“Ngik…Ngik…Ngik..”

Uuuhhhhhh… Sepertinya tidurku kali ini akan terganggu lagi. Hariku akan berulang lagi, dan aku benci mengakui ini,

“ AKU BENCI DIRIKU !!!”

Setiap kudengar suara beberapa orang bercakap-cakap, biasanya berakhir dengan tali pengekang di leherku yang ditarik paksa untuk membangunkan aku dari tidur nyenyak. Aku sangat tau pasti kemana aku akan dibawa dan bagaimana aku diperlakukan.

Beban lagi yang harus kubawa, orang dengan kayu dan cambukan lagi yang aku lihat, jalanan becek dan berlubang lagi yang harus kulalui, suara anak-anak kecil yang mengejekku karena tubuhku kecil mungil dan tidak rupawan, dan sepertinya hari ini akan berakhir dengan pegalnya keempat kakiku, bekas rotan di badanku, peluh di wajahku, ejekan yang bersemayam selalu dari anak-anak kecil itu, dan muka tertunduk saat masuk ke rumahku.

“ Aku masih muda, masih tak berotot baja seperti yang lainnya. Kenapa harus aku lagi ? “

Begitu pikirku saat kedua orang tadi mendekatiku.

Dan benar dugaanku, lagi-lagi aku menjadi korban, lagi-lagi aku menjadi alat bagi mereka, lagi-lagi keringatku akan mengucur deras. Begitu mereka melepas tali tambatku, langsung aku keraskan diriku, sebisa mungkin menarik diriku menjauhi mereka, sebisa mungkin membuat mereka terjatuh karena tidak kuat menariku, tapi apa daya, aku masih sangat muda, tenagaku tak sebanding dengan mereka. Yang ada, semakin aku melakukan itu, semakin sakit leherku dibuatnya. Ditambah rasa kantuk yang masih melanda, aku menurut saja terhadap mereka.

Mereka membawaku kepada seorang pria yang mereka panggil “Guru”, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sekilas kulihat wajahnya yang penuh kasih dan kebijaksanaan itu. Tapi tetap saja Yesus memegang tongkat, hanya saja tanpa cambuk.

Kulihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada barang yang harus aku bawa, tidak ada beban yang harus aku angkut, lalu untuk apa aku dibawa ke sini, ke hadapan sang “Guru” ini ??

Dia mengelus wajahku, memandangku dan tersenyum kepadaku seakan berkata “jangan kuatir”, dan dengan sedikit lompatan kecil, kini Dia sudah berada di punggungku. Dia menunggangiku, bukan beban ataupun barang, tapi orang. Baru kali ini aku merasakan sensasi ini. Aku merasa di percaya, aku merasa dikasihi.

Sedikit berat, tetapi aku mau berjuang untuk berjalan, aku mau untuk tetap melangkah sedikit demi sedikit. Rasa sakit di kakiku menahan bobot tubuhnya tak membuatku berhenti, aku tetap melangkah, aku mau berjalan, karena aku dipercaya olehnya.

Rasanya, jalan ini asing bagiku. Tidak ada lubang di sana sini, tidak ada tanah becek yang akan mengotori kakiku, bahkan ada kain-kain berserakan di tanah, ada juga beberapa baju-baju layak pakai, mungkinkah ini akibat angin yang menerbangkan ribuan jemuran para ibu rumah tangga? Sepertinya tidak, karena ada banyak daun-daun juga di jalan ini, dan aku akan melaluinya, sungguh luar biasa.

Aku menajamkan telingaku, tidak ada kata “Bodoh”, “malas”, “pendek”,”kecil”, “kuntet” atau makian lainnya yang kudengar. Yang ada hanyalah kata yang belum pernah kudengar sebelumnya, berulang-ulang dan sangat keras. “Hosana… Hosana..” seperti itulah kata itu terdengar di telingaku, dan aku sadar, bahwa di kiri dan kananku yang tadinya kosong, kini dipenuhi tatapan mata yang melihat ke arahku diiringi tepuk tangan meriah dan kata ini diulang terus menerus. “ Hossana..hossana….hossana..”

Ada apa gerangan, sedang bermimpikah aku?? Aku merasa begitu berharga dan terharu hari ini. Aku dipercayai, aku dikasihi, aku dielu-elukan?? Oh bukan aku yang dielu-elukan, tapi yang ada di atasku, tapi akupun sudah cukup merasa berharga walau hanya seperti itu.

Hari ini, yang kukira akan berakhir dengan tragis, ternyata berakhir dengan luar biasa. Hari yang kukira akan melelahkan, ternyata menjadi menyenangkan, dan muka tertundukku, kini menjadi muka terangkat dengan air mata bahagia di kelopak mataku.

Siapakah dia ???

dia yang ada di atasku, dia yang menunggangku, dia yang menjadikanku berharga, dia yang membuat keledai muda sepertiku dilihat banyak orang bahkan diceritakan dan dibaca oleh seluruh dunia. dia yang dengan lembut mengelus badanku dengan tangannya, bukan dengan kayu dan rotan, dia yang tersenyum kepadaku dan mempercayaiku, dia yang namanya dielu-elukan, dan dia yang tidak malu menaiki keledai muda yang bodoh dan malas ini.

Aku dengar ada yang memanggilnya guru, ada yang menyebutnya raja, ada yang memanggilnya tuan, tetapi bagiku cukup memanggilnya sahabat, karena baru kali ini aku merasa ada yang mau bersahabat denganku. Dan baru kali ini aku merasakan tangan manusia menyentuhku dan berbicara kepadaku, katanya “ Trima kasih sahabat..”

Dan andaikan kalian menjadi diriku, tidak ada tindakan lain yang bisa kita lakukan selain menatap matanya dan berkata dengan lembut “ ngik….ngik….ngik…” yang artinya “Terima kasih juga sahabatku..”

Ps : Bukan karena keledai itu berharga makanya Yesus mau menaikinya, tetapi justru karena Yesus mau menaikinya, maka keledai itu menjadi berharga. Kita berharga dan bernilai karena Yesus telah bersedia mati di kayu salib untuk menggantikan kita, untuk menebus kita, dan untuk menjadikan kita sahabatNya.  Tak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Lihatlah dirimu, pandanglah dirimu, dan sadarilah bahwa engkau begitu berharga bagiNya.

Meski tak layak diriku

Tetapi kar’na darahMu dan kar’na Kau memanggilku

Kudatang, Yesus, padaMu

(Kidung Jemaat no. 27 bait 1)

Oleh KSW_Foscommunity

5 Comments Add yours

  1. lunniey says:

    Huaaaaaa bagusssss nniiih wat artikel yak! ^^ ichihihihi gua suka cerita yang ngambil dari sudut pandang yang berbeda😀

  2. tukangbakmi says:

    ^^ Artikel lu bagus banget tian…jadi kepikiran, gimana kalo bikin juga artikel tentang ayam yang mesti teriak2 ngingetin petrus ^^ ?

  3. Tian says:

    wahhh.. thanks..thanks… lagi kepikiran tuk berpikir bak keledai…hehehhehhe….
    boleh juga tuh ko, ditunggu artikel ayamnya yak..hahahhahaha

  4. kupukupu says:

    buwaa!😀

    *comment pertama saya di mari*
    lu dpt ide bagus2 dah ka ^^
    manteeeeeph!!

    slamat yaa😀

    salam buat si “ngik-ngik”🙂

  5. Tian says:

    waaahhh,, ada si kupu-kupu nii… mau tak kenalin nggak sama sih “ngik-ngik”, hehehhehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s