Kepada Sang saka merah putih, Hormat Grakkkk !!!!

on

Kepada Sang saka merah putih, Hormat Grakkkk !!!!

Wah, jadi ingat masa-masa saat ikutan upacara bendera. Masa-masa dimana kita berjuang bangun pagi supaya nggak terlambat, berjuang menahan rasa ngantuk dan lapar demi berdiri dan berbaris selama beberapa menit bahkan jam untuk mengikuti upacara. Dan yang paling lucu, biasanya sebelum berangkat kita sibuk sendiri dan bingung nyari topi dan dasi kita…wahhhh…. jadi kangen masa itu…

Apalagi pas inget pernah jadi pasukan paskibra, jadi pengibar bendera, pemimpin upacara, pembaca UUD, pancasia atau teks proklamasi, dan jadi petugas yang lainya. Tapi yang ngga mungkin sih jadi Pembina upacara (hehehhe…kan harus guru or kepsek biasanya…). Deg-deg-annya pas mau mengibarkan sang saka merah putih, takut terbalik, jadinya merah di bawah putih di atas, hehehhehhe.

Yah, walaupun kadang-kadang suka mengeluh juga sih kenapa harus diadain upacara di hari libur nasional ini, kenapa juga harus bangun pagi-pagi padahal liburan kan, trus kenapa juga harus berdiri dan berbaris dengan rapi dengan sikap “siap”, tangan dikepal di samping badan, kaki rapet, dada tegak dan kepala harus menatap ke depan (sikap sempurna..hehehehhe…), ribet banget yah. Giliran ada perintah “istirahat” bukannya duduk atau posisi berleha-leha, tapi tetap aja masih berdiri tegak, harus rapi, Cuma bedanya kedua tangan dikebelakangin dan kedua kaki sedikit di buka ke kiri dan ke kanan…uhhhh… repot… Dan ngga sedikit yang pingsan karena belum sarapan atau pura-pura pingsan biar bisa istirahat beneran di UKS…hehehehhe… masa-masa itu.

Dulu, saat aku menjalani semua itu, aku belum tau kenapa harus begini atau begitu, bahkan cenderung mengeluh dan malas untuk upacara. Jadi inget nih selama kulian 3 tahun, di kampus ngga pernah ikut upacara 17-an, padahal ada lho. Alasan utamanya adalah “kejauhan rumahnya, pak.”..hehehhehe… Masa ke depok cuma buat upacara doank, ogah dah mendingan tidur ‘n ikutan upacara via tivi aja lebih santai. Pokoknya males banget deh ikutan upacara itu, apalagi ikutan jadi pasukan inti pengibar, makasih deh. Soalnya terakhir jadi petugas upacara bendera waktu SMP tuh.

Tapi saat aku mau buat artikel yang berhubungan sama hari kemerdekaan, aku jadi mengingat-ingat dan sedikit merenung tentang upacara bendera. Yang dahulu menjadi sebuah rutinitas yang kadang bikin males, tetapi saat ini memiliki makna yang cukup dalam.

Upacara bendera adalah contoh sederhana dari rasa nasionalisme kita. Pasti semua warga negara Indonesia pernah ikut upacara bendera, paling engga pas waktu sekolah baik TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah. Dulu aku sempat protes ke wali kelas waktu SD, kenapa harus diadain upacara setiap hari senin dan saat 17 agustusan. Wali kelas sih menjawab pertanyaan tersebut, tapi berhubung karena aku nanya bukan karena pengen tau tetapi karena sebel, jadinya jawaban itu nggak aku dengerin. Saat ini aku dapat jawaban itu, jawaban dari pertanyaan yang dulu aku tanyakan hanya karena sebel, karena males ikutan upacara bendera.

Upacara itu adalah sebuah pengorbanan. Klo para pahlawan mengobarkan darah, air mata dan keringat, saat ini kita sebagai penerus hanya diwajibkan untuk mengorbankan keringat aja, melalui upacara. Kita ngga diwajibkan untuk ikutan wajib militer, sehingga kita harus mengorbankan diri kita, mengorbankan mimpi kita. Kita ngga diwajibkan untuk pegang senjata, untuk menembak setiap musuh dengan resiko mati terkena tembakan. Kita juga ngga diwajibkan menyerahkan orang yang kita sayangi dan cintai hanya untuk mati di medan pertempuran. Sedari dulu kita Cuma diwajibkan untuk upacara saja, mengorbankan keringat untuk berdiri selama beberapa menit, sebagai bentuk nasionalisme kita.

Apakah itu terlalu berat ?

Dari perjuangan sederhana seperti ini saja kita sudah merasa males, terlalu berat, bagaimana kita bisa belajar mencintai negara ini. Bagaimana kita bisa bangga menjadi bagian dari negara ini. Bagaimana kita mau punya kerinduan untuk mendoakan bangsa ini. Guys pertanyaan itu bukan saja ditujukan kepada kamu, tetapi juga kepadaku.

Rasanya terlalu terlambat bagiku, membuat tulisan ini dan memahami arti sesungguhnya dari sebuah upacara, karena tidak ada lagi kesempatan untuk aku bisa menikmati perjuangan bangun pagi dan berdiri tegap dengan bangga karena aku bagian dari negara ini. Besok aku hanya bisa berharap bangun pagi dan melihat upacara kemerdekaan dari depan televisi. Tidak ada lagi baris berbaris, tidak ada lagi terdengar perintah dari komandan upacara, tidak ada lagi “hormat grakk” sampai pegel menunggu sang merah putih naik ke puncak tiang sembari diiringi lagu Indonesia raya. Semua hanya kenangan, dan semoga tidak menjadi penyesalan.

Tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Mungkin upacara tidak lagi kita lakukan, tapi aku yakin semangat dan jiwa nasionalisme yang ditanamkan oleh guru-guru kita, oleh orang tua kita dan oleh para peuang kita tetap ada di hati kita. Bangkitkan rasa itu, mulailah merasa memiliki Indonesia, bukan hanya karena kita tinggal di wilayah Indonesia, bukan karena nasib kita lahir di Indonesia, atau kebetulan-kebatulan lain. Tapi banggalah karena Tuhan tidak kebetulan menempatkan kita untuk berada di Indonesia, tentu saja untuk menjadi berkat bagi Indonesia dan menjadi bagian dari Indonesia ini.

Seorang presiden amerika pernah berkata “ Jangan tanyakan apa yang sudah negaramu berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan untuk bangsamu”.

Apa yang sudah kamu lakukan untuk Indonesia ?

Mulailah dari hal paling sederhana, dengan kamu berlutut, mulai berdoa untuk Indonesia. Untuk bangsa dimana kita ada di dalamnya, untuk setiap pulau di dalamnya dan untuk setiap masalah yang dialami bangsa ini, untuk setiap jiwa di dalamnya dan untuk pemulihan yang akan terjadi bagi bangsa ini.

“Bagi bangsa ini, kami berdiri, dan membawa doa kami kepadaMu. Sesuatu yang besar pasti terjadi dan mengubahkan negeri kami, Hanya namaMu Tuhan ditinggikan atas seluruh bumi. Amin.”

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita

Tanah air pasti jaya untuk slama-lamanya

Indonesia pusaka, Indonesia tercinta

Nusa bangsa dan bahasa, Kita bela bersama

sang_saka

By:KSW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s