Mau eksis, jangan lebay pliss..

on

Saat sedang jalan-jalan ke bandung bersama sahabat-sahabatku, ada yang menarik perhatian kami semua. Di perempatan lampu merah, ternyata ada abang-abang yang menawarkan jualannya.

Yang unik bukannya abang-abangnya loh, tapi apa yang ditawarkannya. Klo di lampu merah Jakarta mungkin aku udah sering ngelihat abang-abang jualan korek api raksasa, korek api yang 10 kali lebih besar dari ukuran biasanya. Tapi kali ini yang aku liat bukan hanya korek api gas yang gede itu, tapi juga pensil yang geode. Panjangnya sekitar 3-4 jengkal ukuran tanganku, dan itu pensil agak lebih gendutan.

“Widih, gede banget tuh pensil. Kita beli aja nyok, buat kenang-kenangan.” Kata salah seorang sahabatku

“Ah, buat apaan. Ngapain lagi beli pensil segede itu, nggak bakalan bisa dipake buat nulis, paling buat pajangan doank. Ogah ahh…” Sahabatku yang satu lagi langsung berkomentar dengan cepat.

Tapi bener juga loh, kalau dipikir-pikir ngapain juga tuh abang-abang jualan pensil gede banget yang nggak akan dipake untuk nulis karena pastinya akan susah dan berat. Dan yang lebih bikin bingung lagi, ada aja yah yang mau produksi pensil segede itu, buang-buang biaya aja, dan belum tentu laku. Dan benar dugaanku, mobil-mobil yang sedang ikut mengantre lampu merah baik di depan, belakang, kiri dan kanan sama sekali nggak ada yang membuka kaca untuk membeli pensil itu. Kasihan itu pensil, diciptakan tidak tepat sasaran, dan tidak bisa memaksimalkan potensinya.

Lain halnya dengan nasib pensil yang satu ini. Perawakannya jauh beda dengan pensil yang dijajakan abang-abang di lampu merah bandung itu. Pensil ini tidak memiliki ukuran tubuh yang besar dan gemuk. Rupanya biasa aja, tidak ada warna-warna dan ornament yang melekat di sekeliling tubuhnya. Tidak ada tombol di badannya yang jika dipencet akan memancarkan sebuah sinar berwarna biru. Pensil ini hanyalah pensil yang telah terus menerus dipakai hingga tinggal tersisa sedikit bagian tubuhnya. Warnanya tidak menarik, hanya hijau bercampur hitam dengan tulisan kecil di badannya “2B”. Tidak ada lampu, tombol atau hiasan lain di badannya. Tapi saat pensil ini terselip di tumpukan lembar soal yang berlembar-lembar, sang pemilik tampak kebingungan mencarinya. Bahkan saat ujung pensil ini patah, sang pemilik tidak serta merta membuang pensil ini, tapi justru meraut dan kembali meruncingkannya dengan sabar. Pensil ini tampak berguna dan berharga bagi sang pemilik walaupun terlihat tidak berharga.

Sungguh 2 nasib pensil yang berbeda jauh. Yang satu tampak lebih baik, lebih indah, lebih besar, tapi nyatanya tetap berada di tangan sang abang-abang penjual itu. Tiada berguna. Sedangkan pensil yang hanya terlihat “ala kadar”nya, justru sangat berguna dan berharga bagi pemiliknya. Ironis yah.

Tapi itulah, saat sebuah pensil tidak lagi berfungsi sebagai sebuah pensil. Tujuan utama diciptakan pensil adalah untuk menulis, atau untuk membulatkan jawaban di lembar jawaban, bukan untuk dipajang, dan bukan untuk menjadi tongkat/pemukul baseball. Pensil akan maksimal saat dia digunakan untuk menulis, digunakan untuk melingkari jawaban, saat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Di sinilah pensil dapat memaksimalkan potensinya dan menjadi barang yang sangat berharga.

Sadarkah kita, terkadang kita seperti pensil yang pertama. Berusaha untuk menjadi besar, enak dilihat, dipandang banyak orang, berada di atas panggung, terkenal, tampak indah di luar, dan tampak besar dan kuat supaya dapat diunggulkan. Tapi sayangnya ita lupa bahwa ada maksud yang lebih mulia dari semua itu di dalam hidup kita. Sebuah Tujuan atau mungkin lebih dari sebuah tujuan dimana Tuhan menempatkan kita di dunia ini. Terkadang kita lupa untuk memaksimalkan potensi, menggali talenta, dan mempergunakannya untuk kemuliaan namaNya karena saking sibuknya kita berusaha menjadi besar dan terkenal. Berlomba-lomba untuk tampil di muka umum, di elu-elukan banyak orang, masuk tabloid gossip dan masuk halaman utama Koran. Paling tidak yah orang se-RT kenal nama kita lah. Bahasa kerennya mau eksis. Mau dikenal, dan terkenal.

Loh, berarti salah donk eksis ?? gimana mau jadi garam dan terang dunia kalau nggak eksis ?? ngga gaul donk ??

Weitsss, nggak ada salahnya eksis kok, malah sebisa mungkin kita harus menjadi teladan. Tapi seperti yang di bilang iklan “ Mau Eksis, jangan lebay plisss” begitulah kita harus bersikap. Harusnya justru kita lebih mengeksplore diri kita, melihat jauh ke dalam hati kita, dan visi yang Tuhan taruh di dalam hati kita. Menyadari untuk apa kita ada di dunia ini, dan apa yang menjadi motivasi dan tujuan kita menjalani hidup itu. Baru itu yang namanya eksistensi sejati. Menyadari keberadaan di dunia ini, dan untuk apa ada di dunia ini.

Lakukan yang menjadi bagianmu, kenali dirimu, kenali Tuhanmu, kenali tujuan hidupmu dan jadilah dampak bagi sekelilingmu. Tenang aja, bagian promosi itu bagiannya Tuhan, dan jangan khawatir Tuhan adalah marketer yang handal kok, asalkan kita bisa dipercaya untuk dipromosikan olehNya. Okeh…

Be 100 persen..

By KSW

2 Comments Add yours

  1. lunniey says:

    Nah gitu dooonk akhirnya di update terus blognya niyh… Btw kok gak pasang shoutbox siyh… kan yang laen pada masang tuuwh^^
    btw, pas tuh nemu gambar pensil gedenyaa :p

    1. Tian says:

      hohohoohoho,, shoutboxnya ga bisa lun… dah gw coba berulang kale….
      pas gw searching via gogle, katanya mank klo wordpress itu ga bisa pake shoutbox,, maybe ada saran???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s