Bahagia itu pilihan

ImageSeorang pemuda diberikan pilihan untuk menikmati liburannya. Keluarganya merencanakan untuk berlibur sekeluarga dengan pulang ke kampong halamannya selama seminggu. Sudah lama keluarga ini tidak menikmati family Time karena kesibukan masing-masing. Bahkan di rumahpun seringkali mereka tidak bertemu dan mengobrol santai satu sama lain karena saat pulang sudah larut malam dan segera tidur. Paginya sudah harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengejar kesibukan mereka. Jadi sebenarnya kesempatan liburan bersama ini dipergunakan untuk dapat menikmati waktu bersama yang sudah lama mereka tidak rasakan.

Karena sudah cukup besar dan bertanggung jawab, ayah dari si pemuda itu memberikan pilihan kepada sang pemuda, apakah dia ingin ikut liburan bersama mereka sekeluarga, menikmati waktu kebersaamaan, atau tinggal dirumah sekaligus jaga rumah dan ditinggal “uang jajan” yang lebih dari cukup selama seminggu penuh.

Tidak perlu waktu lama bagi pemuda itu untuk menentukan pilihannya. Dia pikir rasanya nikmat sekali seminggu di rumah sendiri tanpa ada orang tua yang slalu melarangnya untuk pulang larut malam, ditambah lagi sudah ada ajakan dari beberapa temannya untuk  full party selama seminggu ini. Apalagi rumah kosong kan, jadi bebas bisa mengajak siapa saja untuk datang dan menginap di rumahnya. Dan yang lebih bikin senang adalah uang jajan yang jumlahnya sangat-sangat cukup.

“ Okehhlah mending di rumah aja jaga rumah, lebih asyik sepertinya.” Pikir si pemuda.

Jadilah si pemuda itu diberi tanggung jawab untuk menjaga rumah itu selama seminggu. Papa dari pemuda itu sepertinya cukup sedih karena sebenarnya dia berharap bisa menghabiskan waktu bersama anaknya yang beranjak dewasa itu. Yah akhirnya berangkatlah keluarga itu dengan meninggalkan sejumlah uang dalam amplop untuk pemuda itu, ditambah sebuah surat sederhana yang hanya boleh dibuka 1 hari menjelang kepulangan keluarga itu ke rumah.

“Sip… akhirnya ngerasaain sendirian di rumah, bebas sebebas-bebasnya… I’m Freee…..” pikir si pemuda.

Hari pertama sampai ketiga, si pemuda selalu pulang pagi, entah nongkrong di rumah teman-temannya, atau ngedugem seharian atau hanya sekedar nge-soju saja semalaman. Intinya dia ingin melakukan apa yang sebelumnya belum pernah dia lakukan karena larangan orang tuanya.

Hari keempat dan kelima si pemuda mengajak beberapa temannya menginap di rumah, bebas mau ngapain ajah. Mau main kartu sampai malam, karokean sampai tetangga kebrisikan, mau mabok sampai muntah-muntah d irumah, atau mau nonton film Bo*ep sampai bosen.. Bebas sebebas-bebasnya.

Hari keenam, si pemuda tersebut bangun agak siang, karena habis begadang sampai pagi, ditambah pusing karena minuman yang cukup memabukan. Dengan sempoyongan dia jalan ke dapur, mau membuat roti dan segelas susu untuk dia sarapan. Setelah sarapannya siap dia duduk di sofa ruang tv sambil menyalakan televisi.

“ Inilah hidup, inilah yang namanya bebas, inilah yang namanya bahagia.” Ucap dia.

Ketika dia sedang melihat channel berita, ada sebuah berita yang membuat dia mengaga cukup lama. Butuh waktu lama untuk dia bisa sadar bahwa ada telepon yang bordering. Berita di tv menunjukan sebuah mobil kijang LGX dengan plat no B 555 GBU sedang ditarik keluar dari jurang, dan diprediksikan seluruh orang yang ada di mobil itu tidak dapat diselamatkan. Syokk parah…..dan yang lebih membuatnya syok adalah saat dia mengangkat telepon hanya terdengar isak tangis yang ternyata adalah budenya.

“Whattt theee….. Ini ga Mungkinnn !!!” teriak pemuda itu sembari membanting telepon dengan keras.

Sangat mengharukan ternyata keluarga dari pemuda tersebut mengalami kecelakaan saat hendak melewati jalan di pegunungan, mobil tersebut masuk jurang karena sang pengemudi diduga sedang mengirim pesan sehingga tidak sadar di depannya ada belokan tajam.

Dan lima menit kemudian iphone si pemuda itu berbunyi, isi pesannya singkat dan sederhana:

“Hai nak, gimana liburanmu? Apakah kamu bahagia? Karena sepertinya ada kebahagiaan yang kurang lengkap kalau tidak ada kamu di perjalanan ini. Jangan lupa dibaca pesan yang di amplop itu yah. Besok kami pulang.”

Dengan berlinang air mata si pemuda tersebut segera pergi ke lemari untuk membuka dan membaca surat tersebut, isinya pesan sederhana yang berbunyi :

“Bahagia itu pilihan nak, pilihlah kebahagiaanmu dan bertanggung jawablah atasnya.”

Sudah terlambat, sangat terlambat. Pilihlah kebahagiaanmu dengan bijaksana, sebelum itu menjadi pilihan terakhirmu. Bahagia itu pilihan.

 

Tian_ksw_180713

One Comment Add yours

  1. Cukup nambah renungan dan persepsi gue bray. Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s