Paradox kebahagiaan Part 1

Image“Berbahagialah orang yang miskin….”

“Berbahagialah orang yang berdukacita…”

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus…”

“Berbahagialah orang yang dianiaya…”

“Berbahagialah orang yang difitnah, dicela dan dianiaya…”

 

Stop..stop..stop… ini tulisannya yang salah apa yang baca yang salah… Masa miskin bisa bikin bahagia? Lah ini lagi orang dukacita disuruh bahagia, ditambah lapar dan haus mana bisa bahagia. Apalagi klo muka bengep-bengep karena dianiaya, trus dijauhin temen karena fitnah yang keji, dicela-cela pula, gimana bisa bahagia… Please donk ahh.. sulit ini, sulittt !!!

No..no..no.. ga ada yang salah dengan tulisannya, apalagi yang baca. Pada saat mau nulis inipun juga saya sempat merenung beberapa jam, isi perenungannya yah sama seperti yang diatas, lah wong menderita gimana bisa bahagia, ngacoo ahh. Sembari bertopang dagu saya mikir terus, garuk-garuk kepala ternyata tidak cukup membantu menemukan jawabannya, sampai akhirnya saya mendapatkan insight mengenai Matius 5, yang dikenal dengan kotbah di bukit. Paradox kebahagiaan.

Apa itu paradox? Wikipedia berkata bahwa : A paradox is an argument that produces an inconsistency, typically within logic or common sense. Yang bisa kita terjemahkan dengan bebas kalau paradox itu sesuatu pernyataan yang tidak masuk akal, karena bersifat bertolak belakang. Tapi om wiki juga bilang walaupun paradox itu tidak masuk akal, tetapi jika dipikirkan secara lebih dalam ternyata ada benarnya juga. Nah loh bingung kan, jadi ini benar atau salah, benar-benar salah atau salah tapi benar. Sulittt… hahahha…

Wuokeh, kita bahas satu per satu. Pertama “Berbahagialah orang yang miskin…” dalam keadaan miskin, tidak berkecukupan, kekurangan di sana sini, hutang menumpuk di sana sini, makan sehari saja susah, ditambah genteng rumah pada bocor, baju sudah using dan tak layak pakai, tidak punya pekerjaan tetap yang berimbas kepada ga ada duit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, trus dimana letak bahagiannya? Mau senyum aja susah, bawaanya ingin meneteskan air mata setiap hari. Dan andaikata setiap tetes air mata itu bisa diuangkan, baru bisa disebut bahagia.

Nope… kalau kebahagiaan itu sebatas materi, coba kita tengok para pejabat dan koruptor yang memiliki uang yang terlihat nggak ada habisnya, mobil setiap bulan selalu ganti, smartphone selalu yang terbaru dan termahal, genteng rumah yang mungkin dari emas 24 karat dan gagang pintu yang dari berlian, tetapi apakah mereka bahagia? Saat KPK slalu memburu rekening-rekening mereka? Saat tuntutan demi tuntutan dari rakyat melalu demo-demo menghantui mereka setiap saat, atau saat mereka dipaksa untuk berbohong “demi rakyat”, apa mereka bahagia? Saya rasa tidak…

Ini kuncinya, ternyata kalimat tersebut belum lengkap, versi lengkapnya adalah “ Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga.” Kuncinya adalah “Di hadapan Allah”. Kebahagian sejati adalah saat kita berada di hadapan Allah, terlepas dari kaya atau miskin. Tetapi kenapa orang miskin yang menjadi topik kali ini? Menurut saya karena semakin kita miskin semakin kita berkekurangan, semakin kita tidak mengandalkan harta kita, semakin banyak doa-doa dan ucapan syukur yang terucap dari mulut kita. Ga percaya, coba perhatikan sesama kita yang berkekurangan, apa yang terucap pada saat kita memberikan sesuatu kepada mereka, selain berterima kasih kepada kita dia juga berterima kasih kepada Tuhan. Ini pengalaman pribadi ajah saat saya tergerak memberikan sesuatu kepada mereka, yang terucap adalah rasa syukur yang tulus terlihat dari raut wajah mereka kepad Tuhan. Coba kalau kita bandingkan saat kita memberikan sesuatu kepada orang yang punya atau mungkin kaya raya, mungkin bisa dikira kita menghina atau malah nyogok. Isinya prasangka buruk ajah.

That’s the point, Semakin kita tidak bergantung kepada harta di dunia, semakin kita berharap penuh kepada Tuhan. Everyday is a Prayday. Karena bagi yang berkekurangan, untuk makan sehari saja dibutuhkan doa, tangisan air mata dan usaha yang tak kunjung putusnya. Dan setelah berkat itu datang, tak terbendung berapa rasa syukur yang diucapkan dengan tulus hari itu.

Saya pernah merasakan memiliki uang, rasanya itu seperti aman dan mampu untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang ada, bahkan kadang sering Impulse buying, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau diperlukan hanya karna ketertarikan sekelebat saja. Dan kadang, sejujurnya saat ada barang yang saya inginkan mampu terbeli dalam hitungan menit atau jam, tidak spontan terlintas ucapan syukur di mulut saya.

Tetapi ada kalanya uang yang saya miliki habis, dan disitu benar-benar terasa perjuangannya dimana untuk makan saja kadang harus mikir dan berhitung mau makan apa, berapa dan apakah duit mencukupi. Pernah jadi anak kos, apalagi anak kos menjelang akhir-akhir bulan, plus jarang pulang karena tugas menumpuk. Yah semacam itulah rasanya. Klo bisa stock indomie aja sebanyak-banyaknya biar irit..hehhe… Tetapi begitu ada teman yang ngajakin makan bareng plus tambahan “ditraktir” wuih rasa syukurnya ga ketulungan deh, bisa-bisa setiap menit terucap rasa syukur itu dalam hati. Pasti pernahlah ngalamin hal itu.

Itulah kenapa dikatakan berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Ingat ada kata dihadapan Allah lho, kenapa karena dengan dihadapan Allah kita akan selalu bersyukur walau berkekurangan, jarang mengeluh karena punya harapan yang pasti, dan selalu setia berdoa kepada yang Pasti-pasti. Dan setelah berkat itu datang, ucapan syukur itulah yang akan mampir di mulut kita. Ga heran di kalimat selanjutnya disebutkan “ Karena merekalah yang empunya kerajaan sorga.” Dekat dengan sorga, Dekat dengan Allah, karena tidak detik yang dilewatkan tanpa memohon dan berharap kepada Allah. Inilah kunci Intimacy. Inilah kunci kebahagiaan.

Hari ini saya belajar bahwa dalam kekurangan sekalipun, jika kita dekat-dekat dengan Allah dan “nyender neng sisine Yesus” kebahagiaan adalah milik kita. Kebahagiaan sejati sesungguhnya adalah ucapan syukur yang kluar dari mulut kita sekalipun kita nggak punya uang, sekalipun kita belum memiliki pekerjaan, sekalipun kita nggak punya mobil atau motor, atau sekalipun hp kita masih esia atau nokia jadul, bahkan mito..hehehe..

Bahagia itu sederhana bung, mampu mengucap syukur di setiap detiknya, berkekurangan maupun berkelebihan. Selamat berbahagia, Be blessed.

Tian_ksw_160713

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s