Mari peduli, Mari berbagi, Mari berkolaborasi

ImageMasih segar dalam ingatan saya ketika membaca warta gereja mengenai arti kebahagiaan. Bahagia yang sesungguhnya saat kita dapat mewujudnyatakan kebahagiaan itu dengan memberi dan peduli terhadap sesama. Sebuah artikel pun meluncur di blog saya karena terkagum-kagum dengan arti sederhana bahagia itu. Yap bahagia itu memberi dan peduli.

Nggak beberapa lama setelah artikel tersebut keluar, saya mendapat tantangan langsung, bukan hanya sekedar menulis tetapi bertindak. Bertindak berarti mau keluar dari zona nyaman, mengaktifkan kepedulian, mau repot, mau susah, dan mau diusik jam-jam tidur malamnya. Bertindak berarti mau menggabungkan diri dengan suatu gerakan nyata kepedulian. Bertindak berarti mau membantu tanpa pamrih, menjadi volentir yang rela woro-woro tanpa dibayar bahkan lebih sering mengeluarkan duit. Bertindak berarti mau ikut memikirkan bersama dan terbeban untuk suatu kegiatan.

Dan sayapun mendapat sinyal hijau untuk segera bertindak dari FB. Bermula dari postingan teman gowes (padahal baru sekali gowes bareng sih) yang berasal dari komunitas koskas yang ternyata memiliki rencana untuk membantu korban bencana alam yang baru-baru ini terjadi di aceh, Lombok dan ambon. “Dibutuhkan sukarelawan”, aha kata itu menarik minat saya, menggugah kepedulian saya dan menginginkan saya segera untuk bertindak. Alhasil langsunglah berkontak-kontakan dengan teman tersebut, nanya ini itunya, dimana kapan dan bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk bergabung.

Setelah ngobrol panjang lebar, dapatlah tanggal rapat perdana hari sabtu di dunkin tebet. Sudah bilang oke dating, ternyata harus berhalangan hadir karena buka puasa bersama keluarga besar. Walaupun sebenarnya alasan utamanya adalah karena masih sedikit ragu dan sedikit malu. Siapa saya sehingga bisa bergabung di kegiatan yang kelihatannya cukup besar. Dan sejujurnya banyak orang yang tidak saya kenal dan komunitas yang baru saya temui. Malu sesungguhnya adalah saat mengajukan diri tetapi ragu akan kemampuan diri. Hingga akhirnya saya batal hadir, dan tuingg, langsung dapat warning dari teman saya tersebut yang ternyata adalah wakil project coordinator dari acara itu. Ditanya tentang kesungguhan, komitmen, dan sejenisnya. Jegeeerrr, pertanyaan ini bak water cannon yang menyemprot tubuh para demonstran, langsung basah kuyup, kesakitan dan langsung kena sasaran. Hanya sedikit waktu berpikir untuk bilang “iya dan Komit” walaupun masih ada sedikit keraguan di hati.

Dan kata “iya dan komit” saya berbuntuk manis dan panjang, ternyata dalam perjalanan persiapan untuk acara ini, saya dipercaya menjadi humas. Bagian woro-woro cari venue, vendor, sponsorship dan media partner, bagian sibuk sebelum acara. Yap, sesuai dengan insting marketing saya..hahaha…

Selain itu saya juga diperkenalkan beberapa teman baru (yang padahal teman gereja tapi baru kenal di kegiatan ini), kenal yang namanya Rollingstone café (maklum ga gaul men…), belajar cara pdkt sama perusahaan buat minta sponsorship, dan yang paling penting bertemu teman-teman yang se-visi dan misi untuk kepedulian. Banyak kisah dimana ada yang memang sudah mendedikasikan dirinya untuk menjadi tenaga medis di papua selama 3 tahun, ada yang memang tergerak untuk misi kemanusiaan sejak 10 tahun yang lalu, ada yang terpanggil untuk bergerak di media social untuk misi pendonoran darah, dan masih banyak lagi. Sungguh cerita, pengalaman dan penguatan yang tidak akan saya dapatkan jika saya bilang “tidak, makasin” di awal.

Dan saat ini, di titik ini, di masa ini,saya tidak akan mundur dari pilihan itu, tidak akan menyesal dengan tindakan ini, tidak akan pernah lagi mematikan kepedulian hati nurani ini, untuk dapat terus membantu sebisa dan semampunya bagi teman-teman yang membutuhkan, untuk kemanusiaan dan kepedulian, untuk sebuah visi “menjadi berkat bagi sesama”.

Sebuah gerakan yang bukan hanya menuntut kepedulian saja, tetapi juga komitmen dan panggilan untuk ada di dalamnya. Sebuah rasa yang mungkin Tuhan pernah tanam di hati kita masing-masing, yang sedikit demi sedikit tergerus karena rutinitas, logika dan pencarian yang tak akan ada habisnya.

Marilah bertindak, marilah peduli, marilah beri pengharapan kepada mereka yang butuh pengharapan, karena kita memang dipanggil untuk menjadi berkat, karena kita dipanggil untuk menjadi peduli

 

Noted: Kegiatan itu adalah @Action4HopeID yang bisa dilihat pada FB (www.facebook.com/action4hopeid) dan twitter (www.twitter.com/Action4HopeID)

Tian_ksw@16082013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s