Tetralogi+1 (Cinta)

Untukmu sang pemberi hidup

Yang mampu menorehkan nafas dalam hembusan sepoi angan

Memberi setiap kesempatan Laksana gulir dadu menyibak

Sebuah pertempuran antara kenekatan dan keberuntungan

Menggali sebuah peluang

Peluang untuk hidup, sakit, mencintai, dicintai

Untukmu sang cinta pertama

Yang memberikan pembelajaran berharga

Untuk selalu melihat detik waktu yang terperangkap dalam mimpi

Dalam indahnya kenang, dalam sakitnya resah

Tak ada yang salah dengan itu

Tak ada yang salah dengan waktu dan mu

Hanya ketidaksiapan belaka

Layaknya telur yang dikuliti sebelum menetas

Layaknya padi yang dipanen sebelum berisi

Cinta pertama yang takkan terlupa

Yang datang saat matahari belum terbit

Dan menghilang saat matahari lenyap

Untukmu sang pemberi sakit

yang tak layak diingat namun selalu teringat

dalam luka yangmenganga

Sehingga tak ada antibiotik manapun yang sanggup menyembuhkannya

Hanya mampu menelan pil-pil penghilang rasa sakit

Atau sekedar menancapkan infus di arteri

Berharap supaya kekuatan datang lagi

Berharap melihat detak dalam detik

Untuk kembali bangkit dari pesakitan

Untuk kembali kuat dalam kehidupan

Terima kasih untuk sakit ini

Untuk waktu, keadaan, dan kesempatan

Dapat tertidur sejenak dalam putih dan dinginnya tembok ratap

Berselimutkan selimut bergaris hawa dingin

Hati yang membeku layaknya ayam boiler

Beku yang membawa kesempatan

Kesempatan untuk melihat bahwa pelangi tak selalu seindah hujan

Untukmu sang penyembuh luka

Yang tak pernah terkira dan terpikir

Akan datang melalui pintu dingin yang jarang dibuka orang

Untuk sekedar menghangatkan tembok sekeliling

Atau menyibak selimut untuk melihat apakah hatiku masih beku

Maaf membuatmu menunggu terlalu lama

Maaf membuatmu melihat ringkihnya diriku

Yang terperangkan dalam sakit dan beku ini

Bukan infus dan obat yang menyembuhkan

Obat takkan menyembuhkan segera

Panas kimiawi takkan menghangatkan segera

Hanya gengaman tanganmu yang kuingat dalam buyar

Sehangat matahari pagi yang terbit di ujung semeru

Yang mampu membuat senyum di wajah pendaki

Karena hangatmu itu pasti bahkan disaat ku pergi

Maaf membuatmu menunggu terlalu lama

Kepadamu sang pemberi cinta

Jangan ambil hal berharga ini

Walaupun kusering kali memintanya

Jangan ambil kesempatan ini

Walaupun kusering kali membuangnya

Karena hanya dengan ini ku bisa hidup

Karena dengan ini kubisa menikmati

Apa yang dinamakan nafas, apa yang dinamakan hangat

Dan teruntuk dirimu

Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s