Saya akan membacanya BESOK !!!

Jadi ingat ketika seorang temanku memamerkan buku terbarunya, yang dihadiahkan oleh seseorang kepada dirinya. “Saya akan membacanya besok”, itu dia judul bukunya. Ditambah gambar cover depannya adalah orang yang sedang bermalas-malasan sambil memandangi sebuah buku. Unik banget kan !!

Lucunya lagi, waktu aku tanya ke dia apakah bukunya udah di baca atau belum, ternyata jawabannya adalah BELUM !!! Alasannya sederhana, dari judulnya, hahahahhahha…. Ada-ada aja deh…

Karena penasaran nggak dapet pinjaman tuh buku dari dia, aku berusaha mencari di toko buku terdekat, dibeli ?? tentu saja tidak, hanya untuk baca sekilas alias baca gratis..hehehhe… Begitu aku baca buku itu sekilas, ternyata memang isinya mengenai penundaan dan bagaimana cara orang yang malas supaya tidak malas lagi. Tetapi sepertinya yang lebih banyak baca buku itu orang-orang yang rajin dan suka baca buku deh, soalnya jarang orang yang malas suka baca buku, sukanya mah tidur kan, hehhhehehe…

Jangan merasa tersinggung dulu, aku rasa kemalasan hampir pernah dirasakan semua orang deh, bahkan mungkin orang nomor satunya U.S.A Barrack Obama pastinya pernah merasa malas dan memiliki sifat ini. Jadi kayaknya nggak ada yang luput atau kebal dengan yang namanya kemalasan.

Ibarat surat dengan perangko, atau yang lebih modern ibarat HP dengan pulsa, kemalasan nggak bisa dipisahkan dengan karakter yang satu ini, yaitu suka menunda-nunda. Kalo udah males, pasti bawaannya ingin menunda-nunda semua hal. Dan kalo udah menunda suatu hal, pasti rasanya males melakukan hal yang lain. Semakin sering kita menunda suatu hal, semakin besar rasa males melekat di diri kita. Dan semakin besar rasa males itu, maka semakin sering kita akan menunda-nunda segalanya. Akhirnya hidup kita hanya berakhir di kamar tidur, tidur terus tanpa tujuan, atau berakhir di rumah sakit dengan kadar gula yang sangat tinggi.

Males dan penundaan itu bersifat permanent dan berlipat ganda, artinya saat kita melakukan suatu penundaan yang berujung pada kemalasan, sifat itu akan terus melekat dan dapat berulang terus menerus di hari-hari kita. Mungkin hari ini hanya menunda satu pekerjaan, tapi aku yakinkan seminggu ke depan, ada lebih dari 100.000 pekerjaan yang kita tunda-tunda, dan akibatnya males udah jadi bagian dari hidup kita.

Jujur aja, sebagai seorang salesman (bahasa kerennya sih marketing eksekutif…hehehe) yang memiliki waktu di luar kantor lebih banyak daripada di kantor, pernah tergoda untuk mencoba mencuri-curi waktu, yah itung-itung istirahat sejenak di rumah sambil menyantap makan siang. Toh kan masih ada banyak waktu setelah makan siang, dan masih ada hari esok. Akhirnya suatu hari, bulat keputusanku untuk mencoba “trik” ini, mampir ke rumah sebentar menikmati empuknya kasur dan nikmatnya makan siang. Ternyata “sebentarnya” itu bukan semenit dua menit, melainkan berjam-jam, yah sampai tinggal bersisa waktu beberapa jam untuk mengakhiri tugas kantor. Dan tebak, hari berikutnya aku melakukan hal yang sama dengan waktu yang lebih lama. Dan dalam seminggu, kemalasan sukses merebut waktu-waktu kerjaku. Hasilnya omset menurun drastis.

Contoh lain, ada sebuah tugas untuk mengirimkan sebuah hadiah. Seperti biasa, namanya alasan untuk malas, selalu ada aja. Padahal kantor pos cukup dekat dari rumahku, paling sekitar 50 langkah dari kamar tidurku, tapi ternyata hadiah itu masih “stand bye” di kamarku. Wahhhh, alhasil seorang sahabatku mengingatkan untuk segera mengirimkan hadiah itu. Lagi-lagi penundaan berakibat pada kemalasan. Akhirnya aku harus mengeluarkan kocek lebih untuk mengirimkan hadiah tersebut seupaya cepat sampai, ditambah dengan surat permohonan maaf setulus-tulusnya, karena mungkin telah mengecewakan seseorang bahkan lebih (maaf yah…..).

Aku yakinkan, bahwa kemalasan itu bukan hal yang asyik. Terlihat asyik tapi nggak asyik, dan ada resiko yang harus ditanggung akibat hal itu. Yang jelas kemalasan dan sifat menunda adalah karakter yang buruk dan bisa menjadi sebuah batu sandungan bagi orang lain. Kemalasan tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Dan rasanya dunia terlalu penuh untuk ditempati oleh orang-orang yang hanya bermalas-malasan saja.

Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak (amsal 6:6)

JLeeebbbb…. Kena deh sama kata-kata sendiri, yah memang akhir-akhir ini kemalasan sedang berkuasa dengan bebas di diriku dan di waktu-waktuku, tetapi saat kutulis artikel ini, ada sebuah komitmen untuk berubah yang menyeruak masuk ke dalam telinga, pikiran dan hati. Yah aku tau, sekali lagi Tuhan mengingatkanku dan membantuku untuk keluar dari karakter buruk ini. Dan aku mau ajak siapapun juga, yang mungkin masih terikat dengan karakter yang satu ini, yang masih suka menunda-nunda sesuatu, yuk kita buat sebuah komitmen pribadi, bahwa kita mau bangkit dan menghancurkan karakter ini. Kemalasan bukanlah karakter Ilahi, kemalasan bukanlah ciri anak Tuhan, kemalasan seharusnya nggak pernah punya tempat di dalam kehidupan para anak-anak Tuhan.

Bagiku, Tuhan menciptakan dan menempatkan aku di dunia ini bukan untuk bermalas-malasan, karena Tuhan juga tidak menciptakan aku dengan bermalas-malasan.

Jadi kapan saat yang tepat untuk kita buat komitmen dan bangkit dari karakter buruk ini ???

SAYA AKAN MELAKUKANNYA SEKARANG JUGA !!!!

Be blessed,

KSW_Foscommunity

One Comment Add yours

  1. Taufiq says:

    Info yang bagus, terima kasih..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s