Kisahku: Hujan

Sesungguhnya aku tak suka,

Ketika aku dengan rela menjatuhkan diri ke atas bumi

Melintasi awan dengan raut kelabu

Tak kulihat matahari yang selalu tersenyum itu

Sesungguhnya aku benci,

Takkala aku harus memulai perjalananku menyentuh bumi

Tanpa pilihan dan tujuan

Hanya bergerak lurus mengikuti angin

Bergerak ke bawah terbawa gravitasi

Sesungguhnya aku sedih,

Takkala kehadiranku yang selalu membuat kenangan sedih

Kehadiranku yang memaksa manusia pergi mengungsi

Kehadiranku yang selalu membawa petaka

Kehadiranku yang membawa raut marah di muka sebagian orang

Tapi sesungguhnya aku bingung,

Baru saja kemarin aku dengar banyak orang memanggil-manggil diriku

Berharap mampu menyejukan titik tenggorokan mereka

Dikala panas menembus batas kesabaran manusia

Mereka butuh diriku mereka ingin diriku

Namun apa daya…

Saat aku tiba kepada mereka

Dengan segera raut muka berubah

Ada kekuatiran ada keluhan saat aku hendak berkunjung sejenak

Ada gerutu, ada teriak, bahkan doa saat kudatang

Berharap aku kembali lagi ke atas dan tak jatuh ke atas mereka lagi

Apa salahku

Apa dayaku

Aku hanyalah titik kecil kecil dalam sebuah siklus alam

Yang hanya dapat berkunjung ketika mendapat izin

Yang dapat bertemu saat mendekat gravitasi

Tapi dibalik sedihku,

Ada senang yang kukenang

Karena saat aku memasrahkan diri ke gravitasi

Aku melihat ada hati yang terngiang kembali

Akan kisah bahagia di alam pertiwi

Ada lagu yang tercipta

Ada puisi yang terkarya

Ada hati yang terobati

Terlebih dari semua itu,

Aku senang akan pujian

Yang berkata bahwa aromaku seindah cinta pertama

Yang akan selalu dikenang walaupun takkan berulang

Yang akan selalu terjaga, walaupun tak pasti ada

Yang akan selalu terobati melalui mimpi

Ini kisahku

Ini kenangku

Tertanda,

Hujan

10 Comments Add yours

  1. Sasha says:

    Keren koh🙂 …

    1. Tian says:

      terima kasih sha udah berkunjung…

    1. Tian says:

      trima kasih om…

  2. wah keren sob kata2nya
    Mampir ke blog saya dan jangan lupa follow ya
    thx sob

    1. Tian says:

      thanks om, siyap buat mampir

  3. Baru tahu hujan punya perasaan. Hemm.. tapi memang mungkin hujan punya perasaan. Who knows? Hanya mengapa hujannya sedih. Hujan pasti tahu bahwa kehadirannya pasti juga membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Pasti ada terselip juga rasa bahagia dan gembira ketika ia menjatuhkan dirinya ke bumi karena ia pasti tahu bahwa akan selalu ada orang yang bergembira akan kehadirannya..Hujan tidak seharusnya bingung.. karena dia tahu selalu ada dua sisi kehadirannya di bumi..

    Iya ga sih…

    1. Tian says:

      thanks mas sudah mampir.. yah pwnasaran jga sih apa yg dirasa sama si hujab, dikala dia selalu dikeluhkan saat banjir..

      1. Bukankah juga perlu dipertanyakan mengenai apa yang dirasa hujan ketika petani bersyukur dan bergembira ketika hujan turun pada saat musim tanam.

        Personifikasi yang bagus dengan menempatkan hujan sebagai makhluk berperasaan.

        Jujur saja, saya menyukai puisinya…

      2. Tian says:

        Terima kasih mas, iyah hujan disatu sisi memberikan duka, tapi disisi lain memberikan suka… tak ada duka tanpa suka, tak ada suka tanpa duka…

        thanks sudah mampir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s