Selalu ada Tuhan di kisahku (kembali menulis)

ImageAhh, rasanya sudah lama tak menyentuh tuts-tuts di laptop untuk menulis sebuah karya, menceritakan sebuah kisah. Hampir saja lupa bagaimana memulai sebuah kata untuk menjadikan sebuah kalimat dalam layar putih kosong terpampang di ms.word. Bagaikan seorang  musisi yang lama tak menyentuh gitarnya, dimana jari-jari menjadi melemah karena lama tak bersentuhan dengan senar, Bagai seorang pesepeda yang lama tak menyentuh kemudi sepedanya dan siap meluncur di jalanan tanah penuh liku.

Sebuah kisah harus dimulai dengan sebuah kata, dimana kata tersebut akan bercerita dalam sebuah kisah. Pendeknya alasan saya kangen mengisi lembar-lembar kosong di ms.word ini adalah karena membaca sebuah blog dari teman yang tidak sengaja terbaca, sebut saja bakung. Well, sedikit pengakuan sih saya lagi penasaran sama seseorang euy, seseorang yang agaknya udah lama ketemu tapi baru beberapa hari ini menyita perhatian saya (aih..aih..aih..). Yap, anda benar !! saya KEPO dan alhasil salah satu cara yang ampuh menjawab kekepoan saya adalah internet. Thanks to internet  to give me a way. Cara tersimple adalah ketik nama lengkapnya di google dan kabooom !!! anda akan menemukan berbagai informasi di dalamnya, termasuk blognya. Dan entah kenapa tangan ini iseng memencet-mencet mouse yang berujung pada terbukanya halaman blog si bakung (nama samara lho). Lembar demi lembar, kisah demi kisah, kepedihan, kemarahan, rasa syukur dan lainnya terpampang nyata di blog itu. Yap untaian kisah yang memenui blog itu bagaikan membuka lembaran buku mengenai kisah perjalanan orang itu.

That’s the point, kisah hidup!! Banyak motivator bilang kalau hidup itu ibarat sebuah buku kosong, yang setiap saat dapat kita tulisi dengan kisah-kisah apapun. Correct me, kita yang tulis atau Tuhan yang tulis yah? Well, aku lebih suka menyebutnya kisahku dengan Tuhan, karena ada kalanya saat aku berusaha menulis cerita hidupku sendiri, Tuhan membisikan sebuah kalimat kepadaku, “Itu adalah kisah kita.”

Dan memang benar tak ada satupun kisah yang indah jika tidak ada Tuhan di dalamnya. Walaupun kita seringkali tidak mau menulis “Tuhan” di dalam hidup kita, bukan berarti Tuhan tidak ada di dalam kisah kita. Pengalaman pribadi? Yap anda benar. Berulangkali aku berusaha menulis kisahku sendiri, menulis ulang mimpi-mimpiku, mengarahkan penaku kepada hal-hal yang aku inginkan, bukan yang orang lain inginkan atasku. Menuliskan tokoh-tokoh siapa saja yang akan masuk ke dalam kisahku, dan siapa yang tidak masuk baik sengaja dilupakan atau terlupakan. Menulis dengan tema yang aku inginkan, yang seringkali mengganti kata “panggilan” dengan “karier” atau kata “intimacy” dengan “rutinity”. Akan tetapi saat kisah itu terbentuk, tertulis dan kembali kubaca, tetap kutemukan Tuhan disana, hadir disaat tak terduga, seringkali luput dan tersembunyi dari ego besar kita. Tuhan selalu hadir di setiap detik hidupku.

Sebuah kisah tentang perjuangan mahasiswa yang berlarian kesana kesini memperjuangkan skripsinya, berjuang mendapatkan kelayakannya sebagai sarjana, memperjuangan sebuah kata “Lulus” yang sebenarnya adalah tema dari “karier”, ternyata kusadari bahwa Tuhan selalu ada disana. Menungguiku saat malam kumengetik bab demi bab, melindungiku saat kuberada di jalan menuju depok atau salemba, mengajari dan memberikan hikmat untuk setiap kata yang kutulis, menghiburku disaat sedih dan lelah melanda, dan membantuku melewati “bab niat” yang membuatku menunda. Hingga saat penantian tiba dimana dengan bahagia mampu kulemparkan topi toga yang menempel pada kepalaku.

Tuhan selalu ada, bahkan saat aku tidak menyadarinya. Yang perlu kusadari adalah Dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun, bahkan saat aku meninggalkanya sehari, seminggu bahkan sebulan. Kini layaknya seorang anak kecil yang sedang menonton doraemon, selalu terkagum-kagum dengan alat yang dikeluarkan doraemon dari kantong ajaibnya, begitulah diriku saat kembali merefleksikan kisah-kisah dalam buku kehidupanku dimana setiap kejadian adalah dashyat dan ajaib.

Sadarilah kawan bahwa hidupmu dashyat dan ajaib.

Dengan kesedihan karena ditinggalkan yang terkasihkah maksudmu?

Dengan kesendirian karena hingga menjelan wisuda belum ada pendamping disisimu selain orangtuakah maksudmu ?

Dengan harapan yang tak kunjung datang dan kelihatankah maksudmu?

Dengan kegagalan dan ketidakberuntungan yang selalu datangkah maksudmu?

Yap, aku bilang iya. Karena di dalam semuanya itu Tuhan hadir. Bukan sekedar hadir, tetapi membantu kita melewati semuanya itu. Sama seperti yang pemazmur katakan :

“Aku bersyukur KepadaMu oleh karena kejadianku dashyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Mazmur 139:14

 

090213_Tian_KSW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s