Cabe atau garam ???

on

“Jadilah garam dunia”

Itu adalah salah satu pesan Yesus kepada kita semua yang sering kita dengar, sering dikhotbahkan, atau mungkin sering menjadi inspirasi berbagai tulisan. Tujuannya adalah supaya kita menjadi teladan dan memberikan “rasa” dimanapun kita ditempatkan.

Istilah “bagai sayur tanpa garam” membuat fungsi garam terlihat sangat penting. Walaupun harganya terbilang cukup terjangkau atau bahkan ada beberapa yang murah, tetap saja dianggap penting untuk menciptakan atau memperkuat rasa. Begitu pentingnya garam, sampai-sampai seorang ibu akan rela berlari ke toko terdekat untuk membeli garam pada saat dia sedang asyik memasak jikalau garamnya habis.

Rasanya sih memang asin, tapi kalau sudah dipadu dengan berbagai bumbu racikan dan isi yang ada di dalamnya, maka bisa menjadi makanan mewah ala hotel berbintang 5 atau makanan sederhana yang dibuat dengan cinta kasih oleh seorang ibu. Bahkan ada juga lho yang suka “gadoin” garam sebagai camilan di saat iseng,hehehehhhe…

Nah sekarang coba bayangkan seandainya seorang ibu berinisiatif untuk menggantikan kedudukan garam sebagai penyedap dan penguat rasa dengan ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas. Sekadar untuk berinprovisasi, maka garam itu diganti dengan ulekan cabe yang sangat merah merona, dimasukan ke dalam panci sesuai selera (kebetulan selera ibu ini doyan pedas..). Sayur tanpa garam, dan ekstra ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas, apa jadinya yah ? Aku yakin suami beserta anak-anaknya akan segera bergegas untuk pergi ke restoran terdekat tanpa bersuara, hehehhehe…

Dimana-mana kita semua udah tau pastinya bedanya rasa garam sama cabe rawit, sipp…betul sekali, klo garam kana asin, tapi klo cabe rawit pedesnya bukan main. Malahan bisa bikin kita meringis sambil nangis dan sama sekali nggak bikin manis muka kita..hehhehehe… Makanya nggak heran, saat berhadapan dengan makanan ekstra pedas, seringkali kita mengelus-elus perut sambil bilang “Dalam Nama Tuhan Yesus..”

Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan Yesus tidak menyuruh kita menjadi “cabe dunia” tetapi menjadi “garam dunia”. Bukannya untuk “memedeskan” dunia tapi untuk “menggarami” dunia.

“Kok bukannya menjadi garam malah menjadi cabe rawit yang bikin sakit perut yah ?”

Pertanyaan ini terlontar saat aku sedang YM-an dengan salah satu penulis (yang mungkin anda kenal) yang suka “berjualan bakmi di pinggiran jalan” (hehehhe..). Beliau menceritakan mengenai kisah, atau bisa dibilang kesaksian, mengenai seorang yang mendapat siksaan sejak kecil oleh orang-orang yang mengakui dirinya “Kristen”, sampai-sampai dia tidak mau menjadi seorang Kristen dan trauma dengan kekristenan.

Jadi teringat juga dengan cerita Mahatma Gandhi, orang paling berpengaruh di India dan dikalangan penganut hindu di sana, yang kecewa dengan perlakuan orang-orang yang mengaku “Kristen” tetapi sama sekali nggak mencerminkan sikap seperti kristus. Pada akhirnya Mahatma Gandhi kagum kepada Kristus, tetapi kecewa kepada orang-orang Kristen.

Friends, apakah hidup kita lebih pantas disebut sebagai garam atau cabe rawit. Apakah dengan keberadaan kita justru “menyedapkan” lingkungan sekitar kita, atau malah membuat lingkungan kita jadi meringis karena “kepedesan” ?

Berbicara mengenai dampak, itu juga berbicara mengenai karakter kita. Karena karakter itu akan timbul menjadi sikap yang natural saat kita berada di lingkungan kita. Lalu bagaimana dengan karakter kita, apakah itu bisa diteladani ?

Aku seringkali berpikir dan merenung setelah menjalani sebuah hari, pertanyaannya sederhana, “Bagaimana kehadiranku hari ini, apakah menjadi berkat atau kutuk, apakah menjadi teladan atau menjadi sindiran? “

Apakah dengan kemarahanku, orang lain merasa terberkati, atau justru dengan bercandaanku orang lain merasa tersindir dan marah. Selalu ingat, bahwa kita akan selalu disorot oleh dunia, karena kita bukan berasal dari dunia ini. Dan apa yang berasal tidak dari dunia ini akan selalu dilihat oleh dunia ini, entah itu untuk mencari kesalahan atau mencari keteladanan. Berhati-hatilah dalam bertindak, berkata, berpikir, bahkan saat bercanda.

………..Karena kita ini adalah “garam dunia” bukannya “cabe dunia”

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Matius 5:16

Be blessed everyday…

Ditulis oleh KSW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s