“tok..tok…tok..”

“Tok..tok…tok..”

Ketukan dari pintu yang tadi sengaja kututup perlahan, dan kukunci, dengan harapan tak ada yang mengganggu.

“Tok..tok..tok…”

Ingin rasanya membuka pintu itu, tapi….. Aku sedang melakukan apa yang Dia tidak inginkan. Rasanya aku harus berbohong lagi. Klik.. gelap seketika…

“Aku mau tidur…” jawabku

“Tok..tok…tok”

“AKU MAU TIDUR !!!”

“Tok..tok..tok…”

“……”

Kubuka sedikit pintu, dengan harapan paling tidak Ia mengintip apa yang sedang aku lakukan. Dengan alkitab di tanganku, dan komputer menyala di depanku. “Ini untukMu…” kataku dalam hati.

Kubuka lagi sedikit pintu, dengan celah yang agak besar, saat kupegang gitar dan memejamkan mata. Ingin rasanya setiap kata dan suaraku terdengar melalui celah yang cukup besar itu. Dan kembali berharap paling tidak Ia mengintip melalui celah itu dan melihatku saat mengatakan “ I love You…”.

Kubuka pintu, berteriak “ mari masuk..”. Ingin rasanya kutunjukan sesuatu yang ada di tanganku kepadaNya, sebuah buku yang sedang kubaca, dan sebuah buku lain yang telah kutulis. Ingin kuserahkan langsung kepadaNya dengan senyum mengembang dan mendengar Dia mengatakan kata HEBAT.

“Tok..tok…tok…” Kembali terdengar ketukan lembut dari balik pintu.

Ingin rasanya berkata bahwa sekarang bukan saat yang tepat, aku terlalu lelah, terlalu pusing, terlalu stress, terlalu sibuk. Tapi aku tidak tega, aku tidak ingin mengatakan itu, Hanya diam jawabanku. Dan saat ketukan itu berlalu, aku menghela nafas panjang.

“Tok…tok…tok…” ketukan itu kembali hadir di saat yang tak tepat.

Di saat sengaja kukunci pintu, menutup rapat pintu itu sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang tau bahwa aku sedang menitikan sedikit air mata, menutup kepalaku dengan guling, dan membiarkan malam berlalu.

“Tok…tok…tok…”

“……”

“Tok..tok…tok…”

Ada sebuah surat menyembul dari bawah pintu yang kututup rapat. Surat dari kertas sederhana, dengan tulisan sederhana, tanpa nama, berbunyi :

“Sayang sekali kita harus dipisahkan oleh sebuah pintu, yang tanpa kau ketahui, ada sebuah lubang kecil di sisi yang satu lagi, dimana Aku bisa melihat dirimu kapanpun.

Ketukan itu bukan untuk mengganggumu, ketukan itu untuk mengingatkanmu bahwa Aku selalu rindu akan dirimu. Bahwa aku selalu melihatmu, peduli denganmu, dan takkan membiarkanmu.

Sayangnya, saat kau menutup pintu itu, menandakan dirimu tidak mau melihatKu, dan tak mau terlihat olehKu. Dan saat kau membuka pintu itu, kamu sangat berharap Aku melihatmu tanpa kau harus melihatKu.

Bukan itu yang kuingini. Bukan pintu yang kuinginkan. Seandainya pintu itu diganti dengan jendela, engkau akan selalu melihat bahwa aku selalu berdiri di sisi ini, melihatmu, berharap Engkau melihatku juga, paling tidak menyadari kehadiranKu.

Karena Aku sungguh mengasihimu, dan takkan kubiarkan dirimu jatuh dalam dosa dan menjatuhkan diri sendiri kepada dosa, yang sama, lagi dan lagi.

Karena engkaulah alasan kenapa Aku selalu berdiri di sini, dan selalu mengetuk saat engkau tutup pintu ini.”

Air mataku menetes, dan seketika aku sadar betapa setianya Dia menungu dan menjagaku.

“Ku akan berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia. Ampuni aku Yesus..”

From deepest my Heart,

Ksw..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s