Jangan Cuma nonton donk !!!

“Mau diperpanjang ?”

Pertanyaan yang langsung disambut dengan bogem mentah dari seorang pemuda. Dan tidak beberapa lama kemudian terjadilah perkelahian sengit, saling pukul dan saling peluk untuk menghindari pukulan, layaknya menonton tinju, Cuma tempatnya di jalanan. Masalahnya sepertinya sepele, senggol-senggolan mobil yang tidak disengaja, hanya saja di tambah sulutan api emosi. Jadilah tinju jalanan yang bisa dinikmati secara gratis oleh banyak orang.

Dan yang luar biasanya adalah, aku dan papa berada di tengah perkelahian itu sebagai penengah. Berusaha melerai dan menghentikan mereka untuk saling pukul.

Hanya berlangsung singkat, tetapi bermakna dalam, bukan hanya bagi kedua “petinju” itu, tetapi juga bagiku. Pengorbanan adalah reaksi spontan dari hati atas keadaan yang terjadi. Dan aku sangat bangga melihat reaksi papa, cepat, tepat dan tegas. Agak menyeramkan juga sih.

Sejujurnya, seandainya aku melihat orang berkelahi di jalan, ataupun akan berkelahi, aku memilih untuk bersimpati aja, caranya adalah dengan melihat/menonton seperti kebanyakan orang, atau minta tolong pihak yang aku pikir berwajib atau mampu menolong, sedangkan aku sendiri memilih untuk hanya diam melihat atau pergi meninggalkan arena itu karena berpikir telah melakukan bagianku, yaitu melapor. Pergi bukan sebagai pengecut, tapi lebih sebagai orang yang cinta damai (hehehhehe…).

Tapi saat melihat reaksi papa yang begitu tepat dan luar biasa, pandanganku mengenai simpati berubah drastis. Bukan hanya sekedar diam mematung atau menonton saja. Bukan hanya sekedar melapor kepada “yang berwajib”, tapi justru bertindak dan langsung terjun melerai. Berani pasang badan untuk melerai, berani bertindak untuk mendamaikan mereka walaupun susah. Berani mengambil resiko terpukul supaya mereka tidak memukul atau terpukul. Ini baru yang namanya pengorbanan.

Papa dengan sigap langsung menjauhkan kedua petinju itu, dan akupun terpaksa ikut membantu melerai, ikut pasang badan, dan ikut bereaksi. Pengalaman pertama melerai orang berkelahi, yang sama sekali tidak aku kenal, eh bukan, pengalaman kedua, hanya yang sekarang lebih berkesan.

Kadang untuk bisa dan terbiasa bereaksi cepat seperti itu tidak mudah. Karena cenderung kita berpikir dahulu mengenai resiko yang akan kita terima saat kita melakukan tindakan itu, dan biasanya pertimbangan terbesar adalah malas untuk ikut campur atau terlibat masalah. Nggak mau repot-repot ngurusin masalah orang, masalah sendiri aja masih banyak yang belum selesai.

Tapi kalau kita berpikir dan membiasakan pikiran seperti itu, aku yakin bahwa makin lama hati kita akan makin keras seperti batu. Rasa kasihan dan peduli di hati kita akan tersingkirkan dengan yang namanya mementingkan diri sendiri. Dan kita akan menjadi sama seperti kebanyakan orang yang hanya sekedar menonton tinju jalanan. Dan mungkin seandainya semua orang berpikir dan terbiasa dengan pikiran itu, kita akan mendapati banyak perkelahian di jalan yang karena ketidaksengajaan akan berakhir kematian, karena nggak ada orang yang peduli untuk melerai mereka. Banyak Smack down jalanan yang bisa ditonton gratis, dan akan semakin banyak para penontonnya.

Lalu dimanakah kasih itu.

Dimanakah kepedulian itu.

Dan dimanakah pengorbanan itu.

Dimanakah kita saat kasih itu diperlukan ?

Dimanakah kita saat kasih menjadi dingin ?

Dimanakah kita saat banyak orang membutuhkan seorang yang berani untuk peduli dan melerai mereka yang sedang berkelahi ?

Yah, hari itu aku belajar bahwa nyawa kedua orang itu terselamatkan karena ada yang cukup peduli dan berani. Ini bukan mengenai orang yang peduli dan berani itu, tetapi mengenai siapa yang telah menjadikan orang itu begitu peduli dan berani, karena telah ada yang mau begitu peduli dan berani untuk berkorban bagi orang itu, Yesus namanya.

Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.

2 Yohanes 1:6

4 Comments Add yours

  1. tukangbakmi says:

    Hmmm…kalo gw kayanya langsung jualan tiket dan buka warungbakmi buat yang nonton…pasti laku^^

    1. Tian says:

      wah, kayaknya bakalan bersaing tuh koh sama warung nasi kucing yang sudah siap sedia dengan menu-menu handal di tempat itu…hehhehee

    2. lunniey says:

      Kalo lu mah emang dimana2 juga cari ksempatan mulu ko^^

      btw ini tulisan buat buletin yah tiung^^

  2. Tian says:

    bukan lun… ni tulisan rangasangan aja, yang dipaksaain supaya smangat nulis ada lage…
    makanya agak nggak karuan gituh deh…hehhehhehe…
    smoga bs memberkati dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s