Mattern_Yvette_9

MEJIKU

Sore kembali disapa oleh hujan

Sekejap namun mendekap

Serintik namun tanpa titik

Hujan di sore yang selalu dinanti oleh pujangga

Sehingga mampu berkata dengan sederhana

..

Hujan sore ini berbeda

Apa yang dinantikan sehabis hujan tak ada

Mungkin karena dengan segera kelabu berubah jadi gelap

Mungkin karena segera malam menyeruak mengganti

Yang jelas tak kulihat sang mejiku

..

Mejiku, begitu ku menyebutnya

Yang sangat kunanti sehabis hujan

Bahkan yang sering tertuang dalam setiap kata dan karya

Kali ini penantianku sia-sia

Tak kulihat si mejiku

Tak dapat kukagum keindahan mejiku malam ini

Taukah kamu begitu indahnya si mejiku

Yang melengkung sempurna di langit

Bak busur sang pahlawan yang menjulang tinggi

Bak lengkung sederhana yang terhias di wajah bumi

Kesempurnaan dari perpaduan warna

Yang melahirkan warna-warni spektrum cahaya

Ingatkan kamu akan mejiku

Bahwa dia lebih dari sekedar indah

Bahwa dia lebih dari sekedar lengkung di langit

Bahwa dia lebih dari sekedar hadir

..

Mejiku adalah sebuah janji

Janji sang pencipta kepada manusia

Kepada diriku dan dirimu

Mengapa sang pencipta perlu berjanji

Mengapa sang pencipta mau berjanji

Mengapa sang pencipta harus berjanji

..

Padahal yah Dialah pencipta segala

Pencipta berarti memiliki hak

Pencipta berarti memiliki kekuasaan

Hak dan kuasa untuk mencipta maupun menghancurkan

Hak dan kuasa untuk memelihara maupun merusakan

Menghancurkan? Merusakan? Bukankah terdengar kejam?

Tapi itulah haknya pencipta

..

Tapi mengapa ia mau berjanji

Janji surga untuk manusia fana

Janji abadi untuk kita yang sering lupa

Janji memelihara untuk kita yang sering merusakan

..

Mengapa ia mau berjanji?

Mengapa ia sudi mengikatkan dirinya ?

Mengapa ia mau?

 …

Jawabannya sederhana

Karena Sang Pencipta sudah jatuh cinta kepada ciptaannya

Karena sang pencipta mengasihi ciptaanya

Karena sang pencipta melihat potensi kasih di ciptaanya

Jadi ia memberi kesempatan

…………. Dengan janji

Oleh Tian_ksw

#230215.1010

boy-siluet1

Nyanyian Ratap

Pagi tadi nyaris saja

Aku memulai hari dengan nyanyian ratap

Ratap akan hari ratap akan kisah ratap akan cinta

..

Taukah kamu betapa megahnya gunung semeru itu

Yang menjulang tinggi di atas pulau jawa

Dengan ketinggian yang sempurna

Mampu melihat dan terlihat sebagai simbol keperkasaan sejati

..

Tahukah kamu betapa dalamnya laut antartika itu

Pada setiap kedalaman yang tak mampu diukur oleh manusia

Yang selalu tersembunyi segala kemewahan dan misteri

Kehidupan yang bahkan jarang terlihat mata

Yang mampu menciptakan keheningan abadi

Bahkan kegelapan nyata untuk masa yang tinggal didalamnya

..

Tahukah kamu betapa luasnya taman baluran itu

Saking luasnya, secepat apapun kamu berlari

Kamu takkan mampu mencapai ujungnya dalam sekejap

Saking luasnya, tanganmu takkan mampu menggapai

Setiap jengkal kehidupan yang ada disana

Setiap helai nafas yang terhirup dah terhembuskan di sana

Setiap lekuk sempurna yang tercipta disana

..

Lihatkah kamu betapa indahnya bintang semalam

Yang mampu mencipta rasa dan mega

Dalam gelapnya puing malam

Yang seringkali orang telah terlena dalam kelelahan

Sehingga tak mampu melihat bahkan mengagumi segala keindahan

Bintang yang berjejer indah membentuk pagar hidup

Bintang yang terlihat acak namun memiliki arti bagi para astronomi

Bintang yang seringkali tertutup tebalnya awan

Namun enggan beranjak pergi menjauh dari tatapan mata

..

Terbesit sebuah pertanyaan sederhana

Ketika diperhadapkan beribu, tidak bahkan berjuta keindahan semesta

Semesta yang tak kunjung tidur

Semesta yang tak kunjung beristirahat

Untuk tetap ada bahkan saat mata terpejam

Siapakah aku ini

Siapakah aku jika dibandingkan dengan mereka

Dalam skala ukur aku sangat jauh dengan megahnya mahameru

Dalam skala volume aku masih sangat jauh dengan dalamnya laut antartika

Dalam skala luas aku masih jauh lebih diukur daripada taman baluran

Dalam skala indah dan megah, cahaya bintang jelas jauh di depanku

..

Siapakah aku ini

Yang mungkin hanya terlihat seperti titik

Tak ubahnya skala pixel dalam urutan terbelakang

Yang tak terkenal dan dikenal

Yang tak tercatat dan dicatat dalam buku pencapaian

Yang tak terelok dan dielok oleh kata dan karya

..

Siapakah aku

Jika dibandingkan dengan semua kemegahan ciptaaanMu

Jika dibandingkan dengan segala keperkasaan ciptaMu

Jika dibandingkan dengan andromeda

Atau jika dibandingkan Eden sekalipun

Dalam diam aku meratap

Dalam diam aku bertanya

Dalam diam aku bernyanyi

Dalam diam aku menunggu

Dan dalam diam ada kata

Dan dalam diam ada jawab

Dan dalam diam ada bisikan

Bahwa dari segala ciptaMu

Akulah yang kau sebut Maha Sempurna

Akulah yang kau sebut lebih dari sekedar baik adanya

Akulah yang kau sebut Indah pada waktunya

..

Bukan dari skala ukur

Bukan dari skala volume

Bukan dari skala luas

Bukan dari skala cahaya

..

Engkau berkata “Sempurna”

Dari skala kasih

 ….Dan dalam diam itu aku tersenyum

Tian_ksw

220415

urban-532454_640

Aku Iri dengan kalian !!

Hai angin

Entah kenapa kali ini aku merasa iri denganmu

Iri dengan hembusan nafasmu

Iri dengan gerak gerikmu

Iri dengan irama dan aromamu

Engkau begitu bebas meliuk di ruang tanpa rongga

Begitu cepat melesat di ruang tanpa waktu

Menjelajahi alam tanpa keterbatasan akan sesuatu

engkau begitu bebas, lepas

engkau dapat menyentuh tanpa terlihat

engkau dapat berbisik tanpa berkata

engkau dapat berlama-lama dengannya

tanpa membuat dirinya jenuh

engkau dapat terus mendengarkan keluh dan kisahnya

tanpa membuat dirinya jengkel

wahai angin jika engkau dapat menyampaikan salamku

tanpa membuatnya marah atau menjauh

tolong sampaikan salamku padanya melalui hembusan sepoimu

..

Hai mentari

Aku juga iri denganmu

Dengan keperkasaan dan kegagahanmu

Yang membuatmu selalu hadir setiap pagi dan penghujung sore

Yang tak kala malam engkau dirindukan

Yang tak kala siang engkau dibanggakan

Cahayamu mampu memantulkan senyum keindahan sempurna

Spektrum warna dari sebuah arti

Yang menjelajah ke dalam setiap ruang

Cahayamu menghangatkan setiap hati yang beku

Setiap mulut yang terkatup

Setiap langkah yang terhenti

Cahayamu mampu membuat bayangnya

Yang selalu dapat kutatap dalam rongga terkecil sekalipun

Wahai mentari, jika engkau mampu menyertainya setiap hari

Dengan cahaya hangatmu, aku titip hangatnya hati ini

Agar melalui hangatmu pesan hati dapat tersampaikan

..

Hai Hujan

Ahhh entah mengapa aku juga iri kepadamu

Kepada setiap tetesmu kepada setiap butir dirimu

Engkau mampu membuatnya teringat akan kenangan

Engkau mampu mendekap erat dirinya dalam rindu

Engkau mampu membuat hatinya mengaktifkan pesona hangat

Walau dinginmu menyeruak masuk ke relung hatinya

Engkau mampu membuatnya menjadi kuat

Karena walau berkali kali engkau membangkitkan kenangan itu

Engkau sedikit demi sedikit menabungkan kekuatan hati

Melalui lembutnya dirimu

Wahai hujan, jika engkau berkenan mampir lagi ke hatinya malam ini

Ijinkan kutitip rindu dan kenang

Yang mungkin takkan membuatnya terkenang

Tapi cukup sekedar membuatnya nyata

Bahwa aku selalu ada menatapnya melalui hujan

..

Hai pantai

Nikmatnya menjadi dirimu

Yang selalu menjadi tujuan

Untuk selalu dikunjung dikala senggang

Yang mampu menangkap peluang saat hatinya berbicara

Entah sedih entah kenang entah senang

Yang jelas saat dia berkunjung ke dirimu

Ia selalu merasa nyaman

Nyaman dengan lembutnya butiran pasirmu

Nyaman dengan suara deburan ombakmu

Nyaman dengan suara burung camar yang bersaut-sautan

Nyaman dengan hembusan sederhananya angin

 Pintaku jikalau ia mengunjungimu lagi,

Sampaikan namaku melalui kata

Sampaikan salamku melalui tanda

Sampaikan hatiku melalui rasa

Melalui tulisan sederhana di ujung pasir

Yang walaupun terkenan ombak

Akan selalu ditulisnya selalu dan selalu

 ……

Ahhhh…. Aku iri dengan kalian semua

@210215

Tian_ksw

wakeup

Bangunlah, Hai Mimpi !!

Malam tadi aku bermimpi

Begitu banyak lampu berkelap kelip di seluruh kota

Merah, biru, jingga dan hijau

Dan sayup sayup nampak sosok yang kukenal mendekat

Mendekat dan semakin mendekat dengan mendekap sebuah cahaya

Cahaya redup nan romantis di kedua tangannya yang halus

Dan senyum yang selalu kudambakan seutuhnya merekah sempurna

Sungguh sempurna

 …

Mimpi berganti latar tak kalah sempurna

Desiran ombak di sisi bahu kiri dan desiran nafas hangat di sisi bahu kanan

Tanpa kata tanpa suara

Mencoba menikmati hangatnya rembulan yang bersinar dengan benderang

Di atas ribuan gallon air yang tetap mempesona dalam kegelapan

Ini juga tak kalah sempurna

Kali ini aku berada di dalam tenda kuning

Sayup sayup kudengar suara memanggil nama

Kubuka perlahan pintu tenda

Dan dengan segera secercah sinar masuk menyerbu ke dalam tenda

Ahhh… ini ranukumbolo

Pemandangan sempurna terbitnya sang surya di tengah bukit yang menghimpitnya

Ditengah danau yang memantulkan keindahan sinarnya

Keindahan itu tak berakhir begitu saja

Karena dengan segera retina mengenali siluet yang sedang menari dan menanti

Dingin yang tak dihiraukannya karena matahari

Dan tangan yang sedia untuk menghangatkan

……… kringggg……..kringgg……..kringgg.…………

Ahhhh bunyi itu lagi

Bunyi yang sering kukeluh dan kubenci

Tapi sangat kubutuhkan

Dan kini tak ada lagi pemandangan sempurna

Dengan segera mereka menghilang dari mata

Kubuka mata perlahan, melihat sebuah ruangan berisi

Berisi banyak barang, debu, kewajiban, dan segala hal nyata lainnya

Oke, aku sudah sadar

Oke, aku sudah bangun

Oke aku sudah siap

Walaupun belum sepenuhnya yakin siap

Mungkin takkan siap untuk melepas semua keindahan dan kesempurnaan

Yah, walau mimpi itu indah aku harus tetap bangun

Aku harus tetap berpindah dimensi

Dimensi keindahan semu melawan dimensi kenyataan yang terkadang pahit

Seperti dua dunia yang dihubungkan oleh sebuah jembatan

Yang tertutup kabut tebal

Seringkali harus berjuang melalui jembatan itu

Harus menyebrang ke dunia yang satunya untuk dapat tetap hidup

Harus meninggalkan dunia yang menawarkan keindahan dan kesempurnaan

Walau dalam semu

Ingin hidup selamanya di dalam keindahan, dalam kesempurnaan itu

Walaupun nantinya aku harus mati di dalam dunia itu

…………………

Siang ini aku bermimpi

TIDAKK !!!!

Siang ini aku harus terbangun

Untuk berani menatap semua kenyataan itu

Walau kadang pahit dan memilukan

Walau kadang susah untuk dilewati

Walau kadang elegi menyertai

Tapi harus tetap kulalui karena inilah nyata

Mimpi hanya membantu kita untuk tersenyum sejenak

Setelah seharian bermuram durjana

Mimpi hanya membantu kita untuk kembali berharap

Dikala kenyataan membuang jauh-jauh harapan itu

Mimpi hanya membantu kita untuk mengenang sejenak

Untuk dapat melangkah maju dalam yakin

Terima kasih mimpi,

Tapi sekarang aku harus bangun !!!

Oleh Tian_KSW

@190215

tumblr_llw48q3aQn1qd6pjzo1_500

Kutukan_14 : Kenang

Hari ini terdengar begitu kata cinta

Entah yang terucapkan atau tidak

Entah yang terlihat atau tidak

Hari ini begitu pandai merangkai kata

Dalam bisikan makna yang kadang terselubung

Entah hanya sebuah kewajiban atau sekedar pengisi

Hari ini begitu banyak kisah

Kisah dalam kesendirian maupun keramaian

Kisah dalam doa yang terjawab maupun belum terjawab

Kisah dalam sebuah misteri maupun sebuah elegi

Yang terangkai manis dalam janjinya

Hari ini begitu banyak kenang

Kenang akan kata, cinta dan kisah

Yang tak terkira akan nampak di depan mata

Memperdengarkan suara yang begitu indah

Dan tanpa malu-malu tak menyembunyikan tatapan mata

Begitu indah kata yang diucapnya

Walaupun hanya sejenak namun tetap teringat

Kata sederhana dalam balutan kertas sederhana

Entah waktu yang mempertemukan

Untuk menguji atau untuk menepati janji

Kata terukir mata menatap

Ketika dibacanya berjejer kata manis

Dari sebuah kewajiban untuk membuat surat

Yang mungkin hanya untuk permainan kecil

Tapi kata itu begitu dalam

Kata itu begitu mengena

Entah buat siapa kata itu

Entah untuk apakah kata itu

Tapi yang kuingat adalah saat kata meluncur ke telinga

Membisikan janji manis

Untuk tetap menunggu di dalam janji Tuhan

Untuk tetap belajar kepada Tuhan

Untuk tetap menunggu akhir dari hujan

Karena siapa tau aku dapat menjadi pelanginya

Itu katanya…

5.-Hujan

Kisahku: Hujan

Sesungguhnya aku tak suka,

Ketika aku dengan rela menjatuhkan diri ke atas bumi

Melintasi awan dengan raut kelabu

Tak kulihat matahari yang selalu tersenyum itu

Sesungguhnya aku benci,

Takkala aku harus memulai perjalananku menyentuh bumi

Tanpa pilihan dan tujuan

Hanya bergerak lurus mengikuti angin

Bergerak ke bawah terbawa gravitasi

Sesungguhnya aku sedih,

Takkala kehadiranku yang selalu membuat kenangan sedih

Kehadiranku yang memaksa manusia pergi mengungsi

Kehadiranku yang selalu membawa petaka

Kehadiranku yang membawa raut marah di muka sebagian orang

Tapi sesungguhnya aku bingung,

Baru saja kemarin aku dengar banyak orang memanggil-manggil diriku

Berharap mampu menyejukan titik tenggorokan mereka

Dikala panas menembus batas kesabaran manusia

Mereka butuh diriku mereka ingin diriku

Namun apa daya…

Saat aku tiba kepada mereka

Dengan segera raut muka berubah

Ada kekuatiran ada keluhan saat aku hendak berkunjung sejenak

Ada gerutu, ada teriak, bahkan doa saat kudatang

Berharap aku kembali lagi ke atas dan tak jatuh ke atas mereka lagi

Apa salahku

Apa dayaku

Aku hanyalah titik kecil kecil dalam sebuah siklus alam

Yang hanya dapat berkunjung ketika mendapat izin

Yang dapat bertemu saat mendekat gravitasi

Tapi dibalik sedihku,

Ada senang yang kukenang

Karena saat aku memasrahkan diri ke gravitasi

Aku melihat ada hati yang terngiang kembali

Akan kisah bahagia di alam pertiwi

Ada lagu yang tercipta

Ada puisi yang terkarya

Ada hati yang terobati

Terlebih dari semua itu,

Aku senang akan pujian

Yang berkata bahwa aromaku seindah cinta pertama

Yang akan selalu dikenang walaupun takkan berulang

Yang akan selalu terjaga, walaupun tak pasti ada

Yang akan selalu terobati melalui mimpi

Ini kisahku

Ini kenangku

Tertanda,

Hujan

1402170659361269408

Tetralogi+1 (Cinta)

Untukmu sang pemberi hidup

Yang mampu menorehkan nafas dalam hembusan sepoi angan

Memberi setiap kesempatan Laksana gulir dadu menyibak

Sebuah pertempuran antara kenekatan dan keberuntungan

Menggali sebuah peluang

Peluang untuk hidup, sakit, mencintai, dicintai

Untukmu sang cinta pertama

Yang memberikan pembelajaran berharga

Untuk selalu melihat detik waktu yang terperangkap dalam mimpi

Dalam indahnya kenang, dalam sakitnya resah

Tak ada yang salah dengan itu

Tak ada yang salah dengan waktu dan mu

Hanya ketidaksiapan belaka

Layaknya telur yang dikuliti sebelum menetas

Layaknya padi yang dipanen sebelum berisi

Cinta pertama yang takkan terlupa

Yang datang saat matahari belum terbit

Dan menghilang saat matahari lenyap

Untukmu sang pemberi sakit

yang tak layak diingat namun selalu teringat

dalam luka yangmenganga

Sehingga tak ada antibiotik manapun yang sanggup menyembuhkannya

Hanya mampu menelan pil-pil penghilang rasa sakit

Atau sekedar menancapkan infus di arteri

Berharap supaya kekuatan datang lagi

Berharap melihat detak dalam detik

Untuk kembali bangkit dari pesakitan

Untuk kembali kuat dalam kehidupan

Terima kasih untuk sakit ini

Untuk waktu, keadaan, dan kesempatan

Dapat tertidur sejenak dalam putih dan dinginnya tembok ratap

Berselimutkan selimut bergaris hawa dingin

Hati yang membeku layaknya ayam boiler

Beku yang membawa kesempatan

Kesempatan untuk melihat bahwa pelangi tak selalu seindah hujan

Untukmu sang penyembuh luka

Yang tak pernah terkira dan terpikir

Akan datang melalui pintu dingin yang jarang dibuka orang

Untuk sekedar menghangatkan tembok sekeliling

Atau menyibak selimut untuk melihat apakah hatiku masih beku

Maaf membuatmu menunggu terlalu lama

Maaf membuatmu melihat ringkihnya diriku

Yang terperangkan dalam sakit dan beku ini

Bukan infus dan obat yang menyembuhkan

Obat takkan menyembuhkan segera

Panas kimiawi takkan menghangatkan segera

Hanya gengaman tanganmu yang kuingat dalam buyar

Sehangat matahari pagi yang terbit di ujung semeru

Yang mampu membuat senyum di wajah pendaki

Karena hangatmu itu pasti bahkan disaat ku pergi

Maaf membuatmu menunggu terlalu lama

Kepadamu sang pemberi cinta

Jangan ambil hal berharga ini

Walaupun kusering kali memintanya

Jangan ambil kesempatan ini

Walaupun kusering kali membuangnya

Karena hanya dengan ini ku bisa hidup

Karena dengan ini kubisa menikmati

Apa yang dinamakan nafas, apa yang dinamakan hangat

Dan teruntuk dirimu

Terima Kasih