Paradox kebahagian part 2 : Bahagia adalah proses

Image“Berbahagialah orang yang difitnah, dicela dan dianiaya…”

“Berbahagialah orang yang dianiaya…”

“Berbahagialah orang yang berdukacita…”

Lagi-lagi kita akan bahas mengenai paradox kebahagiaan lagi. Kalau kemarin (part 1) saya mendapatkan kesimpulan paradox kebahagiaan kuncinya adalah rasa syukur dan berharap kepada Tuhan, kali ini kita akan liat sisi lain lagi makna ucapan berbahagia yang Yesus ajarkan pada khotbah di bukit.

Nah yang ini lebih ekstrim lagi, bayangkan kita lagi difitnah, dicela, dianiyaya bahkan sedang berduka cita tapi disuruh berbahagia. Waduh mana bisa om, orang lagi menderita disuruh bahagia, yang ada nangis dan meringis iya.

Siapa yang pernah difitnah, dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, dituduh menyebarkan aib orang, dituduh bergosip dan dituduh yang bukan-bukan. Efeknya itu guys yang nggak enak, pertama kita bakalan dijauhin orang-orang, kedua nama baik dan reputasi kita hancur luluh lantah, ketiga orang tidak akan percaya lagi sama kita dan apa yang kita omongkan, dan yang paling parah adalah kita sama sekali tidak melakukan semuanya itu. Sakit rasanya, sakit…

Dicela? Jarang sih, seringnya nyela orang, hehhehe… maksudnya bukan karena bercanda lho guys, tapi bener-bener dicela-cela parah sama orang-orang yang kita kenal bahkan yang tidak kita kenal. Bahasa kerennya sekarang dibully secara verbal, sapa yang pernah? Tunjuk tangan.. Sejujurnya saya pernah banget dibully, apalagi sewaktu SMP, dimana badan saya masih kecil dan imut-imut, terlihat lemah dan menjanjikan untuk dicela dan dibully, apalagi saya tipikal orang yang menjauhi perseteruan, akibatnya saya semakin di cela-cela karena nggak bisa balas perbuatan mereka. Pokoknya saya tipikal loser boy banget deh waktu smp. Saking loser-nya saya pernah mau bolos sekolah gara-gara takut dikerjain dan dicela-cela atau dibully sama temen-temen. Parah kan… Betapa merananya waktu itu, ingin rasanya teriak “Tiaaann.. Juga Manusia..punya rasa punya hati..”.

Dianiaya, pernah walaupun nggak parah-parah amat sih, paling banter yah ditonjok badannya tapi nggak sampai bonyok, biru dan berdarah. Tapi memang bullying secara verbal terasa lebih menyakitkan lho.

Siapapun pasti pernah berdukacita, entah karena ditinggal orang yang dikasihani, entah karena kehilangan sesuatu, atau karena lain hal. Dukacita sangat berasa efeknya saat kita ditinggal orang yang terdekat dan kita kasihi untuk selama-lamanya. Sejujurnya saya bingung ketika datang ke ibadah penghiburan seorang teman/sahabat yang ditinggalkan orang tuanya ataupun orang terdekatnya untuk selamanya. Karena jujur saja, tidak tau bagaimana harus menyatakan ungkapan turut berduka cita kita, bingung untuk memberikan penghiburan kepada mereka, bingung harus bagaimana untuk dapat ikut merasakan perasaan mereka. Kalau kata orang sih kehadiran lebih berarti dari apapun, tapi kalaupun kita hadir disana tanpa ikut berusaha merasakan dukacitanya saya rasa sih tiada berarti.

Nah kalau kita sudah tau bahkan pernah merasakan sakitnya, sedihnya dan menderitanya ketiga hal itu (aniaya, cela/fitnah, dan dukacita) lantas mengapa kita malah disuruh bersukacita? Bagaimaa caranya tetap berbahagia ditengah kondisi tersebut, lantas juga kenapa justru orang yang sedang merasakan hal itu disebut berbahagia?

Selalu ingat, bahwa kalimat ini belum selesai. Kalimat yang tepat untuk melengkapi semuanya itu selalu frasa ini “ Di dalam Tuhan”. Yap paradox kebahagiaan kali ini kuncinya adalah proses. Bahagia itu adalah sebuah proses, bukan hanya hasil semata. Hal-hal sakit yang membuat kita bersedih itu akan memampukan kita menemukan arti kata bahagia sesungguhnya. Proses untuk bisa menjalani kehidupan berikutnya, proses untuk membentuk karakter kita dan otot-otot rohani kita.

Yang saya rasakan pada saat saya dibully tentu saja menyakitkan, tetapi satu hal alasan saya untuk bertahan dan berusaha tidak menyerah bahkan membalas adalah bukan karena saya pengecut, tetapi karena saya paham bahwa ini adalah latihan sesungguhnya untuk menghadapi dunia yang keras dan penuh tipu muslihat. Saya mampu bertahan karena setiap hari saya berusaha menunjukan kepada diri saya sendiri bahwa saya bukanlah orang lemah, saya mampu bertahan karena saya punya Sumber Kekuatan yang saya selalu pegang setiap saat. Saya dapat bertahan karena saya yakin bahwa sesungguhnya semua orang ditakdirkan untuk menemukan kebahagiaan sejatinya. Di dalam setiap dukacita yang saya rasakan, selalu ada sukacita dan penghiburan yang Tuhan janjikan dan berikan kepada saya. Dalam setiap bully-an dan makian saya yakin bahwa ada rencana Tuhan untuk membentuk karakter saya agar siap menghadapi kerasnya dunia ini. Dalam setiap kesempatan Tuhan selalu memberikan proses untuk saya menemukan arti kebahagiaan itu sendiri.

Kebahagiaan adalah proses, proses dari kesabaran, proses dari kemurahan hati, proses dari kasih, proses dari kelemahlembutan, proses dari sukacita, dan proses dari iman. Sembari kita berproses Tuhan kadang menunjukan kejutan-kejutan kecil di dalamnya. Saya ingat salah satu temen main kecil saya yang ayahandanya pergi untuk selamanya, selama proses dia menemani sang ayah di rumah sakit, kesedihan karena sakit ayahnya yang tak kunjung sembuh, hari-hari yang mencekam di rumah sakit, ternyata disitulah Tuhan sediaakan pasangan hidup yang tepat untuknya. Ia bertemu seorang wanita pujaanya yang juga sedang menunggui neneknya di rumah sakit yang sama. Dan walaupun ayahandanya kini telah berpulang ke rumah Bapa, tetapi teman saya itu selalu didampingin sang wanita itu bahkan hingga saat saya menulis artikel ini. Itulah kejutan-kejutan kebahagiaan dalam proses dukacitanya. Dan saya yakin TUhan juga sedang menyiapkan kejutan-kejutan lain dalam proses kita semua.

Jadi saat kita meminta kepada Tuhan sebuah kebahagiaan sejati, siapkanlah dirimu masuk ke dalam proses kebahagiaan itu, karena justru itulah kado termanis dari Tuhan untuk sebuah kebahagiaan sejati.

Saat kita meminta sebuah kebahagiaan

Tuhan akan memberikan Masalah

Tuhan akan membuat kita merasakan kehilangan apa yang paling kita cintai

Tuhan akan menempatkan kita dalam kondisi yang tidak mengenakan

Tuhan akan membuat kita meneteskan air mata

Itu semua bukan karena Tuhan Kejam

Bukan juga karena Tuhan tidak peduli dan tidak dengar doa kita

Tapi itu semua karena Tuhan sedang membungkus kita

untuk menjadi kado bagi kita sendiri dan orang lain

Kebahagiaan adalah proses

Tian_ksw_170713

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s