Kumpulan kehidupan: Tukang rajut, Tukang bunga, Tukang parkir

Pernahkah kamu melihat seseorang sedang merajut

Merenda dalam hentakan waktu

Setia sabar memilin sedemikian benang berwarna –warni

Yang sesekali kusut

Yang sesekali menyebalkan

Yang sesekali membuat kesal

..

Pernahkah kamu melihat seseorang merangkai bunga

Memilah beberapa hal indah untuk mendapatkan yang terindah

Memilih padanan sempurna dalam kesatuan warna serasi

Setia dalam jeli mata untuk memandang keindahaan sempurna

Walau sesekali bunga membuatnya terluka oleh duri

Walau sesekali bunga menolak untuk menjadi indah,

Kemudian layu

..

Pernahkah kamu melihat seorang tukang parkir yang sibuk berpeluh

Dengan kalungan handuk tebal berusaha membantu sesama

Untuk merapikan barisan mobil dan motor

Seorang tua yang memaksimalkan ruang sempit

Untuk bisa membantu para pengguna kendara yang hendak mampir

Bukan tukang parkir yang ada di depan alfa atau indo

Yang sesekali ada namun berulangkali hilang lenyap

Yang hanya meminta tanpa pernah bekerja, yah sesekali meniup peluit

Pernahkah kamu melihat Tuhan yang sedang merenda

Merapikan benang-benang kusut hidup kita

Yang diiringi dengan perasaan keluh dan putus asa kita

Yang kadang tanpa peduli memarahi Sang Perenda

Karena seringnya tidak tau akan menjadi apa

Yang seringnya tidak mudah percaya dan tidak sabaran

Untuk setiap peristiwa yang menimpa

Untuk setiap berkat yang tertuang

Padahal sedikit lagi menjadi sesuatu yang indah

..

Pernahkah kamu melihat Tuhan merangkai bunga

Bunga-bunga tidur yang sering kita mimpikan dengan senyuman

Bunga-bunga masa depan yang disediakan untuk kita

Bunga-bunga waktu yang disusun sedemikian rupa dalam masa

Agar kita semakin percaya akan kataNya

Bahwa Dia takkan pernah merancang masa depan yang tak sempurna

..

Pernahkah kamu melihat Tuhan menjadi tukang parkir

Yang sering berpeluh melihat kita mengeluh

Yang seringnya tersenyum melihat kita sibuk mengamati semrawutnya hati

Yang seringnya memberikan tempat peristirahatan sejenak untuk melepas penat

Yang sering merapikan beban-beban berat hidup kita

Paling tidak masih ada ruang kosong untuk kita dapat mengeluhkan segalanya

Ralat, bukan mengeluhkan, tapi menceritakan segalanya

Dia saja tak pernah mengeluh, haruskah kita mengeluh, haruskah saya mengeluh

,,,

Saya pernah melihat semuanya itu

Dibungkus rapi dengan sebuah pita

Dan bertuliskan kata sederhana: “Kehidupan”

-k-

 

2 Comments Add yours

  1. Mereka orang terhebat dimana mengalahkan rasa berkumpul dengan keluarga demi sebuah tugas yang mulia, semoga selalu sehat🙂

    1. Tian says:

      Setujuu… the real hero…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s