Kisahku: sang merah putih

ImagePerasaan baru kemarin aku melihat cahaya itu lagi, merasakan lembutnya tangan itu menyentuhku, merasakan kebanggaan yang terkembang dalam diriku. Sejuta harapan untuk sejuta kisah yang kelak akan menjadi sebuah cerita manis. Sebuah cerita yang kelak mampu menggugah semangat dan jiwa para pemuda Indonesia.

Masih teringat saat cahaya menyilaukan itu menyinari diriku, yang telah using dimakan usia, namun tetap terlihat gagah menjulang nyata. Dengan perlahan diriku dikeluarkan dari tempat kediaman yang sepanjang saat kudiami, menunggu dan menunggu. Menunggu waktu yang tepat, menunggu tangan yang tepat untuk meraihku, ya, menunggu cahaya itu lagi. Setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu di ruang dingin, sepi, gelap dan sedikit berbau penguk ini. Akan tetapi setahun terasa begitu cepat saat tangan itu meraih diriku. Ingin rasanya kubusungkan dada untuk dapat mengabdi kepada yang tercinta.

Diriku diusap dengan perlahan, dibersihkan dari berbagai kenangan yang menempel. Kenangan akan lamanya penantian itu. Untunglah diriku masih utuh, terlihat baik, dan dapat dibanggakan. Kalau tidak, akan bernasib seperti saudaraku, yang kisahnya berakhir di lantai meringkuk dalam putus asa dalam keterpurukan karena jejak-jejak kaki yang ditinggalkan pada dirinya. Atau kisah sahabatku lainnya, yang tergolek lemah tanpa daya ketika lubang demi lubang menghinggapi dirinya. Mungkin aku masih lebih beruntung daripada temanku yang diasingkan entah kemana, dimasukan ke dalam sebuah mobil bak terbuka berwarna orange yang membawanya pergi dari hadapanku.

Harapanku sederhana, aku bisa berada di ujung tiang tertinggi itu untuk dapat menyapa cakrawala dan sejuta umat yang mendiami bumi ini. Impianku sederhana, tangan-tangan yang selalu kulihat selalu menempel kepada pelipis dengan mata selalu tertuju kepadaku. Keinginanku sederhana, untuk dapat bertengger lebih lama dari biasanya, melewati hari, minggu bahkan bulan.

Dengan bangga kubusungkan dada ini, mendengar bisikan angin sepoi-sepoi yang berkata “merdeka”, nyanyian hymne yang menggelegar sepanjang waktu, suara gembira anak-anak yang bersaut-sautan. Sesekali kusapa temanku yang agak jauh disana. Sapaan kami sederhana, saat angin bertiup, kami meliuk-liukan badan kami mengikuti irama angin, dan temanku pun yang disana ikut meliukan badannya. Dengan seksama aku pandangi temanku itu, berbeda blok tetapi masih terlihat jelas. Semakin lama teman-temanku semakin sedikit. Beberapa teman yang sederet denganku perlahan mulai menghilang, entah kemana, tanpa kabar, tanpa suara. Terakhir aku menyapa teman diujung blok, sapaan yang sama, hanya saja dia terlihat begitu tidak bersemangat. Dan sekarang diapun ikut menghilang.

Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini, menikmati semilir angin ini. Hujan tak masalah, panas terik sudah biasa, yang penting jangan turunkan aku dari tiang ini, jangan kurung aku kembali dalam ruang gelap, panas dan berbau itu. Aku masih ingin berlama-lama disini. Aku masih ingin mendengar berbagai kisah teman-teman, saudara bahkan kakekku. Kisah yang terbawa oleh angin, dihembuskan dan diceritak kembali oleh angin.

Kisah dimana perjuangan temanku yang dapat berkibar di puncak tertinggi jawa, mahameru. Kisah temanku yang mampu berkibar dengan kondisi basah kuyup dan berbau amis di kapal nelayan, Kisah saudaraku yang mampu berkibar di hamparan bunga edelweiss, kisah sahabatku yang hamper terjatuh karena kencangnya angin pada saat dirinya dibawa naik oleh anak kecil di atas gerbong kereta api, kisah kakekku dimana nyaris saja diturunkan paksa, diinjak-injak, nyaris dibakar, tetapi mampu berkibar kembali di daerah rawan konflik, dan yang paling kusuka adalah kisah moyangku dimana dialah yang mendengarkan pekik kemerdekaan secara otentik, lantang dan berwibawa dari sang proklamator bung karno dan bung hatta.

Tidak, tolong jangan turunkan aku…. Aku masih ingin disini…. Aku sangat menikmati momen ini…. Tidak..tidak.. tidak….

Tetapi apalah dayaku, toh mereka tidak mampu mendengarku, toh mereka juga tidak terlalu bangga memasangku di tiang itu, toh mereka hanya mengikuti tradisi yang berlaku.

Hanya 1 hari waktuku, waktu yang cukup untuk mengenang semua kisah yang ada, menghembuskannya melalui angin, berharap dapat mendengarnya lain kali. Paling tidak aku masih dapat merasakannya, paling tidak aku masih dapat mengharapkannya. Rasa nasionalisme sederhana yang tercermin melalui diriku, walau hanya 1 hari saja, sudah cuku bagiku.

Kini aku harus kembali menunggu, menunggu dalam kegelapan, menunggu dalam kesepian, menunggu penuh harap. Semoga taun esok masih ada yang mau membersihkanku, menyentuhku dan membawaku kembali di puncak pengabdianku, di atas tiang itu kuberkibar.

Dengan tertutupnya pintu ini, dengan menghilangnya cahaya ini, harapanku sederhana, semoga masih ada pemuda yang mencintai bangsanya dalam kesederhanaan, yaitu melalui diriku.

Salam dirgahayu negriku, Merdekaa !!!

—kreekkk—

—gelap—

—sepi—

—harap—

Tian_ksw@180813

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s