DSC_0040

Surat Untuk AL

Hai Al,

Lama tak dengar kabarmu

Apa kabarmu disana

Disini hiruk pikuk membuat kami lelah

Hingar bingar membuat kami bosan

Kota membuat kami terus terjaga

Hai Al,

Ingin rasanya aku kembali

Menikmati sapuan angin yang menyentuh rambut

Melihat matahari pagi terbit di timur

Menggapai bayang pohon bercabang

Menikmati bau embun yang menyentuh tanah

Hai Al,

Kadang kebersamaan itu terlalu mahal harganya

Sampai-sampai kami harus berjuang mendapatkanya

Kadang kesederhanaan itu sulit didapat

Sampai-sampai kami lupa mensyukurinya

Hai Al,

Janganlah teralu keras kepada kami

Kami hanyalah anak kota yang ingin berkunjung

Kami hanyalah ingin menikmati

Kami hanyalah ingin menyapamu

Hai Al,

Dalam dinginmu kami tau kau menyimpan kehangatan

Dalam bekumu kau menyimpan cahaya

Dalam pekatnya kabutmu kau menyimpan rembulan

Dalam hembusan anginmu kau menyimpan pesan

Dan dalam kabutmu kau menyimpat berjuta keindahan

Hai Al,

Biarkan kami

dengan mata ini melihat

dengan telinga ini mendengar

dengan mulut ini berucap

dengan kulit ini merasa

bahwa kau adalah anugrah terindah

yang pernah dilukiskan Tuhan di Indonesia

Bersama dia yang dilukiskan di hati

Untuk Al,

Dari kami Para Pendaki

Salam Lestari

Videonya: https://youtu.be/DinihTBAyyk

Perjumpaan slalu diawali dengan Rindu

“Kapan terakhir kali kamu berdoa?”

“Ahh baru saja saya berdoa makan kok Tuhan, manknya Tuhan nggak dengar?”

……

…..

Tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi suara. Aku merasa yakin bahwa jawabanku sudah benar sudah tepat. Senyum mengembang lebar di bibirku. Tapi sejenak aku terdiam, merenung, aku tau bahwa buka mengenai benar atau tidaknya jawabanku.

“Tuhan, Mengapa Engkau tidak bertanya lagi?”

“Tuhan, Mengapa Engkau tidak berkata lagi?”

….

Dan lagi-lagi tak ada suara, tak ada tanya, tak ada kata. Aku heran bercampur bingung. Apakah ada yang salah dengan jawabanku. Jawabanku jujur kok, karena baru saja sebelum aku membuka laptop dan menulis artikel ini aku memang berdoa. Iyah mendoakan makanan sederhana ala orang yang kelaparan tengah mala, Indomie goreng. Atau jangan-jangan ada yang salah dengan doaku tadi? Ah sepertinya tidak, aku berdoa seperti biasanya, mengucap syukur atas makanan dan berkat. Tak ada yang salah kurasa.

Dan seketika aku berdiam diri saat sayup-sayup terdengar lagu “Where The Love Last Forever” yang dilantunkan lembut di telingaku. Mencoba meresapi setiap nada dan makna yang terlintas ditelinga. Ada perasaan lembut yang menyentuh hati, ada rasa rindu melantukan lagu ini dalam diam dan merdu.

Aku tau Tuhan, aku tau, bahwa makna pertanyaanMu tadi bukanlah sekedar doa rutinitas makan, dll. Aku tau Tuhan bahwa Engkau berusaha menegurku, berusaha menyadarkanku, berusaha memanggil halus namaku. Namun apa daya karena bebalnya hati ini aku sekenanya saja menjawab pertanyaan itu.

Pertanyaan yang harusnya tak segera kujawab dengan jawaban formalitas sudah/belum. Pertanyaan yang harusnya kurenungkan setiap malam. Yah sesungguhnya aku rindu.. Aku sangat rindu waktu-waktu doaku. Waktu yang cukup untuk aku bercerita denganMu. Waktu yang sangat cukup untuk aku berkeluh kesah mengenai hari ini. Waktu yang sangat cukup untuk aku dapat kembali mendengar lembutnya kasihMu yang tercipta untuku.

Aku rindu jam-jam doaku. Aku rindu bersekutu dan erat kembali denganMu. Dan bahkan sepertinya sudah sedari minggu kemarin Engkau mencoba menyapaikan rinduMu kepadaku, melalui khotbah yang cukup menyentuh mengenai ketaatan Daniel. Bahwa Daniel mengalami perjumpaan yang luar biasa setiap harinya. Perjumpaan yang sangat luar biasa dan istimewa selalu berasal dari kerinduan yang mendalam.

Dari kerinduan menjadi perjumpaan. Semoga malam ini aku bisa kembali belajar dari Daniel, belajar untuk setia, untuk taat, untuk disiplin rohani dan kembali rindu untuk berjumpa denganMu.

Malam ini aku belajar

Mala mini Aku Rindu

Malam ini aku taat

Oleh Tian_KSW

1390917637593907443

Kepada Malam untuk Rindu

Malam,

Kau slalu kunantikan

Untuk sekedar mengingatkan atau menegur

Untuk sekedar menghibur dan membuat tawa

Atau untuk sekedar menahan air mata karena haru

 

Malam,

Kau slalu kuinginkan

Karena setiap engkau datang

Aku selalu memiliki pilihan untuk hidup atau bertahan

Untuk maju atau mundur

Untuk mengenang atau dikenang

Untuk melihat dan mencari

 

Malam,

Engkau selalu bercerita

Akan hal-hal menarik disekitar

Akan kisah pagi yang selalu menarik untuk didengar

Akan kisah sore yang selalu menanti untuk diceritakan

Bagaimana hari menyapa bagaimana hari menegur

 

Malam,

Biarkan aku yang bercerita kali ini

Bercerita mengenai pagi

Bercerita mengenai sore

Bercerita mengenai hari

Bercerita mengenai hati

 

Malam,

Untuk berkali-kalinya aku ingin menceritakan ini

Kisah yang selalu terulang lagi dan lagi

Entah karena aku yang membandel

Atau karena Tuhan yang terlampau sayang kepada diriku

Saat kudengar pujian penyembahan didengungkan

Perlahan dan sehalus suara ritme gitar dan string

Saat kudengar doa perlahan dipanjatkan

Saat kudengar suara orang menyembah Tuhan

Saat itulah aku mulai terkenang

 

Malam,

Perlahan hati masgyu mendadak mata sayu

Bukan karena lelah atau sakit

Tapi karena sekali lagi Tuhan sadarkan aku betapa berharganya aku

Sekali lagi Tuhan ingatkan aku betapa rindunya Dia kepadaKu

Betapa inginnya Dia melihatku berjalan bersamaNya lagi

Tinggal dalam rencanan dan rancanganNya

Tinggal dan menjadi karyaNya yang hidup

Tinggal tenang dalam hadiratNya sesering dulu

Tuhan Rindu… Akupun…

 

Malam,

Biarkan detik ini juga aku terlarut dalam penyembahan

Biarkan aku terlarut dalam keintiman

Biarkan aku terlarut dalam kenangan masa-masa Rohkris dahulu

Saat aku dapat merasakan memeluk erat Bapa

Memanggil namaNya berseru kepadaNya

Bercerita mengenai segala hal kepadaNya

Mengoceh banyak hal dan bertanya hal yang sama berulang-ulang

Dalam doa dan permohonan

 

Malam,

Biarlah detik ini menjadi pertanda waktu

Akan kasihNya yang tak pernah habis dalam hidupku

Akan pelukannya yang hangat menyelimuti saat masalah melandaku

Akan kudusnya hadiratNya

Akan indahnya waktu-waktu bersamaNya

Akan rinduNya, Akan KasihNya

 

Aku rindu Tuhan… Aku rindu Bapa…. Aku rindu Engkau

Oleh ksw

 

DSC_0062

Rasa.Rindu.Rona

Untuk Rasa,

Hembusan ufuk timur

Sapuan matahari pagi

Halus deburan debu

Sengat semburan uap

Silau hamparan keindahan

 

Untuk Rindu,

Bersama membangun tenda

Bersama memasak rasa

Bersama menerjang angin

Bersama melukis senja

Bersama tertawa lepas

 

Untuk Rona,

Kilau gemilang matahari

Putih lembut asap kabut

Putih kasar hamparan pasir halus

Hitam pekat kayu terbakar

Warna rona tenda berpadu

Merah jingga rasa cinta

 

Rasa.rindu rona

Alam bercerita

Video on https://youtu.be/AHVqNq68zkE

#RinduDenganAlam

#JelajahPapandayan

Damai-itu-Indah

Saya Ber-HAK !!!

Lucunya negeri ini

Siapapun dapat meminta haknya

tanpa lebih dahulu mengerjakan kewajibannya

siapapun dapat berkata banyak

tanpa dibuktikan dengan fakta

siapapun dapat marah

tanpa peduli duduk soalnya

..

Lucunya negeri ini

Bahkan yang berseragam jarang memberi contoh

Seringnya menimbulkan cibiran dan makian

Padahal merekalah sang penjaga ketertiban

Tapi nyatanya tidak tertib

Padahal merekalah yang harusnya mengerti hukum

Tapi seringnya kebal hukum

..

Lucunya negeri ini

Justru masyarakat kecil yang lebih tau dan mengerti

Dibanding mereka yang belajar hukum tanpa arti

Justru masyarakat kecil yang lebih paham

Akan arti hukum yang menjaga dan mengikat

Justru masyarakat kecil yang menegur

Untuk setiap pelanggar hukum yang justru adalah penegak hukum

..

Lucunya negeri ini

Justru yang berhak semakin teriak lantang

Justru yang mengerti semakin menindas

Justru yang berseragam lebih suka membusungkan dada

Justru yang memiliki kitab undang-undang semakin yakin

Bahwa memaki, menindas dan membusungkan dada di masyarakat

Adalah haknya

Saya berhak!!!

Saya Berhak !!!

Saya Petugas !!!

Ya..ya…yaa…

#sayaprihatin

#Tian_ksw270315

00-pedati-kenangan

Negeri Tanpa Suara

Aku terbangun di sebuah negeri antah berantah

Yang sepengelihatan mata mereka sama seperti ku

Memiliki 2 mata, 2 telinga, 1 hidung, 1 mulut

Dengan rambut yang sedikit pirang

Senyum mengembang yang selalu terlihat

 

Negeri ini hanya berpenduduk sedikit

Uniknya dalam jumlah itu mereka terlihat nyaman

Uniknya dalam jumlah itu mereka terlihat mesra

Dalam jumlah itu mereka terlihat bahagia

 

Uniknya di negeri ini mereka tidak bersuara satu sama lain

Di negeri ini mereka tidak saling sapa dengan suara

Di negeri ini tak ada suara selain angin dan kicau burung

Tak ada ada kata meluncur dari mulut

Mulutpun hanya berguna sebagai tempat singgah senyum

Saat mereka saling bertatap, bertemu

 

Lantas dengan apakah mereka bertanya

Lantas dengan apakah mereka bersapa

Lantas dengan apakah mereka bercerita

 

Ternyata walau tak ada suara

Mereka punya kata

Kata yang selalu mereka tulis

Untuk bertanya, bersapa dan bercerita

Kata itu ditulis dan diberikan kepada yang dituju

Kata itu terpahat manis di dalam sebuah karya

Di dalam sebuah cerita kadang juga prosa

Kata cinta terungkap manis melalui sebuah puisi

Puisi yang ditenung di dalam sebuah lenan halus

Yang nantinya akan diberikan kepada yang sang cinta

Tanpa suara, tanpa canda, tanpa bicara

Hanya senyum menghiasi saat kata sampai kepada pembaca

 

Dalam hening dan sunyi

Ternyata ada sebuah cerita yang layak dibaca

Ternyata ada cinta yang layak disampaikan

Ternyata ada rindu yang layak diceritakan

Tanpa suara dalam kata

 

Lantas sudah berapa kata tercipta selama ini

Sudah berapa cerita yang tersampaikan sampai saat ini

Sudah berapa karya cinta yang terlahirkan sampai sekarang

 

Aku dibawa ke sebuah ruangan besar

Dengan sedert rak-rak dan karya yang berjejer manis

Masing-masing menyimpan sebuah judul yang layak dibaca

Dari tingkat sederhana hingga tingkat rumit

Jumlahnya? Ratusan, mungkin ribuan, ah tak terhingga

Jadi mungkinkah andaikata suara tak dapat menyampaikan maksud

Mungkinkah andai lidah menjadi kaku

Mungkinkah andai tak ada waktu untuk berucap setia dan berikrar janji

Mungkinkah andai semua mulut sudah berkata dusta

Mungkinkah kata dapat tersampaikan dengan tulus

Mungkinkah kata dapat tersampaikan tepat yang dituju

Mungkinkah kata bercerita dengan sendirinya

 

Di negeri ini mungkin

Dan semua bahagia tanpa suara

Karena kata berbicara lebih kuat daripada suara

Karena cinta terdengar lebih nyaring dengan rasa

Karena kata terdengar lebih tulus daripada suara

 

#Kata lebih kuat dari suara

#TIan_ksw210315

 

 

ecee55c452d844aa5b8da820c78120ae_h

Teruntukmu: Pesan Singkat

Aku tau dalam diammu tersimpan banyak pertanyaan

Aku tau dalam tatapmu terungkap sejuta keinginan

Aku tau dalam sunyi mu terungkap jeritan terpendam

 

Aku tau untuk setiap detik yang kauhitung

Setiap hari yang kaulalui

Setiap akhir minggu yang kaunantikan

Yang kadangnya tak kunjung datang

Paling tidak untuk menyapa dan mengungkap

 

Aku tau untuk setiap doa yang kau ungkapkan

Kepada Sang Pencipta yang selalu setia menemani

Dalam rindu dan dalam diam

Dalam harap dan dalam setia

 

Engkau adalah kesetiaan itu sendiri

Kejujuran lugu yang terungkap manis dari setiap candamu

Untuk setiap tawa yang kaupaksa saat jumpa

Untuk setiap tatap yang kaupaksa saat aku berkata

 

Engkau adalah rasa sabar itu sendiri

Sabar dalam menerima sesuatu

Sabar dalam mengharapkan sesuatu

Saat engkau perhatikan dengan seksama setiap ucapku

Gerakan bibir yang kauharap untuk kulakukan

Untuk setiap kata yang antri keluar dari perbendaharaan

 

Engkau adalah anugrah itu sendiri

Karena belum pernah kulihat kesetiaan dan rasa sabar berjalan seiring

Dalam dunia yang penuh tanda tanya

Dalam kata yang tak kunjung berucap

Dalam waktu yang tak kunjung menjawab

 

Engkau bersama dengan anugrah, setia dan sabar itu

Ada dalam suatu dilema

Laksana panah yang siap diluncurkan

Namun tertahan dengan rentangan busur dan tangan pemanah

Yang menanti perintah dari sang komandan

 

Tetapi aku tetap percaya

Anugrah setia dan sabar itu takkan luntur dimakan waktu

Takkan hilang ditelan kelemahan

Takkan layu dimakan usia

 

Aku tak bisa menjanjikan banyak

Karena begitu seringnya mulut berucap kata

Karena seringnya waktu yang menegur

Karena seringnya pikiran yang kalud ini berlalu

Dengan berbagai macam dilemma dan soal

Yang kadang tak kumengerti sendiri

Tapi percayalah

Semua dilema dan masalah itu

Hanya hinggap di pikiran

Takkan sanggup hinggap di hati

Karena hati ini sudah kujaga

Untuk seorang yang adalah anugrah, setia dan sabar

Untuk sekarang dan selamanya

 

Teruntukmu yang sabar menanti

Teruntuk kalian yang setia

Teruntuk Wanita yang mencinta

#Tian_ksw210315