Sebuah gitar tua

guitar

Ceritanya nih, ada seorang musisi yang sangat amat sayang terhadap gitarnya sampe-sampe sang musisi itu menyebut gitarnya sebagai pacar pertamanya. Wow…. romantis banget.

Gitar itu bener-bener diperlakukan seperti seorang kekasih, sebelum memetik dawai gitarnya, tidak jarang sang musisi itu mengelus-ngelus gitarnya bahkan sesekali terlihat berbicara dengan gitarnya, mungkin untuk mencari inspirasi. setelah dimainkan gitarnya dibersihin dan dilap sampai kinclong. Pokoknya disayang banget deh ini gitar.

Jadi sejarahnya, ini gitar adalah pemberian sang maha guru yang mengajarkan musik terhadap dirinya. Gitar ini telah berumur hampir 20 tahun, tetapi tetap tampangnya masih cantik, bodynya masih aduhai dan suaranya masih menggetarkan hati. Banyak lagu telah tercipta melalui gitar ini, banyak cinta telah terucap melalui alunan gitar ini, dan banyak air mata dan tawa ria telah tercipta saat gitar ini bersenandung.

Pokoknya tiada duanya deh…

Tapi tiba-tiba sang musisi membawa pulang alat musik lain, dibungkus case berwarna hitam mengkilap dan baru. Dan pada akhirnya selama seminggu alat musik baru itu telah sukses menggantikan posisi gitar tua tersebut menjadi kekasih sang musisi.

Sang gitar tua hanya bisa termenung dan berdiam diri mendengar sang musisi memainkan alat musik barunya itu. Alat musik yang jauh lebih gagah dari dirinya, lebih baru, mengkilap, memiliki dawai lebih besar dan hanya berdawai 4 yang besar-besar, dan suaranya lebih besar dan garang daripada suara gitar tua itu. Sedih rasanya saat mendengar alat musik baru itu dimainkan, tapi gitar tua tetap merasa gembira karena sang musisi itu berwajah riang dan enjoy.

Satu minggu berlalu, dan tak ada tanda-tanda sang musisi ingin menyentuh dan memainkan sang gitar tua itu. Hingga pada suatu hari sang maestro itu membuka case gitar tuanya dan mulai memeluknya kembali. Tetapi ternyata hanya untuk membersihkan gitar tua itu, mengelap debu-debu yang menempel dan menyemprotkan dengan cairan putih untuk mengkilapkan body gitar tua itu. Setelah puas melihat gitar tua itu, dimasukan kembali ke dalam case-nya dan kembali sang musisi memainkan alat musik yang bernama bass itu.

Sedih rasanya menjadi gitar tua yang terlupakan, yang mungkin tidak akan pernah dimainkan lagi, yang telah tergantikan. Gitar tua merindukan saat-saat dimana dia berdua dengan maestro menciptakan lagu cinta dan lagu untuk Tuhan. Rindu saat-saat jemari sang maestro menyentuh senar dan fret-nya dan menciptakan sebuah nada dan petikan. Rindu saat sang musisi mengajak dirinya berbicara mengenai banyak hal, mengenai iman, mengenai pacar sang musisi, mengenai kesedihannya, mengenai rasa senangnya, dan banyak hal lainnya. Gitar tua rindu saat-saat itu.

Lalu tiba-tiba di suatu malam yang sepi dan dingin, saat pukul 24.00 WIB, yah pukul 12 malam, dimana gitar tua tidak akan melupakan saat itu, tiba-tiba gitar tua dibangunkan dari tidurnya dan mulai dipeluk oleh sang musisi itu. Dan ternyata saat gitar tua melihat wajah musisi itu, penuh dengan genangan air mata dan raut muka penyesalan. Entah apa yang terjadi, yang pasti gitar tua hanya setia saat senar dan setiap fret-nya disentuh kembali dengan lembut oleh musisi itu. Dengan penuh kelembutan musik mengalir, setiap petikan dan setiap nada memiliki arti. Dan sesekali disertai isak tangis dari sang musisi. Dan entah apa yang dipikirkan musisi, apapun itu gitar tua tak ingin dan tak mampu bertanya.

Dan saat-saat terakhir malam itu, dengan perasaan haru gitar tua melihat muka sang musisi itu kembali, tetap berlinang air mata tetapi tanpa raut penyesalan, yang ada saat ini raut penuh syukur ganti raut kekecewaan. Dan gitar tua itupun percaya sesuatu yang baik terjadi malam itu, melalui dirinya.

Dan pagi harinya, gitar tua kembali dimainkan oleh musisi tetapi kali ini musisi sesekali memainkan bass dan pada suatu saat gitar tua diletakan bersebelahan dengan bass yang baru dan mengkilap itu. Dan sang bass hanya berkata singkat “Dengarkanlah..”

Dan gitar tua itupun sadar, bahwa alunan yang tercipta, yang sedang ia dengarkan kini adalah sebuah lagu yang pernah didengarnya malam itu, dan melalui gitar tua itu terciptalah suatu lagu indah dari sang musisi. Dengan penuh senyuman gitar tua sangat senang melihat sang musisi menikmati lagu tersebut, dan dalam hati gitar tua itu, dia sangat bersyukur menjadi alat yang sangat berguna bagi Bapa di surga.

Bapa ampunilah aku

Kuingin bersamaMu lagi

Bapa biarkanlah aku tuk kembali padaMu

Bapa ampunilah aku

Kuingin bersamaMu lagi

Bapa biarkanlah aku tuk menyembahMu mengasihiMu

ksw-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s