnya Tuhan mendatangkan berkat itu melalui hal-hal yang tidak terduga, sederhana dan juga melalui orang yang tidak kita duga juga.

Jadi sebenarnya nggak ada salahnya kok kita berinvestasi kebaikan, walaupun untung yang ada tidak bisa diukur dengan table bunga, anuitas hitungan tahun atau bahkan hitungan keuangan lainnya. Tetapi yang jelas saat kita berinvestasi kebaikan berdasarkan ketulusan maka bersiaplah untuk kejutan-kejutan yang Tuhan berikan tidak terduga kepada kita. Tapi ingat jangan mengharapkan sebuah kejutan, karena kejuta yang diharapkan berarti bukan kejutan donk, dan nggak jarang justru orang yang menanti dan berharap amat sangat sama kejutan itu menuai kekecewaan karena selalu berekpektasi dan berasumsi berlebihan. So make it simple ajah sih, mulai invetasi kebaikan, landasi dengan ketulusan, tanpa pamrih, dan jangan mengharapkan apapun baik itu dari orang yang kita berikan perbuatan baik ataupun dari Tuhan. Karena sesungguhnya kepada orang yang tulus iklaslah Tuhan sering menunjukan kejutan-kejutan kehidupan.

Jadi yuk mulai berinvestasi, selain investasi uang, investasi kehidupan juga donk…

Karena sesunguhnya dunia akan menjadi sangat baik ketika orang berbondong-bondong melakukan kebaikan untuk orang lain tanpa pamrih.

Face the world with a kindness

Tian_ksw@02102013

follow @tian_ksw

Image“ Brow….brow….. jaman sekarang ga punya gadget canggih macam android sama ios mah ga gaul brow..”

“ Bor, gaul itu lw punya akun twitter dengan followers ribuan bahkan jutaan bor…”

“Ah eluu, Anak jaman itu kerjaannya tiap malem muterin jaksel, ke umbra, beer garden dll brow.. party party”

“Ahh itu mah udah biasa, gaul itu yah anti mainstream brow, klo biasanya orang pada foto makanan sebelum mereka makan trus diupload di instagram, nah gw foto makanan pas makanannya udah abis sob… anti mainstream…”

Hahahhha….. Kocak-kocak deh yak definisi gaul sekarang. Bahasa kerennya sih anak jaman gitu, yang artinya selalu terupdate dan punya lifestyle yang kekinian. Sebut saja punya gadget series terbaru dengan segala fitur di dalamnya. “ Wuiihhh iphone 5 cuy… slim abis designnya…” atau update fashion terbaru ala-ala designer kondang, kondang bukan kondangan yak..hehe..

Atau hobi deh, yang lagi gaul banget adalah hobi travelling, coba aja tengok di toko buku terdekat, buanyak banget guide book hingga kisah-kisah novel para travelers sejati yang berhasil mengelilingi dunia. Pencapaiannya adalah seberapa banyak tempat yang bisa dikunjungi, seberapa jauh kaki ini melangkah dan seberapa banyak foto-foto ciamik dengan camera 360 diupload.

Gw gaul karena gw punya ini itu, gw gaul karena gw sering nongkrong di kemang, gw gaul karena gw suka travelling, gw gaul karena gw tau hal-hal yang okeh yang lagi jadi trending topic di social media, gw gaul karena tau dan bisa nyanyi semua list lagu di inul vista.. Asli gaul abis gw men… Anak jaman abis gw men..

But someday, di tempat makan yang dibilang gaul yakni di daerah kemang, gw dapet pencerahan banget apa arti sesungguhnya gaul itu. Gaul terkait dengan lifestyle atau gaya hidup, dimana semua orang ingin memiliki gaya hidup yang kekinian supaya dapat disebut gaul. Based on fact, banyak orang (mungkin termasuk gw kali yah) mendefinisikan gaya hidup hanya sebatas benda yang dimiliki, atau hobi yang disukai, atau juga tempat tongkrongan yang sering ditongkrongin setiap hari. Gaya hidup bisa juga berarti keupdate-an kita terhadap segala hal yang mendunia, mulai dari k-pop sampai k-pok-ame-ame-belalang-kupukupu. Gaya hidup diidentikan dengan trend kekinian yang harus dipunyai dan ditambahkan kepada diri kita. Padahal….. Gaya hidup sebenarnya lebih daripada itu. Gaya hidup mencerminkan karakter kita. Gaya hidup melambangkan sejauh mana kita menghargai sesuatu. Gaya hidup kadang mengajarkan sendiri kepada kita arti hidup ini.

Terlepas dari apapun kepercayaan kita, muslimkah, hindukah, budha, nasrani, dll pasti kita memiliki keyakinan bahwa ada Tuhan yang menganugrahi hidup kita dunia ini. Bukan saja menganugrahi hidup, tetapi juga segala sesuatu untuk menunjang kehidupan. Seberapa banyak dari kita yang merasakan bukti nyata doa-doa kita dijawab? Ayoo ngaku… angkat tangaan…. Saya..saya..saya (*angkat tangan tinggi). Entah seberapa senangnya saat kita menyadari bahwa setiap doa kita dijawab Tuhan tepat pada waktunya. Minta mobil, jreeengg sebulan kemudian mobil terios sudah terparkir di depan rumah. Minta kerjaan, jreeeeng sebulan kemudian dapet panggilan kerja walaupun pada akhirnya resign lagi resign lagi ..hehhe… Minta pacarr, jreeenggg.. belum dapat juga sampai sekarang..hahha… Minta punya rumah, jreeennggg… 3 bulan kemudian berdiri rumah sederhana di cimanggis. Pokoknya hamper semua yang kita doakan terkabul deh. Nah dari situ ajah kelihatan kan bahwa Tuhan yang menciptakan kita itu memiliki suatu gaya hidup yang tak berubah dari dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya, yap itu adalah suka memberi, alias giving. Lifestylenya Tuhan adalah memberi.

Nah kalau kita diciptakan Tuhan segambar dan serupa dengannya, sudah pasti Tuhan juga pingin kita punya sifat yang sama dengan dia. Punya gaya hidup yang sama dengan dia yaitu suka memberi. Masa kita udah sering dikasih banyak hal sama Tuhan tetapi kita nggak pernah memberi. Masa kita dikasih banyak berkat sama Tuhan tapi kitanya ga mau beramal dan menolong orang lain. Betapa pelitnya kita kan yah.. kacooo..

Pernah suatu kali memiliki teman yang membutuhkan duit karena udah nggak punya ongkos buat pulang ke rumah, yah karena kasian maka gw kasihlah sejumlah uang yang sangat cukup untuk dia pulang, bahkan untuk naik ojek dari depok ke rumahnya. But someday, pada saat mau fotocopy di kampus, dan dompet ketinggalan di kelas, kebetulan ada teman tersebut lagi fotocopy juga, coba gimana rasanya kalo kita minta pinjem duit untuk bayar fotocopy aja ehh ternyata dia malah ngeloyor pergi tanpa bilang apa-apa.. Gedeggg men… rasanya pengen garuk tuh muka orang pelit itu… ampun dah pelitnya..kacooo kan..

Nah kadang begitu juga dengan kita, sadar nggak sadar, kita dikasih gaji berjuta-juta bahkan puluhan juta, kita dikasih mobil dan rumah yang cukup nyaman, kita dikasih sama Tuhan gadget yang terbaru buat update status setiap hari, dan kita makan slalu cukup bahkan bisa makan uenakk tenan setiap harinya sama Tuhan, tetapi pada saat kita disuruh Tuhan untuk menyumbang dana untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah, mikirnya ajah sampai semingu. Itu belom jawabannya, mikir alesan buat nolak, mikir dan berprasangka buruk jangan-jangan uangnya dikorup, mikir klo uangnya bakalan habis saat disumbang, pokoke mikir buanyak lah dari A sampai Z. Coba bayangin betapa sebelnya Tuhan sama kita kan. Udah dikasih eh ga mau berbagi.. Jangan sampai deh Tuhan menstop berkat kita hanya karena kita nggak menjadi berkat bagi orang lain.

Kata-kata diatas aku dapatkan dari seseorang yang sangat memotivasi, the power of giving-nya dashyat banget men, bahkan nggak segan-segan memberikan semua uang yang ada di rekeningnya untuk berbagi dan beramal. Sungguh iman sebesar itu jarang saya jumpai di Jakarta ini..hehhehe…

But hal itu sedikit menggelitik hati saya, bahwa ternyata apa yang dia lakukan sama dengan tujuan hidup yang saya cari yaitu menjadi berkat bagi orang lain. Dan hal pertama yang harus gw pelajari adalah The power of giving. Lifestyle gw haruslah giving dan giving dan giving. Everyday is about giving. Entah giving money, entah giving idea, entah giving time, pokoknya menjadi berkat.

Dan melalui tulisan ini gw juga pingin ngajak dan mengetuk eh bukan, mendobrak nurani kita masih-masing untuk mau memberi dalam kesederhanaan. Jangan pernah tolak orang yang meminta sesuatu daripada kita, karena dengan dia meminta itu adalah usahanya. Bagi pernah yang merasakan sakitnya ditolak gebetan (termasuk gw) yak begitulah kira-kira sakitnya.

So mulai sekarang, yang namanya gaul itu bukan lagi punya barang branding or hobi ciamik or tau segala sesuatu yang terupdate. Yang namanya gaul itu adalah saat kita mauu untuk memberi. Lifestyle yang lagi “in” sekarang adalah memberi, jadi kalau mau gaul guys mari biasakan gaya hidup kita untuk memberi.

Mengutip kata-kata orang yang gw teladani : “You are rich when you have heart of giving”

Selamat memberi, selamat berbagi.. Mari ubah gaya hidup kita menjadi gaya hidup memberi

God bless you guys.

Tian_ksw@280813

Action For Hope

Posted: August 27, 2013 in Uncategorized
Tags: , , , , ,

Bencana selalu meninggalkan kisah duka, masih teringat segar saat nonton tv melihat kembali duka negeri yang kembali diserang berbagai bencana alam. Tidak ada yang menduga, tidak ada yang menyangka bahwa pada tanggal 22 juni 2013 kota dengan pantai yang indah Lombok diguncang gempa berkekuatan 5,4 SR. Keamanan dan kenyamanan warga Lombok diusik, kali ini bukan hanya mengusik jiwa dan raga, tetapi juga harta benda. Segala yang mereka miliki musnah, hancur berkeping-keping, rata dengan tanah. Harapan yang dibangun selama ini seketika luluh lantah dalam kedashyatan alam semesta. Tercatat sekitar 5.286 rumah rusak, korban luka mencapai 30 orang bahkan mungkin bertambah, 27 rumah ibadah rusak parah. Air mata mengalir, kesedihan menjelma, harapan pupus sudah. Tidak ada lagi yan tersisa dari Lombok utara selain air mata.

Baru berkabung dengan Lombok utara, Indonesia kembali berduka. Bak mendapat pukulan bertubi-tubi, rakyat Indonesia kembali mengalami kedashyatan alam semesta. Harus sekali lagi kalah dan melihat kemahadashyatan gempa berkekuatan 6,2 SR di aceh tengah. Baru 10 hari berlalu, gempa sudah menelan korban lagi, menuai air mata, mengguncang harapan. Sebanyak 15.919 rumah rusak parah, 623 bangunan fasilitas umum tidak dapat digunakan karena hamper rata dengan tanah, korban tewas mencapai 40 orang, 4 orang masih dinyatakan hilang, 63 orang luka berat. Tak terhingga lagi kesedihan yang terbendung, kehilangan harta, kehilangan orang-orang yang dikasihi, kehilangan nyawa, kehilangan harapan, kehilangan kekuatan untuk kembali menikmati hidup. Bahkan sampai saat ini setidaknya 12.301 KK masih mengungsi yang tersebar di 70 titik pengungsian. Bayangkan hamper sebulan penuh di pengungsian, jauh dari kenyamanan, jauh dari keamanan, hanya bisa meratapi puing-puing rencana, cita-cita dan harapan yang turut ambruk beserta bangunan mereka.

Masih dibulan yang sama, ketika masyarakat Lombok berduka, aceh tengah ikut berduka, ambon juga harus merasakan duka yang sama. Tepatnya pada tanggal 30 Juli 2013 terjadi banjir bandang yang datang tiba-tiba dan menenggelamkan semuanya. Bahkan tercatat Sembilan orang tewas seketika karena hanyut terbawa banjir tersebut. Arus air juga menghancurkan 370 rumah dan menenggelamkan ribuan lainnya. Korban jiwa semakin bertambah, tercatat korban jiwa mencapai 14 orang. Banjir juga memutuskan sejumlah jembatan dan ruas jalan. Berbagai fasilitas umum, fasilitas pendidikan dan kesehatanpun ikut terendam dan hancur. Kali ini bukan getaran bumi yang menggetarkan jiwa, tetapi arus air deras yang menghayutkan dan menengelamkan semuanya.

Indonesia berduka, pemerintah melalui BNPB terlihat woro-woro, berbagai dukungan dari berbagai pihak mengalir deras, spontanitas kepedulian mengalir deras, berbagai bantuan turut mengucur untuk ketiga tempat tersebut sangat cepat beberapa hari sesudah bencana tersebut. Media meliput, televise ikut berduka, berbagai kotak disebar untuk menyalurkan dana bantuan. Dan sepertinya terlihat duka tersebut telah diobati, terlihat gerakan serentak untuk membantu, terlihat kepedulian spontan yang terjalin erat. Bantuan telah disebarkan, masyarakat disana telah menerima bantuan dan dapat melanjutkan hidup, harapan telah dipulihkan, masyarakat Indonesia telah ikut membantu.

Benar, dan seakan-akan benar. Apalagi pada saat liputan media telah berganti topik yang lainnya. Media telah melaksanakan tugasnya, masyarakat telah ikut berpartisipasi, bantuan telah diberikan. Namun semudah itukah membangun puing-puing harapan yang luluh lantah akibat bencana? Semudah itukah kembali memunculkan jiwa, semangat, rasa dan harapan yang telah tenggelam selama sebulan penuh. Yakinkah kita bahwa kondisi ketiga tempat itu telah sepenuhnya di recovery? Saya kurang yakin.

Dalam manajemen bencana alam yang saya tau, bahwa ada 3 tahapan dalam bencana alam, Pra-bencana (antisipasi), pada saat bencana (bantuan cepat tanggap) dan pasca bencana (recovery). Nah ada bagian yang sering miss pada saat terjadi bencana, yaitu bagian recovery, dimana bukan hanya dibutuhkan sehari dua hari atau semnggu untuk membantu, tetapi butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mengembalikan kehidupan, harapan dan semangat di ketiga tempat tersebut. Bantuan makanan, selimut, tenda, minuman, dan logistic lainnya mungkin telah diberikan, namun kondisi jiwa, mental dan psikologi tidak secepat memenuhi kebutuhan logistik mereka. Rumah yang hancur, fasilitas umum yang hilang, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang koyak butuh waktu untuk bisa berdiri kembali. Siapa yang tau bahwa sampai saat ini, masyarakat aceh tengah masih hidup menjalani hari di dalam tenda pengungsian, berusaha mendapatkan jatah makanan, berusaha berharap rumah mereka kembali berdiri, sembari sesekali menengok bekas puing-puing, mengumpulkannya dan mencoba membangun kembali dari awal walaupun hasil minimal. Siapa yang tau bahwa sampai saat ini anak-anak di aceh tengah tidak dapat bersekolah karena sekolah mereka hancur total. Siapa yang tau sampai saat ini banyak anak masih trauma dan sangat butuh pertolongan psikologis di tenda-tenda pengungsian. Itu baru aceh saja, masih ada Lombok utara dan ambon yang bahkan mungkin lebih parah kondisinya dari aceh.

Dimana kita pada saat bencana itu terjadi ?

Dimana saya pada saat bencana itu berlangsung?

Dimana anda pada saat bencana yang merenggut semuanya itu terjadi?

Saya mungkin sedang berada di kantor, disibukan dengan deadline dan target penjualan. Saya mungkin sedang berkumpul bersama teman-teman sedang bercenda gurau dan sharing mengenai banyak hal, tertawa dan tertawa. Saya mungkin sedang menikmati keindahan alam gunung bromo, menikmati kencantikan ranukumbolo atau sedang menuliskan nama kekasih di pasir pantai sawarna. Saya mungkin sedang menatap layar sembari memaikan game balap seru terbaru. Saya mungkin sedang bersepeda nikmat menyusuri pinggir Kanal Banjir Timur dengan siulan kecil dan peluh yang membasahi tubuh.

Anda? Entahlah, mungkin sedang menatap layar televisi yang menggambarkan kemahadashyatan bencana itu sembari menggelengkan kepala atau bahkan menitikan air mata. Atau mungkin sedang memasukan tangan dan sejumlah dana ke dalam sebuah kotak bertuliskan “box of hope” untuk membantu para survivor di ketiga tempat tersebut.

IMG_1145Dengan berbagai kemungkinan itu saya melihat kepastian bahwa ada 2 sosok yang saya kagumi sedang berjuang, bergerak untuk mengambil bagian dalam proses recovery pasca bencana di ketiga tempat tersebut. Dua sosok yang terlihat bersemangat menyebarkan virus positif untuk bergerak dan bertindak bagi para survivor, bukan hanya sehari atau seminggu tapi hingga saat ini. Bukan hanya berkata “turut berduka” tetapi bertindak. Membangun jejaring, membangun pergerakan, membuka kesempatan bagi para sukarelawan, membuat kepedulian itu menjadi nyata. Bahkan tidak segan-segan untuk langsung bergerak menuju lokasi bencana. Salah satu dari sosok itu telah berada di aceh untuk melihat langsung akibat bencana itu. Bukan saja melihat tetapi juga membawa pengharapan, bertindak dengan kebesaran hati menghibur anak-anak disana. Membawa pesan bahwa banyak teman-teman di Jakarta yang peduli terhadap mereka dan bersedia membantu.

IMG_0920Sementara sosok yang satu lagi terlihat bersemangat, berjuang ke sana kemari untuk membagi misi dan kepedulian mereka melaui sebuah pergerakan. Dan kedua sosok itu tidak bergerak sendirian, ada 45 orang yang mendorong, menopang dan menyemangati mereka untuk tetap bergerak. Masih ada banyak orang yang peduli dan bersedia membantu, yang rela waktu luangnya diusik untuk mengurusi hal ini itu. Gerakan yang berawal dari 2 hati ini terus mengajak hati-hati lainnya, membuat hati lainnya ikut tergerak dan bertindak.

Hingga kini, pergerakan itu terus bergerak. Hati yang terus bertindak, kepedulian yang saling sahut menyahut, membuat bangsa ini dapat kembali berharap memiliki anak-anak bangsa yang cinta negeri. Paling tidak hati yang bergerak itu mampu membawa kepedulian terhadap para survivor di ketiga tempat tersebut. Gerakan ini masih bergerak dan masih membutuhkan banyak bantuan, baik berupa dana, tenaga dan kepedulian nyata. Gerakan it uterus berbisik lembut di hati nurani kita, mengetuk kepedulian kita, membawa harapan kita kepada harapan para survivor. Selalu akan kuingat bahwa apa yang dari hati akan selalu menyentuh hati.

Jadi dimanakah kamu sekarang? Dimanakah saya sekarang? Dimanakah kita sekarang?

Mari peduli, mari bergerak, mari bertindak

…..

Karena apa yang dari hati akan selalu menyentuh hati

 IMG_1131

Note: #Hope4Indonesia adalah salah satu kegiatan dari rangkaian inisiatif aksi social yang diprakasai oleh @Action4HopeID yang merupakan kolaborasi dari komunitas-komunitas social media dan social movement di Indonesia. Please Follow twitter kami @Action4HopeID dan Like group FB kami “action4hopeID”.

Image

Dari mata sang Garuda,

Terlihat sebuah perjuangan nyata

Buah karya anak bangsa

Bukti nyata cinta Indonesia

 

Dari mata sang Garuda,

Nasionalisme seakan penuh arti

Dalam puisi dan tari

Dalam seni yang takkan pernah mati

 

Dari mata sang garuda,

Bukti bakti seorang anak negeri dalam menggapai mimpi

Mengejar matahari menatap sang fajar untuk pergi mendahului

Tanpa keluh menjemput senja berjuang dalam kemacetan

Yang walaupun dalam keluh tapi tetap syukur terucap

Yang menantikan hari dengan arti serta tanggung jawab sebagai bukti bagi pertiwi

 

Dari mata sang garuda,

Semangat belajar yang tak kunjung sirna menyerbak

Memasuki lorong-lorong pengetahuan, mengisi bangku-bangku keingintahuan

Berebut untuk mendapatkan ilmu di baris terdepan, berebut menjawab setiap pertanyaan

Rela mengucek mata pagi untuk dapat memandang setiap deret huruf dan angka

melalui rasa kekaguman yang besar

Rela membasahi tubuh dengan dinginnya pagi untuk

mendapatkan setiap rasa dari manisnya keingintahuan semesta

Rela terkantuk-kantu saat siang menjelang,

berjuang untuk melek dari rasa kantuk dan kebosanan yang dashyat

Rela menahan alunan keroncong dalam perut demi sebuah hormat kepada sang pemberi ilmu

 

Dari mata sang garuda,

Sebuah pengabdian terlihat berlari tergopoh-gopoh

Peluh mengalir deras, muka memerah, sandal jepit yang berselimutkan tanah basah

Raut muka terlihat lelah namun semangat sedikitpun tidak hilang dari pandangan

Berjalan ratusan kilo demi sebuah pengabdian

Pengabdian untuk puluhan muka yang mengantri rasa keingintahuan

Yang walaupun terbelenggu dalam reyotnya bangunan, lusuhnya tembok, berjamurnya papan tulis

Namun tetap menantikan sebuah ilmu yang maha dashyat,

yang mampu mengubah masa depan mereka

 

Dari mata sang garuda,

Sebuah kelompok terlihat serius berbincang, sembari sesekali bersenda gurau

Tak peduli malam telah menjelang, kegelapan pekat menerpa langit

Tetapi semangat meskipun terlihat kelelahan, tetapi ceria meskipun tugas mendera

Sebuah tugas untuk kemanusiaan

Sebuah gerakan nyata untuk pengabdian kepada Indonesia

Sebuah aksi untuk kepedulian

Melihat bencana yang tragis merenggut harta benda bahkan nyawa

Yang melululahtahkan segala yang ada termasuk harapan

Membawa dan menyapu bersih semua yang ada, tanpa permisi, tanpa pamit

Yang walaupun berkilo-kilo jauhnya, yang tak mungkin ditempuh dengan cepat dengan langkah kaki ini

Tetapi dengan setia melangkah dengan hati dan janji

Untuk membantu mereka yang tiada dikenalnya, memberikan hidup,

memberikan harapan, memberikan tindakan

Membantu tanpa gaji, membantu tanpa pamrih, membantu tanpa mengeluh

Hanya bermodalkan tekad, komitmen dan kolaborasi

 

Namun dari mata sang garuda,

Wakil rakyat yang seringnya mengecewakan rakyat

Bermalas-malasan di kursi nyaman dalam ruangan dingin sembari menggoyang-goyangkan kaki

Sesekali mata terlihat terkatup mengantuk, bukan karena kelelahan tapi karena kenyamanan

Sesekali membuka mata menengok ke layar smartphone, entah apa yang dilihatnya

Terlihat acuh ketika ratusan rakyat berteriak-teriak di luar gedung, menuntut hak untuk hidup

Yang pemikiriannya jauh kedepan, terdepan untuk pergi ke luar negeri dengan dalih kunjungan

Terdepan dalam menyuarakan kenaikan gaji, pemanfaatan fasilitas, pembelian kursi senilai jutaan

Terdepan dalam pencitraan yang tak ada habisnya,

 mengobral janji, menuai kritik, menjawab sanggahan

Terdepan dalam menyatakan “anti-korupsi” dengan kantong penuh sesak hasil korupsi

Yah walaupun tidak semua, tetapi sebagian besar

 

Namun dari mata sang garuda,

Terlihat percik darah, teriak keributan, tangis air mata yang berbeda dengan tempo dulu

Kerumunan ini tidak menyerukan “Merdeka!!” terhadap sang penjajah

Kerumunan ini tidak terlihat gagah memegang sang merah putih

Kerumunan ini hanya berkelakar sempurna bak pahlawan

yang rela mati bagi sekolahnya, genknya ataupun kelompoknya

Yang tidak jarang melibatkan orang yang tidak bersalah, menyatakan bersalah sebuah kebenaran

Bertindak sendiri tanpa alasan yang jelas, mungkin berharap masuk headline Koran terkemuka

Mendapatkan penghargaan dengan menghilangkan nyawa,

merenggut kebebasan dan kemerdekaan dari beberapa orang dan golongan

Menyatakan dirinya yang paling hebat, benar dan suci tanpa melihat lagi ideology bangsa

Bertindak seakan-akan tidak ada hukum dan aturan yang berlaku

 

Ahhh… Dari mata sang garuda

Air mata menetes perlahan, membasahi sayap-sayap pancasila

Air mata dari kedua mata, kiri dan kanan menetes deras

Air mata kanan tanda keharuan akan sebuah perjuangan yang tak akan padam

Untuk cita-cita mulia, sebuah pengorbanan dan kepedulian suatu bangsa dan sesama

Turut mengharumkan nama bangsa walaupun seringkali nama tak dikenal dan dilupakan

Yang harus berjuang demi kesederhanaan untuk sebuah kesempurnaan

Air mata kanan mengalir untuk setiap pengorbanan yang tercipta dalam ruang dan waktu

Air mata kiri ikut menetes, kali ini bukan untuk sebuah kebanggaan dan keharuan,

Tetapi sungguh sebuah kesedihan mendalam akan arti perjuangan dan kemerdekaan

Saat beberapa tindakan tak seharusnya terjadi di bumi pertiwi ini, memalukan bangsa mencoreng nama

Kedua air mata itu perahan turun, kea rah yang sama, ketempat yang sama

Sebuah senyuman garuda untuk senyuman bangsa, bahwa perjuangan belum berakhir

Senyuman bangsa bahwa masih ada secercah cahaya,

segerombol anak bangsa yang bersedia berjuang demi Negara

Senyuman bangsa yang walaupun didera berbagai konflik, perpecahan, dan berbagai kepentingan sendiri tetapi tetap ada tekad untuk bersatu dan memperjuangkan keragaman

Dalam hati dan dalam diri setiap anak bangsa, semoga senyuman itu tetap melekat

Senyuman optimis sang garuda akan sebuah cita-cita bangsa yang luhur

Senyuman akan arti kemerdekaan bangsa sesungguhnya

 

Dari mata sang garuda,

Kemerdekaan itu menjadi nyata

……

Image

 

Tian_ksw@190813

ImagePerasaan baru kemarin aku melihat cahaya itu lagi, merasakan lembutnya tangan itu menyentuhku, merasakan kebanggaan yang terkembang dalam diriku. Sejuta harapan untuk sejuta kisah yang kelak akan menjadi sebuah cerita manis. Sebuah cerita yang kelak mampu menggugah semangat dan jiwa para pemuda Indonesia.

Masih teringat saat cahaya menyilaukan itu menyinari diriku, yang telah using dimakan usia, namun tetap terlihat gagah menjulang nyata. Dengan perlahan diriku dikeluarkan dari tempat kediaman yang sepanjang saat kudiami, menunggu dan menunggu. Menunggu waktu yang tepat, menunggu tangan yang tepat untuk meraihku, ya, menunggu cahaya itu lagi. Setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu di ruang dingin, sepi, gelap dan sedikit berbau penguk ini. Akan tetapi setahun terasa begitu cepat saat tangan itu meraih diriku. Ingin rasanya kubusungkan dada untuk dapat mengabdi kepada yang tercinta.

Diriku diusap dengan perlahan, dibersihkan dari berbagai kenangan yang menempel. Kenangan akan lamanya penantian itu. Untunglah diriku masih utuh, terlihat baik, dan dapat dibanggakan. Kalau tidak, akan bernasib seperti saudaraku, yang kisahnya berakhir di lantai meringkuk dalam putus asa dalam keterpurukan karena jejak-jejak kaki yang ditinggalkan pada dirinya. Atau kisah sahabatku lainnya, yang tergolek lemah tanpa daya ketika lubang demi lubang menghinggapi dirinya. Mungkin aku masih lebih beruntung daripada temanku yang diasingkan entah kemana, dimasukan ke dalam sebuah mobil bak terbuka berwarna orange yang membawanya pergi dari hadapanku.

Harapanku sederhana, aku bisa berada di ujung tiang tertinggi itu untuk dapat menyapa cakrawala dan sejuta umat yang mendiami bumi ini. Impianku sederhana, tangan-tangan yang selalu kulihat selalu menempel kepada pelipis dengan mata selalu tertuju kepadaku. Keinginanku sederhana, untuk dapat bertengger lebih lama dari biasanya, melewati hari, minggu bahkan bulan.

Dengan bangga kubusungkan dada ini, mendengar bisikan angin sepoi-sepoi yang berkata “merdeka”, nyanyian hymne yang menggelegar sepanjang waktu, suara gembira anak-anak yang bersaut-sautan. Sesekali kusapa temanku yang agak jauh disana. Sapaan kami sederhana, saat angin bertiup, kami meliuk-liukan badan kami mengikuti irama angin, dan temanku pun yang disana ikut meliukan badannya. Dengan seksama aku pandangi temanku itu, berbeda blok tetapi masih terlihat jelas. Semakin lama teman-temanku semakin sedikit. Beberapa teman yang sederet denganku perlahan mulai menghilang, entah kemana, tanpa kabar, tanpa suara. Terakhir aku menyapa teman diujung blok, sapaan yang sama, hanya saja dia terlihat begitu tidak bersemangat. Dan sekarang diapun ikut menghilang.

Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, menikmati semilir angin ini. Hujan tak masalah, panas terik sudah biasa, yang penting jangan turunkan aku dari tiang ini, jangan kurung aku kembali dalam ruang gelap, panas dan berbau itu. Aku masih ingin berlama-lama disini. Aku masih ingin mendengar berbagai kisah teman-teman, saudara bahkan kakekku. Kisah yang terbawa oleh angin, dihembuskan dan diceritak kembali oleh angin.

Kisah dimana perjuangan temanku yang dapat berkibar di puncak tertinggi jawa, mahameru. Kisah temanku yang mampu berkibar dengan kondisi basah kuyup dan berbau amis di kapal nelayan, Kisah saudaraku yang mampu berkibar di hamparan bunga edelweiss, kisah sahabatku yang hamper terjatuh karena kencangnya angin pada saat dirinya dibawa naik oleh anak kecil di atas gerbong kereta api, kisah kakekku dimana nyaris saja diturunkan paksa, diinjak-injak, nyaris dibakar, tetapi mampu berkibar kembali di daerah rawan konflik, dan yang paling kusuka adalah kisah moyangku dimana dialah yang mendengarkan pekik kemerdekaan secara otentik, lantang dan berwibawa dari sang proklamator bung karno dan bung hatta.

Tidak, tolong jangan turunkan aku…. Aku masih ingin disini…. Aku sangat menikmati momen ini…. Tidak..tidak.. tidak….

Tetapi apalah dayaku, toh mereka tidak mampu mendengarku, toh mereka juga tidak terlalu bangga memasangku di tiang itu, toh mereka hanya mengikuti tradisi yang berlaku.

Hanya 1 hari waktuku, waktu yang cukup untuk mengenang semua kisah yang ada, menghembuskannya melalui angin, berharap dapat mendengarnya lain kali. Paling tidak aku masih dapat merasakannya, paling tidak aku masih dapat mengharapkannya. Rasa nasionalisme sederhana yang tercermin melalui diriku, walau hanya 1 hari saja, sudah cuku bagiku.

Kini aku harus kembali menunggu, menunggu dalam kegelapan, menunggu dalam kesepian, menunggu penuh harap. Semoga taun esok masih ada yang mau membersihkanku, menyentuhku dan membawaku kembali di puncak pengabdianku, di atas tiang itu kuberkibar.

Dengan tertutupnya pintu ini, dengan menghilangnya cahaya ini, harapanku sederhana, semoga masih ada pemuda yang mencintai bangsanya dalam kesederhanaan, yaitu melalui diriku.

Salam dirgahayu negriku, Merdekaa !!!

—kreekkk—

—gelap—

—sepi—

—harap—

Tian_ksw@180813

ImageIseng-iseng baca buku, jadi teringat istilah marketing PLC? Apa itu? Anak marketing pasti tau, Product Life Cycle alias masa hidup suatu produk. Suatu produk dimulai dari masa lauching-nya, lalu masuk penetrasi pasar yang ditandai dengan bombardier iklan, event dan social media activity, tahap growth dimana produk sudah diterima pasar, tahap maturity yang membuat produk dapat bertahan di pasar bahkan kemungkinan besar menjadi market leader, hingga tahap penurunan lalu mati dan menghilang di pasar.

Produk aja punya masa hidup, apalagi manusia. Yap mulai dari rahim hingga kembali ke tanah. Mulai dari pemberian nama hingga penulisan nama di lisan. Masa hidup manusia yang seringkali dinyatakan di dalam tahun, yang setiap tahunnya dirayakan secara meriah, padahal sesungguhnya menunjukan masa hidup semakin sempit. Lahir, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengeja, belajar membaca, belajar memahami logika, belajar memahami cinta, belajar memahami kehidupan, hingga belajar memaknai kehidupan. Setiap pelajaran dilalui dengan sebuah prestasi tapi kadang juga dengan sebuah frustasi.

Pertanyaan sederhana yang seringkali muncul pada saat SMA dulu, buat apa sekolah?? Simple, tapi jawabannya bisa bermacam-macam. Yang paling mainstream  adalah sekolah buat belajar, belajar buat pintar dan berprestasi biar bisa masuk perguruan tinggi terkemuka, biar setalah lulus dari kampus itu gampang mencari pekerjaan, meniti karier di sebuah perusahaan, menjadi bos atau punya perusahaan sendiri, bisa mencukupi kebutuhan keluarga, ninggalin warisan yang banyak, dan menikmati masa pension dengan tenang. Mainstreamm abiss.. Tapi jangan salah, jutru yang mainstream ini yang kadang dicari orang, tengok saja toko-toko buku dimana dijejali kisah-kisah inspiratif dan sukses orang-orang yang berhasil mapan, bahkan di usia muda. Salah? Nggak donk, justru bagus menginspirasi. Menginspirasi orang menjadi mainstream dengan pola hidup seperti itu. Menginspirasi orang untuk menilai ukuran kesuksesan dari sebuah karier, mapan dan uang. Menginspirasi orang untuk tetap pada jalur pendidikan (alias study oriented) tanpa perlu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk hidupnya.

Jadi apa tujuan hidupmu? Baaaammmm… Dhuaaarrr…. Cetharrrr…. Darr.. derrr.. dorr…. Pusing 7 keliling klo ditanya jawaban ini. Mau jawab yang mainstream apa anti mainstream yak? Contoh mainstream yah tadi itu, tujuan hidup pengen sukses, pengen kayak, pengen jadi orang terpintar se-indonesia, dan kepengenan lainnya. Yang anti-mainstream tujuan hidup itu yah let’s its flow ajah, senang-senang selagi bisa senang, sedih-sedih selagi bisa sedih, anti-mainstream tujuan hidup itu untuk travelling keliling dunia, jadi travelers sejati, anti-mainstream tujuan hidup mau mengukir sejarah dengan mencicipi seluruh masakan (kuliner) di semua Negara di seluruh dunia. Atau tujuan hidup yang terlihat keren nih guys, “Menjadi partner bisnis yang memiliki value, dapat dipercaya, dan dapat diperdaya oleh stakeholder dan shareholder.” Ahhahaha… salah?? Nggak men.. Tujuan hidup itu kan masing-masing gaya, ga ada bener dan salah donk, kan balik lagi ke pribadi.

But thanks God, saya dapat pencerahan dari banyak kesaksian teman-teman bahkan teman baru yang bukan hanya sekedar anti-mainstream dalam menemukan tujuan hidupnya, tetapi juga sungguh menjalaninya. Ingat menemukan, bukan menentukan. Karena sejujurnya sayapun seringkali berusaha menentukan tujuan hidup, tapi selayaknya peta harta karun yang saya tulis, dimana akan ada tanda “X” tempat terkuburnya harta karun terindah “tujuan hidup”, peta itu harus dijalani, diikuti, dan kadang butuh penuntun. Dan tentunya harta karun itu harus ditemukan sesegera mungkin. Kisah hidup dari beberapa orang yang sumbernya langsung saya dengan dengan telinga saya menceritakan bagaimana penemuan tujuan hidup itu, berawal dari penentuan tujuan hidup dengan kata “sukses”, “kaya”,”berhasil”, “Berkarier”, “mapan”, dll tiba-tib menemukan harta sesungguhnya yang jauh lebih bernilai dari semua kata itu. Kata itu sederhana. Kata itu ibarat mantra yang dapat merubah seluruh hidup kita. Kata itu ibarat kilat yang menyambar diri kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Harta itu adalah sebuah kata, oh bukan sebuah frasa, gabungan dari 2 kata. “Menjadi berkat”, “ Be blessed”.

Pernah nonton film “ Pay it Forward”? itu film super keren guys, buat yang belum nonton kudu wajib nonton. Dan buat yang udah nonton, pasti ketagihan pengen nonton lagi. Tapi jangan hanya sekedar ditonton, resapi maknanya dan Action!!!

Film itu bercerita tentang seorang anak yang diberi tugas oleh gurunya untuk memikirkan sebuah cara yang dapat mengubah dunia. Sebuah cara, sebuah konsep, sebuah hipotesa dengan teori-teori yang ada, sekumpulan jurnal pembantu dan situs pencarian termutakhir google, sebuah pemikiran abad pertengahan yang digabungkan dengan abad kekinian dengan mencampurkan generasi x, baby boomers dan generasi y. Oh bukan..bukan… Pemikiran sederhana saja, sesederhana anak sd yang berkata 1+1=2. Atau mungkin hanya apa yang terlintas saja. Sesederhana itu.

Sampai saat pengumpulan ide-ide tersebut. Yap ide sederhana dari seorang anak untuk mengubah dunia. Ada yang memberikan ide untuk mencari kata yang sama pada internet secara bersamaan, ide untuk bersama-sama meloncat secara serentak di seluruh dunia sehingga membuat dunia itu “berubah” dan goyang.. hahahaha.. dan sejuta ide lainnya. Tapi yang unik adalah ide dari seorang anak, yang mengganggap tugas itu adalah sebuah pencarian dan penemuan akan sesuatu, yang mungkin akan benar-benar mengubah dunia. Si anak memikirkan dengan seksama apa yang dia bisa lakukan, hal sederhana yang bisa mengubah dunia, dengan sebuah coretan kecil, terbesitlah sebuah ide “pay it forward”. Sebuah konsep sederhana dimana si anak harus melakukan kebaikan kepada 3 orang yang ditemuinya, dengan syarat setiap orang yang menerima kebaikan dia harus meneruskan kebaikannya kepada 3 orang lain, dan begitu seterusnya. Konsepnya sederhana, berbuat baik kepada sebanyak mungkin orang. Menjadi berkat, menjadi berkat dan menjadi berkat. Awalnya si anak hamper menyerah, karena 3 orang yang dia bantu itu sepertinya terlihat gagal dia bantu dan tidak akan bisa meneruskan kebaikan lainnya kepada 3 orang lainnya. Akan tetapi yang tidak diketahui anak ini adalah, konsep itu telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, penjuru waktu dan penjuru generasi. Yang tidak dia tau adalah bahwa konsep ini telah menghilhami saya dalam penemuan dan pencarian tujuan hidup saya, bahkan mungkin banyak yang lainnya (karena saya sering mendengar orang mengatakan “pay it forward”). Yang tidak dia tau adalah kini dia benar-benar bisa mengubah dunia. Konsep sederhana yang berdampak besar.

Tau apa yang mainstream? Circle of life yang hanya terdiri hal-hal rutinitas yang menuntut rutinitas dan pencapaian semu. Lahir-merangkak-berjalan-masuk TK-Masuk SD-Masuk SMP-Masuk SMA-Masuk kuliah-cari kerja-cari karier-cari pasangan hidup-punya anak-punya cucu-pensiun-meninggal dengan tentram, aman dan nyaman.

Yang anti-mainstream? Yang kadang menambahkan hal-hal yang menurutnya super cool, tapi sesungguhnya tidak berdampak bagi dirinya dan orang lain. Lahir-merangkan-berjalan-masuk TK-masuk SD-masuk SMP-masuk SMA-ikutan segala jenis ekskul-blajar music-blajar olahraga-ikutan trend-masuk kuliah-jadi anak gaul Jakarta-tau semua tempat nongkrong-pingin travelling-pingin jadi penulis-pingin jadi artis-tapi Cuma sebatas pingin-dan akhirnya kembali cari kerjaan normal-atau berwirausaha-cari jodoh yang top-punya anak yang super cool-punya cucu yang update terus-pensiun- masuk kuburan di san diego hills.

Sedangkan orang yang selalu berhasil menemukan tujuan hidupnya, adalah orang yang selalu meletakan kata “menjadi berkat” di tujuan hidupnya, menemukannya, menghidupinya dan melakukan tindakan nyata atas tujuan hidupnya itu. Sehingga lahirnya gerakan-gerakan yang sangat mengispirasi layaknya “pay it forward”, dan mungkin akan selalu bermunculan gerakan dan kepedulian yang akan selalu mengatasnamakan “menjadi berkat” di semua bangsa, ibarat sebuah tower jaringanga telekomunikasi yang selalu memancarkan dan menguatkan “sinyal” satu sama lain…

Be blessed guys (termasuk buat saya sendiri) !!!

Tian_ksw@180813

Merdeka itu : Bebas Dari Kegalauan !!!

Posted: August 17, 2013 in Uncategorized
Tags: , ,

ImageWahhh udah 17 agustus yak, tapi kok kurang berasa yah?

Apa Cuma perasaan gw doank?

Apa karena di RT nggak ada lomba-lomba kayak waktu kecil dulu?

Apa karena malemnya nggak ada makan-makan di lapangan RT seperti taun-taun kemarin?

Apa karena tetangga banyak yang ga pasang bendera di depan rumahnya?

Atau jangan-jangan rumah gw yang nggak ada benderanya??? Aman..aman..aman… ternyata babe udah pasangin bendera di depan rumah..hehhe

Entah kenapa kok ada yang kurang yah di 17-an kali ini. Agak kurang greget begitu. Klo tau lalu biasanya 2 hari sebelum tujuhbelasan gw sudah woro-woro nyari albumnya coklat yang isinya lagu kemerdekaan yang di aransemen ulang, udah bolak balik nanya ada halal bihalal ga sama babe, udah mantengin tipi buat liat upacara bendera di istana Negara atau yang paling tren udah update status di semua social media mengenai rasa nasionalisme dan arti kemerdekaan…hahahha..

Yak berbicara sepinya 17-an yang gw rasakan, gw bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apakah banyak para muda dan mudi yang ikutan merasakan “sepinya” 17-an kali ini akibat nggak ikut merasakan yang namanya perjuangan merebut kemerdekaan yah? Nggak ikutan perang kemerdekaan yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Nggak ikut mengangkat senjata untuk mengusir para penjajah dan sekutunya dari bumi pertiwi tercinta? Istilahnya kurang berjuang gitu.

haaaahh, pemuda kurang berjuang? No way men. Justru menutur gw nih yah pemuda pemudi sekarang perjuangan justru lebih dashyat, bukan hanya mengorbankan nyawa tapi juga perasaan. Yak berjuang terhadap kegalauan yang melanda…hahhaha…. Laah bisa gitu….

Bisa donk, berdasarkan banyak penelitian mendalam nih yah, ternyata banyak anak muda yang terjebak pada kegalauan yang membuat hidupnya jadi biasa-biasa ajah, rata-rata bahkan jadinya nggak karuan. Ngak pecaya? Pantengin ajah timeline social media deh, twitter or FB dijamin dalam sehari kita bakal menemukan ratusan bahkan jutaan orang galau di Indonesia ini… Ngeliat foto mantan, galau… Ngeliat mall tempat ditolak gebetan, galau… nonton film romantic sendirian, galau… ngeliat orang sepedaan berdua mesra-mesraan, galau… galau..galauuuu…

Hahahhha…. Makanya gw bilang berta men jadi anak muda sekarang, perjuangan melawa galau itu berat, macam lawan belanda pake bambu yang nggak runcing… susah ngusirnya kegalauan ituh…hahhha..

Padahal sesungguhnya nih yah, klo anak-anak muda bisa menang melawan galau, pasti banyak karya yang bisa dihasilkan untuk indoensia ini. Bisa nyiptain lagu, bisa berprestasi dalam akademisi, bisa mengharumkan bangsa melalui olahraga (hidup PSSI), bisa melakukan banyak kegiatan-kegiatan social buat membantu korban bencana, dan bisa menolong pemuda lain yang sedang galau juga men.

Yang  jelas keliatan adalah isi social media bukanlah penuh dengan kegalauan semata, tetapi penuh dengan semangat dan tekad untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. Contoh sederhana ajah nih, gerakan-gerakan social yang ada di social media yang bergerak aktif melalui twitter dan tindakan nyata untuk menolong banyak orang melalui berbagai kegiatan, contohnya donor darah, berbagi sebungkus nasi untuk teman-teman yang hidup di jalan, berbagi harapan untuk korban bencana alam, ngumpulin koin buat temen-temen yang nggak bisa sekolah, ngumpulin sepatu buat temen-temen yang nggak punya sepatu, dan masih banyak lainnya. Bayangkan 1 anak muda dapat menginfluence 1 anak muda lainnya, terus menerus berkelipatan dan saling menopang, gw yakin deh social media benar-benar menjadi media untuk kegiatan social dan kemanusiaan.

Ada satu quote yang gw liat di tivi yang cukup keren menurut gw,

Lakukan satu tindakan sederhana yang bisa berdampak bagi Indonesia

Cukup satu tindakan sederhana, lawanlah kegalaun kita, dan buka rasa peduli kita… Indonesia pasti bisa…

Merdeka itu adalah bebas dari rasa galau… hahaha.. Merdeka kawann !!!

Tian_ksw@170813

ImageMasih segar dalam ingatan saya ketika membaca warta gereja mengenai arti kebahagiaan. Bahagia yang sesungguhnya saat kita dapat mewujudnyatakan kebahagiaan itu dengan memberi dan peduli terhadap sesama. Sebuah artikel pun meluncur di blog saya karena terkagum-kagum dengan arti sederhana bahagia itu. Yap bahagia itu memberi dan peduli.

Nggak beberapa lama setelah artikel tersebut keluar, saya mendapat tantangan langsung, bukan hanya sekedar menulis tetapi bertindak. Bertindak berarti mau keluar dari zona nyaman, mengaktifkan kepedulian, mau repot, mau susah, dan mau diusik jam-jam tidur malamnya. Bertindak berarti mau menggabungkan diri dengan suatu gerakan nyata kepedulian. Bertindak berarti mau membantu tanpa pamrih, menjadi volentir yang rela woro-woro tanpa dibayar bahkan lebih sering mengeluarkan duit. Bertindak berarti mau ikut memikirkan bersama dan terbeban untuk suatu kegiatan.

Dan sayapun mendapat sinyal hijau untuk segera bertindak dari FB. Bermula dari postingan teman gowes (padahal baru sekali gowes bareng sih) yang berasal dari komunitas koskas yang ternyata memiliki rencana untuk membantu korban bencana alam yang baru-baru ini terjadi di aceh, Lombok dan ambon. “Dibutuhkan sukarelawan”, aha kata itu menarik minat saya, menggugah kepedulian saya dan menginginkan saya segera untuk bertindak. Alhasil langsunglah berkontak-kontakan dengan teman tersebut, nanya ini itunya, dimana kapan dan bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk bergabung.

Setelah ngobrol panjang lebar, dapatlah tanggal rapat perdana hari sabtu di dunkin tebet. Sudah bilang oke dating, ternyata harus berhalangan hadir karena buka puasa bersama keluarga besar. Walaupun sebenarnya alasan utamanya adalah karena masih sedikit ragu dan sedikit malu. Siapa saya sehingga bisa bergabung di kegiatan yang kelihatannya cukup besar. Dan sejujurnya banyak orang yang tidak saya kenal dan komunitas yang baru saya temui. Malu sesungguhnya adalah saat mengajukan diri tetapi ragu akan kemampuan diri. Hingga akhirnya saya batal hadir, dan tuingg, langsung dapat warning dari teman saya tersebut yang ternyata adalah wakil project coordinator dari acara itu. Ditanya tentang kesungguhan, komitmen, dan sejenisnya. Jegeeerrr, pertanyaan ini bak water cannon yang menyemprot tubuh para demonstran, langsung basah kuyup, kesakitan dan langsung kena sasaran. Hanya sedikit waktu berpikir untuk bilang “iya dan Komit” walaupun masih ada sedikit keraguan di hati.

Dan kata “iya dan komit” saya berbuntuk manis dan panjang, ternyata dalam perjalanan persiapan untuk acara ini, saya dipercaya menjadi humas. Bagian woro-woro cari venue, vendor, sponsorship dan media partner, bagian sibuk sebelum acara. Yap, sesuai dengan insting marketing saya..hahaha…

Selain itu saya juga diperkenalkan beberapa teman baru (yang padahal teman gereja tapi baru kenal di kegiatan ini), kenal yang namanya Rollingstone café (maklum ga gaul men…), belajar cara pdkt sama perusahaan buat minta sponsorship, dan yang paling penting bertemu teman-teman yang se-visi dan misi untuk kepedulian. Banyak kisah dimana ada yang memang sudah mendedikasikan dirinya untuk menjadi tenaga medis di papua selama 3 tahun, ada yang memang tergerak untuk misi kemanusiaan sejak 10 tahun yang lalu, ada yang terpanggil untuk bergerak di media social untuk misi pendonoran darah, dan masih banyak lagi. Sungguh cerita, pengalaman dan penguatan yang tidak akan saya dapatkan jika saya bilang “tidak, makasin” di awal.

Dan saat ini, di titik ini, di masa ini,saya tidak akan mundur dari pilihan itu, tidak akan menyesal dengan tindakan ini, tidak akan pernah lagi mematikan kepedulian hati nurani ini, untuk dapat terus membantu sebisa dan semampunya bagi teman-teman yang membutuhkan, untuk kemanusiaan dan kepedulian, untuk sebuah visi “menjadi berkat bagi sesama”.

Sebuah gerakan yang bukan hanya menuntut kepedulian saja, tetapi juga komitmen dan panggilan untuk ada di dalamnya. Sebuah rasa yang mungkin Tuhan pernah tanam di hati kita masing-masing, yang sedikit demi sedikit tergerus karena rutinitas, logika dan pencarian yang tak akan ada habisnya.

Marilah bertindak, marilah peduli, marilah beri pengharapan kepada mereka yang butuh pengharapan, karena kita memang dipanggil untuk menjadi berkat, karena kita dipanggil untuk menjadi peduli

 

Noted: Kegiatan itu adalah @Action4HopeID yang bisa dilihat pada FB (www.facebook.com/action4hopeid) dan twitter (www.twitter.com/Action4HopeID)

Tian_ksw@16082013

Bahagia itu pilihan

Posted: July 18, 2013 in Uncategorized
Tags: , , , ,

ImageSeorang pemuda diberikan pilihan untuk menikmati liburannya. Keluarganya merencanakan untuk berlibur sekeluarga dengan pulang ke kampong halamannya selama seminggu. Sudah lama keluarga ini tidak menikmati family Time karena kesibukan masing-masing. Bahkan di rumahpun seringkali mereka tidak bertemu dan mengobrol santai satu sama lain karena saat pulang sudah larut malam dan segera tidur. Paginya sudah harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengejar kesibukan mereka. Jadi sebenarnya kesempatan liburan bersama ini dipergunakan untuk dapat menikmati waktu bersama yang sudah lama mereka tidak rasakan.

Karena sudah cukup besar dan bertanggung jawab, ayah dari si pemuda itu memberikan pilihan kepada sang pemuda, apakah dia ingin ikut liburan bersama mereka sekeluarga, menikmati waktu kebersaamaan, atau tinggal dirumah sekaligus jaga rumah dan ditinggal “uang jajan” yang lebih dari cukup selama seminggu penuh.

Tidak perlu waktu lama bagi pemuda itu untuk menentukan pilihannya. Dia pikir rasanya nikmat sekali seminggu di rumah sendiri tanpa ada orang tua yang slalu melarangnya untuk pulang larut malam, ditambah lagi sudah ada ajakan dari beberapa temannya untuk  full party selama seminggu ini. Apalagi rumah kosong kan, jadi bebas bisa mengajak siapa saja untuk datang dan menginap di rumahnya. Dan yang lebih bikin senang adalah uang jajan yang jumlahnya sangat-sangat cukup.

“ Okehhlah mending di rumah aja jaga rumah, lebih asyik sepertinya.” Pikir si pemuda.

Jadilah si pemuda itu diberi tanggung jawab untuk menjaga rumah itu selama seminggu. Papa dari pemuda itu sepertinya cukup sedih karena sebenarnya dia berharap bisa menghabiskan waktu bersama anaknya yang beranjak dewasa itu. Yah akhirnya berangkatlah keluarga itu dengan meninggalkan sejumlah uang dalam amplop untuk pemuda itu, ditambah sebuah surat sederhana yang hanya boleh dibuka 1 hari menjelang kepulangan keluarga itu ke rumah.

“Sip… akhirnya ngerasaain sendirian di rumah, bebas sebebas-bebasnya… I’m Freee…..” pikir si pemuda.

Hari pertama sampai ketiga, si pemuda selalu pulang pagi, entah nongkrong di rumah teman-temannya, atau ngedugem seharian atau hanya sekedar nge-soju saja semalaman. Intinya dia ingin melakukan apa yang sebelumnya belum pernah dia lakukan karena larangan orang tuanya.

Hari keempat dan kelima si pemuda mengajak beberapa temannya menginap di rumah, bebas mau ngapain ajah. Mau main kartu sampai malam, karokean sampai tetangga kebrisikan, mau mabok sampai muntah-muntah d irumah, atau mau nonton film Bo*ep sampai bosen.. Bebas sebebas-bebasnya.

Hari keenam, si pemuda tersebut bangun agak siang, karena habis begadang sampai pagi, ditambah pusing karena minuman yang cukup memabukan. Dengan sempoyongan dia jalan ke dapur, mau membuat roti dan segelas susu untuk dia sarapan. Setelah sarapannya siap dia duduk di sofa ruang tv sambil menyalakan televisi.

“ Inilah hidup, inilah yang namanya bebas, inilah yang namanya bahagia.” Ucap dia.

Ketika dia sedang melihat channel berita, ada sebuah berita yang membuat dia mengaga cukup lama. Butuh waktu lama untuk dia bisa sadar bahwa ada telepon yang bordering. Berita di tv menunjukan sebuah mobil kijang LGX dengan plat no B 555 GBU sedang ditarik keluar dari jurang, dan diprediksikan seluruh orang yang ada di mobil itu tidak dapat diselamatkan. Syokk parah…..dan yang lebih membuatnya syok adalah saat dia mengangkat telepon hanya terdengar isak tangis yang ternyata adalah budenya.

“Whattt theee….. Ini ga Mungkinnn !!!” teriak pemuda itu sembari membanting telepon dengan keras.

Sangat mengharukan ternyata keluarga dari pemuda tersebut mengalami kecelakaan saat hendak melewati jalan di pegunungan, mobil tersebut masuk jurang karena sang pengemudi diduga sedang mengirim pesan sehingga tidak sadar di depannya ada belokan tajam.

Dan lima menit kemudian iphone si pemuda itu berbunyi, isi pesannya singkat dan sederhana:

“Hai nak, gimana liburanmu? Apakah kamu bahagia? Karena sepertinya ada kebahagiaan yang kurang lengkap kalau tidak ada kamu di perjalanan ini. Jangan lupa dibaca pesan yang di amplop itu yah. Besok kami pulang.”

Dengan berlinang air mata si pemuda tersebut segera pergi ke lemari untuk membuka dan membaca surat tersebut, isinya pesan sederhana yang berbunyi :

“Bahagia itu pilihan nak, pilihlah kebahagiaanmu dan bertanggung jawablah atasnya.”

Sudah terlambat, sangat terlambat. Pilihlah kebahagiaanmu dengan bijaksana, sebelum itu menjadi pilihan terakhirmu. Bahagia itu pilihan.

 

Tian_ksw_180713

Image“Berbahagialah orang yang difitnah, dicela dan dianiaya…”

“Berbahagialah orang yang dianiaya…”

“Berbahagialah orang yang berdukacita…”

Lagi-lagi kita akan bahas mengenai paradox kebahagiaan lagi. Kalau kemarin (part 1) saya mendapatkan kesimpulan paradox kebahagiaan kuncinya adalah rasa syukur dan berharap kepada Tuhan, kali ini kita akan liat sisi lain lagi makna ucapan berbahagia yang Yesus ajarkan pada khotbah di bukit.

Nah yang ini lebih ekstrim lagi, bayangkan kita lagi difitnah, dicela, dianiyaya bahkan sedang berduka cita tapi disuruh berbahagia. Waduh mana bisa om, orang lagi menderita disuruh bahagia, yang ada nangis dan meringis iya.

Siapa yang pernah difitnah, dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, dituduh menyebarkan aib orang, dituduh bergosip dan dituduh yang bukan-bukan. Efeknya itu guys yang nggak enak, pertama kita bakalan dijauhin orang-orang, kedua nama baik dan reputasi kita hancur luluh lantah, ketiga orang tidak akan percaya lagi sama kita dan apa yang kita omongkan, dan yang paling parah adalah kita sama sekali tidak melakukan semuanya itu. Sakit rasanya, sakit…

Dicela? Jarang sih, seringnya nyela orang, hehhehe… maksudnya bukan karena bercanda lho guys, tapi bener-bener dicela-cela parah sama orang-orang yang kita kenal bahkan yang tidak kita kenal. Bahasa kerennya sekarang dibully secara verbal, sapa yang pernah? Tunjuk tangan.. Sejujurnya saya pernah banget dibully, apalagi sewaktu SMP, dimana badan saya masih kecil dan imut-imut, terlihat lemah dan menjanjikan untuk dicela dan dibully, apalagi saya tipikal orang yang menjauhi perseteruan, akibatnya saya semakin di cela-cela karena nggak bisa balas perbuatan mereka. Pokoknya saya tipikal loser boy banget deh waktu smp. Saking loser-nya saya pernah mau bolos sekolah gara-gara takut dikerjain dan dicela-cela atau dibully sama temen-temen. Parah kan… Betapa merananya waktu itu, ingin rasanya teriak “Tiaaann.. Juga Manusia..punya rasa punya hati..”.

Dianiaya, pernah walaupun nggak parah-parah amat sih, paling banter yah ditonjok badannya tapi nggak sampai bonyok, biru dan berdarah. Tapi memang bullying secara verbal terasa lebih menyakitkan lho.

Siapapun pasti pernah berdukacita, entah karena ditinggal orang yang dikasihani, entah karena kehilangan sesuatu, atau karena lain hal. Dukacita sangat berasa efeknya saat kita ditinggal orang yang terdekat dan kita kasihi untuk selama-lamanya. Sejujurnya saya bingung ketika datang ke ibadah penghiburan seorang teman/sahabat yang ditinggalkan orang tuanya ataupun orang terdekatnya untuk selamanya. Karena jujur saja, tidak tau bagaimana harus menyatakan ungkapan turut berduka cita kita, bingung untuk memberikan penghiburan kepada mereka, bingung harus bagaimana untuk dapat ikut merasakan perasaan mereka. Kalau kata orang sih kehadiran lebih berarti dari apapun, tapi kalaupun kita hadir disana tanpa ikut berusaha merasakan dukacitanya saya rasa sih tiada berarti.

Nah kalau kita sudah tau bahkan pernah merasakan sakitnya, sedihnya dan menderitanya ketiga hal itu (aniaya, cela/fitnah, dan dukacita) lantas mengapa kita malah disuruh bersukacita? Bagaimaa caranya tetap berbahagia ditengah kondisi tersebut, lantas juga kenapa justru orang yang sedang merasakan hal itu disebut berbahagia?

Selalu ingat, bahwa kalimat ini belum selesai. Kalimat yang tepat untuk melengkapi semuanya itu selalu frasa ini “ Di dalam Tuhan”. Yap paradox kebahagiaan kali ini kuncinya adalah proses. Bahagia itu adalah sebuah proses, bukan hanya hasil semata. Hal-hal sakit yang membuat kita bersedih itu akan memampukan kita menemukan arti kata bahagia sesungguhnya. Proses untuk bisa menjalani kehidupan berikutnya, proses untuk membentuk karakter kita dan otot-otot rohani kita.

Yang saya rasakan pada saat saya dibully tentu saja menyakitkan, tetapi satu hal alasan saya untuk bertahan dan berusaha tidak menyerah bahkan membalas adalah bukan karena saya pengecut, tetapi karena saya paham bahwa ini adalah latihan sesungguhnya untuk menghadapi dunia yang keras dan penuh tipu muslihat. Saya mampu bertahan karena setiap hari saya berusaha menunjukan kepada diri saya sendiri bahwa saya bukanlah orang lemah, saya mampu bertahan karena saya punya Sumber Kekuatan yang saya selalu pegang setiap saat. Saya dapat bertahan karena saya yakin bahwa sesungguhnya semua orang ditakdirkan untuk menemukan kebahagiaan sejatinya. Di dalam setiap dukacita yang saya rasakan, selalu ada sukacita dan penghiburan yang Tuhan janjikan dan berikan kepada saya. Dalam setiap bully-an dan makian saya yakin bahwa ada rencana Tuhan untuk membentuk karakter saya agar siap menghadapi kerasnya dunia ini. Dalam setiap kesempatan Tuhan selalu memberikan proses untuk saya menemukan arti kebahagiaan itu sendiri.

Kebahagiaan adalah proses, proses dari kesabaran, proses dari kemurahan hati, proses dari kasih, proses dari kelemahlembutan, proses dari sukacita, dan proses dari iman. Sembari kita berproses Tuhan kadang menunjukan kejutan-kejutan kecil di dalamnya. Saya ingat salah satu temen main kecil saya yang ayahandanya pergi untuk selamanya, selama proses dia menemani sang ayah di rumah sakit, kesedihan karena sakit ayahnya yang tak kunjung sembuh, hari-hari yang mencekam di rumah sakit, ternyata disitulah Tuhan sediaakan pasangan hidup yang tepat untuknya. Ia bertemu seorang wanita pujaanya yang juga sedang menunggui neneknya di rumah sakit yang sama. Dan walaupun ayahandanya kini telah berpulang ke rumah Bapa, tetapi teman saya itu selalu didampingin sang wanita itu bahkan hingga saat saya menulis artikel ini. Itulah kejutan-kejutan kebahagiaan dalam proses dukacitanya. Dan saya yakin TUhan juga sedang menyiapkan kejutan-kejutan lain dalam proses kita semua.

Jadi saat kita meminta kepada Tuhan sebuah kebahagiaan sejati, siapkanlah dirimu masuk ke dalam proses kebahagiaan itu, karena justru itulah kado termanis dari Tuhan untuk sebuah kebahagiaan sejati.

Saat kita meminta sebuah kebahagiaan

Tuhan akan memberikan Masalah

Tuhan akan membuat kita merasakan kehilangan apa yang paling kita cintai

Tuhan akan menempatkan kita dalam kondisi yang tidak mengenakan

Tuhan akan membuat kita meneteskan air mata

Itu semua bukan karena Tuhan Kejam

Bukan juga karena Tuhan tidak peduli dan tidak dengar doa kita

Tapi itu semua karena Tuhan sedang membungkus kita

untuk menjadi kado bagi kita sendiri dan orang lain

Kebahagiaan adalah proses

Tian_ksw_170713